
...ACE pov...
...----------------...
Sofa beludru yang terpajang di dekat jendela itu sudah menjadi tempat favorite Fawn untuk berdiam diri. Ketika dia membuka mata dan selesai membersihkan dirinya, dia akan diam di sofa itu untuk beberapa waktu yang lama. Belakangan ini, posisi favorite-nya adalah memeluk lututnya sambil merenung menatap keluar jendela.
Aku tidak tau apa yang Fawn pikirkan atau rasakan sekarang, dan mengingat apa yang terjadi pada kami terakhir kali--aku tidak mau tau lagi. Aku takut keingintahuanku akan membawa hubungan kami lebih buruk daripada yang terjadi saat ini.
Ketidaktahuan adalah keberkahan, kurasa. Mengetahui betapa ia benci berada di sisiku hanya membuatku terluka. Aku hanya ingin percaya bahwa ia akan berada di sisiku selamanya. Itu lebih melegakan dan menenangkan, bahkan untuk sebuah kebohongan.
Kejujurannya terlalu menakutkan.
"Permisi," Felix mengetuk pintu yang terbuka sambil membawa senampan makanan berisi puding, biskuit dan susu. Aku mempersilakan Felix masuk dan memperhatikan dalam diam bagaimana dua musuh bebuyutan itu kembali bertemu. Fawn tidak pernah menyukai Felix--entah kenapa, dan Felix sama saja.
"Nona Fawn, aku membawakanmu cemilan." Felix berujar kepada Fawn sambil menaruh nampannya di atas meja. "Kalau kau ingin sesuatu kau bisa--"
"Tidak ada," tukas Fawn. Suaranya datar, sedatar ekspresinya ketika melihat sepiring makanan yang kerap membuatnya berbunga-bunga. Memperhatikan reaksi Fawn saat itu juga, aku lagi-lagi merasakan beban berat jatuh di dadaku. Apa yang bisa membuatnya kembali riang, aku tidak tau. Aku tidak mengenal Fawn sebaik itu.
"Kalau kau ingin memesan sesuatu nanti--" Felix bersikeras menyelesaikan ucapannya, dan itu membuat Fawn menatapnya dengan kekesalan.
"Aku bilang tidak ada!!!"
"Felix, tinggalkan saja dia." Pada akhirnya, aku ikut angkat suara. Sementara Felix pamit undur diri dari hadapanku, aku melangkah mendekati sofa tempat Fawn berada sekarang. Dia memperhatikanku dengan sepasang mata rusanya. Kebencian dan amarah yang terpendam di manik cokelat itu sangat kentara. Dulu aku menyukai api yang berkobar di matanya, tapi sekarang..., pemandangan itu menyakitkan dan melelahkan. Aku lebih suka dia tersenyum.
"Apa kau tidak kelaparan?" Aku mengajak Fawn bicara dan duduk di depannya. Mataku menyorot kepada nampan makanan sebelum naik kepada sepasang mata oreo-nya yang berbinar waspada. "Kau juga tidak menghabiskan makananmu tadi siang."
Jeda beberapa waktu sebelum Fawn menjawabku. Dia hanya merenung di sana, wajah menatapku seperti menatap makhluk luar angkasa. "Aku tidak kelaparan." sahutannya seperti bisikan.
"Apa kau yakin?"
"Kenapa aku tidak yakin dengan jawabanku sendiri?"
"Fawn..., aku hanya ingin kau makan, oke? Kau tau siapa yang rugi kalau kau jatuh sakit, bukan?"
"Apa, siapa lagi yang mau kau bunuh supaya aku menurutimu?"
Sepertinya Fawn salah menangkap maksud ucapanku. Tentu saja, ada peraturan di antara kami kalau-kalau dia berusaha bunuh diri atau menyakiti dirinya sendiri, tiga orang terpenting di hidupnya akan kulenyapkan. Tapi..., tapi bukan itu maksudku barusan. Aku hanya ingin mengingatkan kalau dia jatuh sakit, dia yang akan merasakan sakit itu sendiri. Menyakiti dirinya sendiri dengan tidak makan tidak akan membantunya sama sekali untuk bisa melunakkanku dan pergi dari sini! Aku hanya mencemaskannya.
"Kau tau bukan itu maksudku..."
__ADS_1
"Itu maksudmu, aku tau."
"Fawnia..."
Tok! Tok! Tok!
Ketukan datang dan menginterupsi. Aku menarik napas dalam-dalam, menekan emosiku dan melenggang menuju pintu. Aku membuka pintu dan melihat Carcel berdiri di depan kamar. "Bos, Joseph datang."
Bajingan, apa lagi mau Indira sekarang?!
...----------------...
"Selamat sore, tuan Ace."
Joseph berdiri menyambutku di ruang diskusi. Raut segan dengan tangan yang masih terperban. Aku sudah sering melihat pria ini belakangan, terima kasih kepada bosnya yang mulai bermain-main dengan api dan ingin membakar rumahnya sendiri.
"Bagaimana kabarmu, Joseph?" Aku mendekati pria yang sialannya, merupakan salah satu orang terpenting di hidup Fawn. Fakta bahwa seorang bodyguard bertampang pas-pasan ini memiliki nilai tinggi di hidup Fawn membuatku keki setiap kali aku melihat wajahnya.
"Aku baik, tuan."
Aku ingin menambah lubang peluru di kepalanya, jujur saja.
