
...NORMAL pov...
...----------------...
Kendati langit sangat cerah di luar sana, Ace Hunter menerobos masuk ke kamarnya sendiri dengan ekspresi yang kelam. Ketegangan terpatri jelas di parasnya--hasil dari diskusi bersama Jack dan Margot lah yang membuatnya sangat muram.
Ace memikirkan keselamatan Margot, tapi sialannya, tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain membalas dendam! Tidak bahkan nyawa Margot sendiri. Semua orang menutup mata pada risiko yang dapat mereka terima dan terjun bebas kepada segala peluang yang bahkan tidak bisa dianggap sebagai bantuan atau malah ancaman.
"Apa kau baik-baik saja?" Fawn yang mengupas jeruk di sofa--memalingkan muka ke arah Ace. Binar di matanya menunjukkan kecemasan yang bercampur dengan kegugupan.
Terakhir kali Ace masuk ke kamar dalam keadaan marah, pria itu mengamuk dan menghambur segala barang-barang di kamar ini. Fawn takut hal sama akan terulang lagi. Itu cukup mengerikan untuk dilihat.
Ace membalas pandangan Fawn dan menggelengkan kepala. "Bukan urusanmu," tukasnya.
"Semua hal yang terjadi di rumah ini sebenarnya memang bukan urusanku," jawab Fawn. "Tapi aku mencemaskanmu...,"
"Cemas? Jangan bercanda. Kau pasti mengejekku di kepalamu."
Lagi-lagi dengan tudingan yang sama, Fawn mulai gerah mendebat Ace.
"Yah, terserah kau saja. Mungkin kau memang benar, kau sepertinya memang lebih tau aku daripada aku sendiri." Fawn menyahut sarkastik sebelum berbisik kepada dirinya sendiri. "Aku menyesal sudah mengajakmu bicara, bajingan."
"Apa yang kau katakan?" Ace penasaran pada bisikan Fawn.
"Tidak ada."
"Kau mengatakan sesuatu.."
"Tidak tuh!"
"Apa kau memakiku?"
Fawn menghela napas panjang-panjang. "Demi Neptunus, jangan narsis. Juga--tolong jangan melampiaskan amarahmu padaku! Kalau kau marah--ummm--marah di daerah situ saja. Sofa ini wilayahku..." Fawn berdiri dan menciptakan garis tak kasat mata di sekitar sofa dengan telunjuknya.
"Apa kau tau ini kamarku?" Ace meninggikan alisnya seketika. Fawn tau dia sedang marah dan bukannya meringkuk ketakutan--gadis itu malah menunjukkan sikap acuh tak acuh?
Dia--seorang Arcelio Hunter adalah orang yang paling ditakuti di negeri ini, baik dalam keadaan marah atau tidak. Dan Fawnia Alder--si kacung Indira, tawanannya--malah menunjukkan sikap seolah amarahnya bukan apa-apa.
"Aku tau, makanya..."
"Kalau kau tau, berarti kau sadar kalau setiap sudut dari rumah ini adalah milikku, bukan?"
"Yaaah, lalu, apa kau akan memukulku?" Fawn mundur selangkah ketika Ace melenggang menuju sofa, perubahan sikap pria itu yang dari penuh tekanan menjadi ambigu dan misterius membuat Fawn linglung. Apa Ace bipolar? Kenapa dia mengubah suasana hatinya secepat mengedipkan sebelah mata?
"Aku tidak akan memukulmu, duduk dan makanlah." Ace menyiratkan kepada sekeranjang kecil jeruk yang masih berhambur di atas meja kaca.
Ace duduk di sofa dan menepuk sisi kosong di sampingnya, meminta Fawn agar duduk di sana. "Kemari," panggilnya lagi. Suara melembut.
"Apa maumu?" Fawn mendekat ragu-ragu.
"Tidak ada. Jangan mencemaskan apa pun. Aku tidak akan memukulmu. Kenapa kau pikir aku akan memukulmu?"
__ADS_1
"Karena kau sedang..., marah?"
"Aku tidak marah padamu..., juga, kau sudah bertingkah baik selama ini, aku tidak akan memukulmu." Ace mengulurkan tangannya pada Fawn, dan meskipun masih ada keraguan--Fawn Fawn menyambut uluran tangan itu. Seakan-akan menuruti kemauan Ace sudah terprogram di tulangnya, Fawn merinding pada realita bahwa ia lemah ketika pria itu berbicara lembut padanya.
Setelah berhasil membuat Fawn duduk di sisinya, Ace tanpa keseganan langsung merebahkan kepalanya di bahu Fawn. Mata terpejam erat sementara tangannya melingkupi punggung Fawn yang hangat dan beraroma seperti deterjen pakaian. Itu tidak tajam, tapi cukup nyaman.
"Biarkan aku mengisi energiku sebentar," ujar Ace, suaranya lemah.
Fawn--tanpa kemampuan atau lebih seperti tekad untuk melawan--membiarkan Ace bersandar di bahunya. Bergantung padanya. Ini lebih baik daripada ditampar di muka.
...----------------...
Api berkobar besar di halaman belakang kediaman Hunter, bersampingan dengan alat pemadam api ringan--Vera memantau kobaran api itu sambil bersandar di dinding beton. Rokok terselip menyala di bibirnya, menemani ia yang sedang bertugas membakar tempat tidur Margot.
Selama matanya tertuju pada api, Vera lagi-lagi merenungi nasibnya yang entah kenapa semakin sial belakangan ini. Tidak hanya jatah liburnya yang terpotong, jatah tidurnya pun berkurang berkat kegilaan yang bosnya ciptakan. Sore ini--ketika ia seharusnya mengambil istirahat untuk tidur tiga jam saja, Margot malah memerintahnya membakar kasur mahal itu sekarang juga. Hanya karena tempat tidur itu ternoda...demi Tuhan!
