DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
99. SEBUAH UNDANGAN


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


"Bos Ace, ma-maafkan aku, Fawn bilang dia tidak akan datang." Vera berujar dengan kegugupan. Panik di matanya kentara.


Gadis itu, semenjak aku mengetahui hubungannya dengan Anggara, dia menjadi sangat takut padaku. Seolah-olah aku akan memecatnya, atau lebih buruk, mencongkel otak keluar dari telinganya. Yang tentu saja--, mampu kulakukan, tapi untuk apa?


Aku akan membiarkan Anggara bermain-main dengan Vera. Aku ingin melihat sejauh apa si tolol Anggara itu mampu bermain di belakang Evan Caspian? Sebesar apa ia mempunyai kontrol di dalam aliansi keluarga mereka?Karena jujur saja, bila Evan tau apa yang Anggara lakukan--aku percaya Evan akan meminta keduanya berpisah dengan segera, Vera dan Anggara.


Evan membenciku dan segala hal yang berkaitan padaku, yaitu Vera.


Aku sudah memperhitungkan segalanya, bahkan sebelum aku melihat mereka di acara ulang tahun Callum Rashid, aku sudah tau keduanya mempunyai kaitan yang cukup rumit. Aku tidak bodoh, juga--aku mempunyai Margot sebagai saudara. Wanita itu memahami hubungan Vera dan Anggara hanya dengan cara keduanya saling melemparkan tatapan mata. Itu tidak mengejutkan lagi.


Mengesampingkan masalah Vera juga, aku punya urusan yang lebih penting. Rusaku sudah menolak ajakanku untuk bertemu. Aku tidak menyukai ini. Padahal aku sudah mempersiapkan diriku dengan sempurna agar bisa bertemu dengannya!


"Apa Fawn mengatakan hal lain?" Aku melempar tatapanku kepada Vera, setelah sejak tadi asik menatap kepada pasir yang luruh turun di jam pasir kacaku. "Alasannya mungkin?"


Aku percaya Fawn adalah gadis dengan pemikiran yang terbuka. Dia mungkin agak tolol di sana-sini, tapi dia mempunyai ketajaman untuk membaca situasi. Dia pasti tau kalau hubunganku dan Indira bukan sesuatu yang lebih dari simbiosis mutualisme. Aku tidak mungkin menyukai Indira. Gadis berkepala batu dengan IQ di bawah minus itu bukan seleraku sama sekali.


Fawn mungkin cemburu, tapi dia tidak mungkin memutuskan untuk menghindariku selamanya, kan?


"Dia mengatakan selamat tinggal dan memblokirku. Aku tidak bisa menghubunginya lagi setelah itu. Aku juga berusaha menghubunginya menggunakan handphone Haru, tapi nihil. Sepertinya dia mematikan ponselnya."


Jadi dia memang memutuskan menghindariku.


Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Aku harap Evan Caspian tidak menyentuhnya, karena jika dia berani melabuhkan ujung jarinya di rusaku, dia akan mati. Serius, dia akan mati hari ini!


"Baiklah, kau bisa pergi." Aku mengusir Vera dari kamarku. Buyar sudah semua rencanaku hari ini. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku benci pada fakta bahwa kami berpisah dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Aku benci karena, hal-hal buruk itu akan menghantui benak Fawn.


Aku tidak mau dia berpikiran yang macam-macam dan hilang fokus dalam pekerjaannya.


Aku harap Indira serius saat dia mengatakan Fawn adalah saudaranya, dia harus melindungi Fawn.


Oh, dan aku?


Karena sekarang aku sudah mempunyai waktu luang..., haruskah aku menyerang Evan Caspian sekarang? Aku percaya si keparat itu belum membayar ganti rugi karena sudah mencoreng imejku di sosial media.


...----------------...


...FAWN pov...


Bunyi letusan senjata bersahutan di ruang latihan menembak tersebut. Earphone yang menyumbat kupingku tidak sepenuhnya menutup suara dari luar. Bunyi desingan peluru yang melaju menghantam papan target masih samar-samar sampai ke telingaku. Aku menembak papan target beberapa kali sebelum menaruh pistolku di atas meja. Mataku agak menyipit, menatap kepada papan target. Hasil tembakanku mengenai sasaran di tempat yang sama, berulang-ulang. Aku merasa bangga pada ketepatanku dalam menembak yang belum luntur sama sekali.

__ADS_1


Aku senang sudah kembali pada aktivitas ini. Sudah kembali mengabdikan diriku pada profesi yang sudah kupilih sendiri, seorang bodyguard.


Omong-omong, sudah seminggu berlalu sejak nona Indira pindah ke kamar tuan Evan. Sejak saat itu juga, aku belum bertemu dengan nona Indira. Aku dan pengawal lain, termasuk Aidan kehilangan pekerjaan kami. Karena tidak punya tugas yang spesifik selain mondar-mandir tidak jelas di rumah besar ini, aku memutuskan untuk mengasah skill-ku saja.


Aku berlatih menembak, melakukan sparing dengan Joseph dan bodyguard lain, mengawasi perekrutan bodyguard baru di rumah itu, dan terkadang aku hanya akan menemukan diriku duduk-duduk di cafetaria khusus pekerja di rumah ini. Minum secangkir kopi dan pikiran dipenuhi oleh Ace lagi.