"Aku datang untuk membawa pesan bos Indira," kata Joseph. Suaranya tegas dan lugas. "Karena situasi di kediaman Caspian membuat bos Indira tidak bisa pergi kemana-mana, beliau meminta agar tuan Ace saja yang berkunjung ke kediaman Caspian."
"Apa dia lupa kalau Evan Caspian dan aku adalah musuh bebuyutan?" Aku benar-benar jenuh meladeni kegilaan Indira. Apa yang berada di otak kacang wanita itu, sebenarnya?
"Ini urgen, tuan."
"Masalahnya Joseph, urgen di mata Indira belum berarti urgen bagiku."
Urgen bagiku adalah kematian. Aku tidak menganggap pertikaian ringan antara Evan dan Indira, dan upaya menarik perhatian Evan agar cemburu padaku adalah hal urgen! Indira harus berhenti mengharapkan cinta dari suami yang membelinya atas nama bisnis. Aku sudah mengatakan ini berulang kali, demi Tuhan!
"Bos Indira sudah menduga ini," Joseph menghela napas. "Jadi, biarkan aku memberikan tawaran terakhir..."
Apalagi sekarang?
"Bos Indira mengundangmu ke kediaman Caspian untuk mendiskusikan ini." Joseph menyerahkan sebuah foto kepadaku. Sebuah foto berkas yang kuketahui seharusnya menjadi privasi antara pihak kepolisian dan keluarga Hunter.
"Dari mana kau mendapatkan ini?!"
__ADS_1
Seseorang--tidak, apakah itu Indira atau malah Evan? Apa yang mereka lakukan bermain-main dengan laporan kematian orang tuaku?
"Bos Indira melakukan beberapa penyelidikan," Joseph menarik ponselnya kembali dari hadapanku. Tindakannya pun menarikku kembali ke dunia nyata. Aku merasakan adrenaline mengalir di pembuluh darahku, membuat panas membakar tubuhku. "Jadi, bagaimana jawabanmu, tuan Ace?"
"Aku akan datang." Aku tidak mungkin tidak datang bila umpannya adalah perihal sepenting itu.
"Itu bagus, kami akan dengan senang hati menyambut kedatanganmu minggu ini."
Melihat senyuman Joseph merekah senang, aku jadi teringat kembali pada Fawn. Kendati Indira adalah bosnya, Fawn menaruh loyalitas murni hanya kepada Anggara. Karena itu dia rela melakukan perintah Anggara untuk melindungi Indira--bahkan tanpa sepengetahuan Indira. Berbeda dengan Fawn, Joseph menunjukkan kalau loyalitasnya terpaku di kaki Indira. Dia rela bertindak di belakang keluarga Caspian dan Rashid.
Sialan, di mana keluarga Rashid menemukan orang-orang dengan loyalitas tinggi ini? Aku sedikit iri.
Karena aku mengira urusanku dengan Joseph telah selesai, aku pun hendak berbalik pergi. Tapi, beberapa langkah setelah aku melewati pria itu, Joseph kembali menyelaku.
"Tuan Ace," panggilnya gugup. "Bagaimana dengan permintaan bos Indira tempo waktu? Apakah..., apakah tuan Ace sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan Fawn?"
Huuh! Aku lupa aku membuat perjanjian tolol itu!
"Aku belum menemukan apa pun, tapi..." Aku berbalik dan menatap Joseph di muka. "Keluarga Rashid sepertinya melakukan sesuatu yang mencurigakan terhadap Fawn."
"Apa maksudnya?"
"Kalau kau tidak tau, ibu Fawn berada di rumah sakit sekarang. Anggara..., dan Anggara..., turun tangan dalam memantau perkembangan kondisi ibu Fawn. Untuk seorang kepala keluarga, merawat ibu dari pion-pionmu adalah sesuatu yang--tidak masuk akal, bukan?"
Aku hanya mengatakan ini untuk membuat Indira semakin terpaku pada saudara dan suaminya. Semakin dia mencurigai dua orang itu, semakin kuat ia memberikanku asupan informasi mengenai situasi yang terjadi di antara Spades dan Clubs.
Seperti sekarang ini..., aku penasaran siapa di antara Anggara dan Evan yang sedang melakukan penyelidikan terhadap kematian orang tuaku. Apa yang ingin dia ketahui?
"Aku pikir..., Fawn mungkin tidak akan pernah kembali pada kalian lagi."
"Itu tidak mungkin..." Joseph tertegun ketakutan. Aku tau apa yang dia pikirkan, dan itu membuatku senang.
"Beritahu Indira, apa dia masih ingin mengetahui kelanjutan informasi tentang Fawn bila itu berarti menemukan kalau bodyguard-nya tercinta telah meninggal dunia..."
"Tuan Ace," Joseph menyelaku dengan ketegasan yang dipaksakan. Aku tau topeng itu sudah sangat rapuh. Dia juga, pasti menyimpan ketakutan yang sama dengan bosnya.
"Aku hanya mengatakan kejujuran, Joseph. Hanya pertimbangkan ucapanku..." Aku menepuk pundak pria itu dua kali sebelum berlalu pergi.
Sebuah perasaan kemenangan setelah membuat Joseph ketakutan membuatku tersenyum senang. Mereka harus berhenti mencari Fawn, hanya dengan begitu..., hanya dengan begitu aku tidak perlu merasa waspada sepanjang waktu.
__ADS_1
...----------------...