"Dia bisa menyumbangkan ini padaku, dan aku rela mencucinya..." Vera merutuk dan meratap pada pemandangan tempat tidur mahal dengan kualitas premium itu sudah meleleh menjadi abu. Bayangkan berapa banyak uang disia-siakan di sana...
'Haaaah, orang-orang kaya ini membuatku sakit kepala!'
"Vera?" Willa--teman sesama bodyguard Vera--muncul di halaman belakang. Bergabung dengan Vera dan mengernyit ringan saat melihat rokok Vera. Itu bukan pemandangan baru lagi, tapi tetap bukan sesuatu yang mampu membuat Willa terbiasa.
"Ada apa?" Vera melepaskan rokok dari bibirnya dan menyelipkan benda itu di apitan jemari.
"Bersiap-siaplah, bos Margot mengajak kita ke Leviathan," kata Willa.
"Baiklah, aku akan menyusul..." Vera mengangkat rokoknya yang sisa setengah. Mengisyaratkan pada Willa kalau dia perlu menyelesaikan rokoknya sebelum pergi.
"Kay."
...----------------...
Leviathan bukanlah tempat baru bagi para bodyguard Margot. Tempat itu sudah menjadi saksi jatuh bangunnya seorang Margareth Hunter karena..., baik ia dalam keadaan gembira maupun berduka, sahabat terbaik Margareth adalah alkohol.
Vera yang sudah mendampingi Margot sepanjang masa depresi bosnya tersebut sudah terbiasa pergi ke tempat itu ke tahap ia sudah hapal mati seluk-beluk club malam tersebut. Hapal nama bartendernya dan bahkan pekerjanya.
"Apa yang kita rayakan malam ini, Bos?" Vera membukakan pintu kepada Margot ketika mereka tiba di Leviathan. Suara musik yang memekakan telinga terdengar samar-samar dari luar. Vera membayangkan keriuhan di dalam sana dan sudah menghela napas jengah.
"Kita merayakan kemenanganku, Ver. Hari ini aku berhasil mengalahkan Ace dalam perdebatan dengan pamanku."
"Huh, itu bagus." Vera tersenyum tipis sebelum menyusul Margot dari belakang.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, malam ini Vera dikejutkan oleh tambahan bodyguard yang dikirim dari rumah keluarga cabang--Jack Hunter. Mereka semua dikirim untuk mendampingi Margot.
Sementara Margot melenggang masuk ke Leviathan dengan Vera dan Willa di sisinya, para bodyguard lain mematuhi isyarat mata Vera dan menyebar ke sepenjuru ruangan.
"Pintu masuk aman."
"Pintu belakang aman."
"Lantai dua aman."
__ADS_1
"Atap aman."
"Lantai pertama aman."
"Ruang monitor aman."
Laporan masuk satu persatu ke telinga Vera dan ia mengangguk sekilas kepada Willa.
"Ow, ow, ow..." Margot melenggang menuju meja bar, wajah berkilau senang. "Lihat siapa yang kutemukan di tempat favorite-ku."
Menghadap si bartender yang sedang mengiris sebuah limun ke dalam gelas, Anggara Rashid sedang bertopang dagu sambil mengaduk margarita di depannya.
Menyadari kedatangan Margot dan kehebohan suaranya, Anggara pun berbalik dengan mata terbelalak. "Margareth?"
"Hola...," sapa Margot. "Kau tidak perlu formal padaku, Margot saja..., panggil aku Margot. Aku pikir aku sudah mengatakan ini berulang kali."
'Apa kau tolol?'
Vera bisa mendengar rutukan bosnya dalam hati. Bos Margot-nya itu bukan tipe wanita yang suka mengatakan sesuatu berulang kali. Dia kerap memaki orang yang tidak mendengar ucapannya.
"Hmm, Margot...ya, rasanya agak janggal di lidahku." Anggara memaksakan senyuman. "Jadi, apa kau sendirian...?"
Mata Anggara bergulir ke belakang Margot hanya untuk menyadari kalau pertanyaannya adalah pertanyaan bodoh. Margot mana mungkin meninggalkan kacung-kacungnya.
"Hai lagi, di sana..." Anggara menyapa Vera yang memantau mereka dengan ekspresi datar dan waspada.
Disapa oleh Anggara, Vera agak terkejut dan mengangguk.
"Kau sangat ramah kepada bodyguard-ku..., tapi di mana bodyguard-mu, Anggara?"
"Aku tidak suka bepergian dengan banyak orang."
"Bagaimana kalau kau diserang?!"
Anggara tertawa samar. "Tidak ada yang akan menyerangku di sini."
"Kenapa kau sangat percaya diri?"
"Aku hanya..., kau tau..., tidak penting?"
Itu omong kosong, Vera tau kalau lawan bicara bosnya sedang mengutarakan omong kosong. Menyimak keduanya berbicara dengan segala kepalsuan yang menjemukan, Vera menghela napas lelah. Lagi-lagi, pekerjaan ini membuatnya bertanya, kenapa ia di sini? Melakukan ini?
"Vera, seseorang mendekat di belakangmu." Laporan datang di telinga Vera, dari pengawal yang bertugas mengawasi dari lantai dua.
Vera berbalik dan seketika melebarkan mata saat wajah yang sangat familiar di matanya tersenyum lebar dan menangkap pundaknya.
"Vera?"
Sialan, di saat dia sedang bekerja!!! Kenapa?!!
...----------------...
__ADS_1