Aku penasaran tentang kabar pria itu, tapi aku tidak bisa bertemu dengannya.


Tidak dengan segala kekacauan yang ada.


Tuan Evan kelihatannya marah lagi hari ini. Kudengar, proyek pembangunan hotelnya di Selatan gagal karena sebuah media mengekspos korupsi yang terjadi di perusahaannya, menemukan transaksi ilegal yang terjadi di sana dan paling parah adalah, semua artikel itu membuat para investor menarik investasi mereka dari Clubs. Mereka tidak ingin terkena noda yang sama di nama mereka.


Aku pikir itu adalah pilihan yang baik, tapi tuan Evan pasti rugi besar. Padahal pembangunan hotel itu sudah jadi sebagian.


Tidak heran kalau dia melempar laptop-nya dari lantai dua kemarin. Seorang bodyguard yang berjaga di lantai pertama menggosipkan berita itu padaku saat kami sparing. Katanya dia sangat terkejut pada lemparan tuan Evan, ruhnya sampai terkeluar dari tubuh.


Itu lucu, dan disaat bersamaan memprihatinkan. Aku tidak tau kalau tuan Evan adalah pria temperamental.


"Fawn," seseorang menegurku ketika aku keluar dari tempat latihan menembak. Masih memperbaiki gulungan jasku, aku melihat ke arah Aidan yang hari ini tampil dengan agak berantakan.


"Ada apa?" tanyaku.


"Bos Evan memanggilmu."


"Ya, dia berada di ruang kerjanya." Sialan, apa lagi maunya sekarang?


"Baiklah," aku tidak bisa menolak.


Pada akhirnya, setelah menyematkan pistol kembali ke punggungku, aku melenggang menuju lantai dua. Kepada ruang kerja tuan Evan yang saat itu anehnya terbuka. Sepertinya dia mempunyai tamu.


Aku berdiri di dekat pintu dan menginterupsi apa pun yang tuan Evan sedang bicarakan di dalam dengan ketukan.


"Oh, Fawn. Masuk." Tuan Evan memberiku ijin.


Aku melenggang masuk. Semakin langkahku mendekat kepada meja kerja tuan Evan, semakin jelas pula punggung pria yang kini membelakangiku. Aku mendekat ke sana dan merasakan lidahku kelu dan kakiku menjadi kaku. Mataku melebar terpana saat sosok yang duduk di bangku putar itu--memutar tubuhnya agar menghadap ke arahku. Menyapaku.


"Fawn," suaranya yang ramah dan jenaka membuat kerongkonganku kering seketika.


"Kalian kenal?" tuan Evan bertanya, aku terkejut dia tidak mengetahui apa-apa. Apa ini artinya orang ini--Jemaine Emery belum mengatakan apa pun padanya?


"Tentu saja aku kenal. Dia adalah bodyguard Indira, bukan?"


"Huh, ya."

__ADS_1


"Dia sangat cantik, sulit mengalihkan perhatianku darinya."


Evan meninggikan sebelah alisnya dan serius, aku ingin menendang Jem dari bangkunya saat ini juga. Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia datang untuk mengkhianati Ace? Apa dia belum jera?


"Fawn, aku punya tugas untukmu."


"Ya?"


Tuan Evan mengeluarkan sebuah undangan dari laci mejanya, sebuah undangan dengan tinta berwarna emas terukir di atasnya. "Aku mau kau menyerahkan undangan ini ke kediaman Hunter."


"HAH?"


Apa aku tidak salah dengar? Ada apa dengan undangan ini yang tiba-tiba?


"Aku yang menyarankan ini, jujur saja." Jem angkat suara.


"Tu-tunggu, kenapa aku?" Apa mereka tidak punya orang lain yang bisa diperintah? Aku bukan burung hantu, keparat!


"Kau satu-satunya bodyguard Indira yang tidak punya pekerjaan, kan?"


"Joseph juga."


"Joseph pergi ke kediaman lady Mikoto di Barat."


"Hah? Tapi, kenapa aku..., maksudku, kalian bisa menyuruh Rishan."


Juga, kenapa tiba-tiba tuan Evan mengundang Ace. Undangan apa?


"Ini adalah pertemuan untuk membahas bisnis, Fawn." Jem seperti membacaku. "Kau satu-satunya orang yang tidak akan masalah kalau pergi ke kediaman Hunter."


"Kenapa?"


"Karena kau adalah orang Anggara, pengetahuanmu mengenai tempat ini sedikit. Kalau kau mati di sana, aku tidak akan rugi apa pun." Evan duduk di mejanya. "Juga, bukankah kau hanya menganggur belakangan ini. Lakukan pekerjaanmu dan berhenti membantah. Rapat ini sangat penting."


"Bukankah ada aturan untuk tidak saling menyentuh bodyguard dari keluarga lain?" Aku mencicit. Seingatku, ada perjanjian yang mengatakan kalau salah satu keluarga menyakiti orang-orang dari keluarga lain ketika status mereka berdamai, hal tersebut mampu menciptakan pertikaian.


"Aturan itu hanya berlaku ketika situasi sedang dalam keadaan damai dan aman."


"Apa itu artinya sekarang sudah tidak?"


Tidak, jawabannya adalah tidak.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2