DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
43. HUBUNGAN


__ADS_3

...INDIRA pov...


...----------------...


"Jem mengajak Eleanor untuk pergi ke acara penggalangan dana yang diadakan oleh lady Mikoto, apa kau sudah mendengar berita itu?"


Malam hari, di ruang kerja Evan yang jendela menuju balkonnya terbuka, aku berujar kepada Evan yang sekarang menatap laptopnya dengan seksama. Minat Evan pada benda elektronik lipat itu membuatku sedikit iri, andai saja dia sedikit perhatian padaku sama seperti dia menaruh perhatian pada pekerjaannya, itu pasti menyenangkan.


"Hmm, itu aneh. Apa kau yakin bukan sebaliknya? Jem tidak seperti tipe pria yang akan menaruh minat kepada sepupu nyentrikmu."


"Jangan menghina Ellie, dia hanya unik tau."


"Aku tidak menghina, aku hanya mengatakan apa yang kulihat." Evan melirikku sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaan.


Tentu saja, apa yang Evan katakan memang mendekati kebenaran. Jemaine Emery selama ini memang menunjukkan keramahan dan kesopanan pada setiap usaha pendekatan Eleanor. Tapi, walaupun Jem terlihat sopan, dia tidak terlihat seperti pria yang akan menyerahkan hatinya pada sepupuku.


Jem itu--di mataku terlihat seperti pria dengan dinding tak kasat mata yang membatasinya dari dunia luar. Mungkin karena dia seumuran dengan Anggara, aku melihat Jem seperti pria yang sangat dewasa. Padahal usia kami hanya selisih 3 tahun.


"Tidak ada salahnya berpikiran positif." kataku, men-support ide tentang Jem dan Eleanor yang mungkin saja bisa berkembang menjadi asmara. Yaa, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


"Pffftt." Evan mengistirahatkan ketikannya dan tertawa samar. "Kau terlalu polos."


"Apa salahnya mengharapkan hal-hal baik untuk terjadi? Hati seseorang bisa berubah, tau. Hari-hari kemarin bisa saja Jem menutup matanya pada cinta Ellie, tapi siapa yang tau kalau hari ini, besok, atau beberapa jam dari sekarang Jem menunjukkan ketertarikan kepada Ellie. Tidakkah menurutmu itu romantis?"


"Situasi semacam itu hanya terjadi pada novel romansa yang dibuat oleh penulis delusional."


"HEI!!!" Aku berteriak keberatan. "Novel romansa adalah kepingan-kepingan kisah yang terjadi di dunia nyata. Kau mungkin menyangkalnya, tapi satu hal yang pasti--hati manusia dapat berubah."


Evan menyimak ucapanku dengan anggukan yang terkesan meremehkan. Walau dia tidak setuju pada ucapanku, si keriting dengan raut bak dewa romawi itu harusnya tidak mengejekku.


"Katakan, Evan..., kalau kau tidak setuju pada ucapanku, katakan cinta yang ideal menurutmu?" Aku menantang Evan dan berpindah dari sofa menuju bangku putar yang berseberangan dari meja kerjanya. Jarak kami cukup dekat dan aku dapat melihat permukaan kulit wajah Evan yang halus dan memiliki jejak luka samar di dekat keningnya.


"Cinta yang ideal hanya terjadi pada hubungan orang tua dan anak. Cinta pada lawan jenis--atau apa pun preferensimu, itu hanya terjadi karena pengaruh hormon. Ketika euforianya mereda, perasaanmu akan memudar sepenuhnya."


"Sangat suram." Aku mundur dan bersandar di bangku. Mataku menyorot Evan dengan ketidaknyamanan yang baru. "Apa seperti itu kau menatap pernikahan kita? Apa kau akan meninggalkanku ketika euforia-nya sudah tidak ada?"


"Euforia semacam apa?" Evan meninggikan alisnya seperti mencemooh. Namun, saat dia menyadari arti ucapannya, wajahnya seketika berubah muram.


"Oh, pertanyaanku pasti salah, ya? Benar juga, kita menikah hanya karena perjodohan, kan? Euforia sama sekali tidak ada di antara kita selain hubungan kerja sama."


"Indira, aku percaya kau tidak akan mau membahas topik itu. Kita sudah menjadi teman baik--"

__ADS_1


Aku seketika mengibaskan tangan, menutupi rasa sakit yang sekarang merayap di jantungku dengan tawa ringan.


"Tidak, tidak. Kau tidak perlu mencemaskan apa pun. Aku memahami posisiku. Aku juga..., tidak mengharapkan apa pun. Hubungan ini sangat baik untukku. Aku hanya perlu duduk santai sementara kau menangani semuanya. Hahaha. Rasanya sudah seperti princess."


"Aku senang kau berpendapat yang sama denganku," senyum Evan kembali merekah tipis. Itu seharusnya memukau, tapi aku merasakan tikaman tajam di jantung.


"Tidak masalah..." Aku mengetuk-ketukkan ujung jariku di atas meja kerja Evan. Sementara kekecewaan mulai melingkupiku, aku berupaya menutupi tingkahku dengan tawa palsu. Ini seharusnya sudah tidak menyakitkan. Ace bahkan mengatakan hal yang sama bahwa relasi kami hanya bisnis semata, tapi...


Aku masih menginginkan cinta.


"Haaaaa~" Aku menghela napas berat. "Jadi, Evan..., apa kita akan pergi bersama sabtu nanti?"


"Ke?"


"Ke acara lady Mikoto?" Aku mengganti topik.


"Ah..." Evan kembali menatapku tepat di mata. Rambut keritingnya yang agak panjang, berayun-ayun di bawah tiupan angin malam yang masuk melalui jendela.


"Aku tidak akan membawamu keluar hari itu."


"Huh?" Tapi ini adalah acara besar, apa dia berniat pergi sendirian?


"Tapi..., tempat itu pasti memiliki pengamanan yang ketat."


"Aku tidak mempercayai tempat teraman untukmu selain di sini. Maafkan aku." Evan bersitegas. Ekspresi wajahnya yang serius tidak menunjukkan celah untuk perlawanan sama sekali. Aku menelan pahit ketika lagi-lagi, aku menjadi tawanan di rumah ini.


"Lalu..., bagaimana denganmu? Kau butuh teman untuk pergi." Akan sangat memalukan bila seorang kepala di Clubs muncul tanpa pasangan. Terlebih ketika dia sudah memiliki istri..., seseorang bisa membuat asumsi miring terhadap hubungan kami.


"Jangan mencemaskan itu, aku sudah mengundang temanku untuk pergi bersama."


"Teman?"


"Namanya Norah. Aku percaya kau sudah melihatnya kemarin sore."


Apa maksudnya gadis kemarin? Gadis yang dia biarkan masuk ke zona amannya?


"Aku memang..., melihatnya." Tunggu, apa Aidan melaporkan aktivitasku kepada Evan?


Jadi aku benar-benar di bawah monitor sekarang?


"Norah baru kembali dari xxx beberapa hari lalu jadi dia mengunjungiku. Kau tidak perlu menunjukkan formalitas padanya, dia tidak menyukai hal-hal semacam itu."

__ADS_1


Wow, kau bahkan tau apa yang tidak dia sukai dan mengingatkanku untuk tidak melakukan apa yang dia tidak sukai? Apa ini Evan yang sama yang baru saja mendebatku tentang cinta sebagai reaksi hormon semata?


"Apa baik-baik saja membawanya ke acara besar?" Evan bagaimanapun adalah seorang pengantin baru. Pergi bersama wanita selain istrinya akan terasa asing. Tidak, apa aku overthinking?


"Kau mungkin tidak tau, tapi Norah adalah artis besar, Indi. Dia sangat berprestasi di mata publik dan memiliki karir yang gemilang. Membawanya ke acara ini bukan sesuatu yang akan mempermalukanku. Tidak, sebaliknya ini akan membuat orang-orang menyorot kita dalam lensa yang berbeda."


Aku penasaran lensa semacam apa yang dipakai orang-orang untuk melihat kalian.


"Baiklah kalau menurutmu memang seperti itu." Aku tersenyum lagi, dan ini melelahkan. Aku tidak suka pada keputusan yang Evan buat tanpaku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak ketika aku memikirkan posisi Anggara yang mungkin akan terancam bila aku dan Evan bersitegang.


"Ace akan muncul di sana nanti, sangat disayangkan sekali aku tidak bisa datang..., aku rindu bertemu dengannya." Aku meracaukan kata-kata yang tidak serius. Hatiku sedikit kacau-balau, aku hanya ingin memikirkan perihal lain.


"Kau sangat dekat dengan Ace, bahkan setelah pernikahanmu. Tidakkah kau merasa perlu menjaga jarak sedikit darinya?"


"Ya?" Aku agak terkejut ketika Evan mengutarakan ucapannya dengan nada tidak senang. Ada apa dengan perubahan hatinya? Padahal kami bicara baik-baik barusan!


"Kau adalah istriku, Indira. Perhatikan siapa temanmu bergaul. Kau mungkin berpikiran tidak ada apa-apa di antara kalian, tapi sedikit kedekatan akan memicu rumor yang tidak diperlukan."


"Kenapa kau marah? Aku dan Ace hanya berteman sekarang..."


"Bertemu dengannya di cafe dan menikmati teh sore. Jika bukan aku yang membeli mahal berita tentangmu dari reporter, kau mungkin akan berada di halaman depan majalah gosip sekarang."


Kenapa aku baru tau informasi ini? Tunggu..., apa-apaan?


"Apa maksudmu membeli informasi?"


"Seorang reporter dari perusahaan penyiaran hendak menjadikanmu headline utama di karirnya, tapi berkat usahaku.., segala informasimu tidak muncul ke media."


"Kenapa kau tidak mengabariku?" Aku berdiri dengan kasar. Bangku di belakangku terdorong mundur.


"Karena aku sudah menanganinya." kata Evan tenang. "Aku mencegah nama baik kita tercoreng, Indira."


"Woow..." Aku sangat takjub. Istrinya pergi keluar dan bertemu dengan pria lain, tapi bukannya cemburu..., Evan mencemaskan reputasinya?


Luar biasa. Sangat luar biasa.


"Kau benar-benar suami yang sangat bisa diandalkan, Evan. Kau bekerja lebih baik daripada bodyguard-ku!"


Keparat! Sebanyak apa pria ini hendak melukaiku?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2