DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
40. MALAIKAT KEPALSUAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Jujur saja, aku tidak membenci berada di kamar nona Margot. Mengesampingkan fakta kalau wanita itu tidur seperti jarum jam, aku tidak punya keluhan lain di kamarnya. Cahaya neon merah muda itu juga sudah biasa di mataku, aku seperti vampire di ruangan yang gelap dan itu tidak membuatku terganggu. Aku juga mempunyai Vera yang menemaniku mengobrol setiap hari. Dia adalah wanita menggemaskan, aku bersahabat sangat mudah dengannya.


Jika aku ditawan oleh nona Margot, kurasa aku tidak akan keberatan sama sekali. Toh, kualitas makanan yang diberikan oleh pelayan rumah ini sama saja. Sangat lezat di lidah. Oh, paling utama...., aku tidak perlu berurusan dengan Ace lagi. Rasanya sangat melegakan. Aku harap kenyamanan ini selamanya.


Yah, setidaknya, aku tidak perlu berurusan dengan cowok psikopat itu. Empat hari sudah berlalu sejak saat itu.


Apa yang dia lakukan sekarang? Aku jadi kepikiran.


Ace, kendati adalah kepala keluarga di rumah ini masih berbagi otoritas dengan Margot dan pamannya yang kudengar-dengar bernama Jack Hunter. Dari yang Vera katakan, Ace sangat tidak cocok dengan pamannya dan kerap berkelahi. Aku tidak tau apa masalah mereka dan tidak mau peduli juga, tapi..., yah, aku harap dia baik-baik saja.


Tidak peduli seberapa banyak aku mengutuk Ace, pria itu sudah hidup dengan kutukan lain bernama harapan dan beban. Aku tidak bisa membayangkan--bagaimana pria itu bisa bertahan di bawah tekanan keluarganya? Aku mungkin akan melarikan diri ke benua lain bila situasi semacam itu menimpaku.


"Selamat pagi," baru saja aku termenung memikirkan Ace, sosok yang tidak jauh berbeda dari Ace datang. Siapa lagi kalau bukan sobat karib Ace--Jemaine Emery masuk ke kamar nona Margot bersama Vera.


"Bos Margot akan sampai beberapa menit lagi," kata Vera. "Uh, Fawn..., kalau kau tidak keberatan..., tuan Jem akan menunggu di sini."


"Tidak masalah," sahutku.


Toh ini bukan kamarku. Aku tidak punya hak apa-apa untuk menentukan siapa yang keluar masuk di kamar ini.


Setelah menjawab Vera, aku yang masih duduk di tempat tidur dan bersandar di kepala ranjang menatap ke arah Jem yang berdiri bimbang di tengah ruangan. Si sialan itu bertingkah kikuk seakan-akan aku tidak tau kebusukannya.


Bahkan bila dia memakai potongan baju serba putih dari ujung kaki hingga kepala, aku tidak akan terpedaya oleh kehitamannya. Dia memancarkan kekejaman lebih besar daripada Ace.


"Hai..." Setelah kepergian Vera juga, Jem duduk di bangku lipat yang menghadap meja rias. Jem menatapku dengan cengiran ramah terpatri di wajahnya. Sangat menjengkelkan.

__ADS_1


Apa yang dia cengirkan seperti orang tolol?


"Aku baru tau kalau kepemilikanmu sudah berpindah tangan ke Margot," katanya lagi.


"Huh, begitukah?" Aku tidak percaya dia baru tau. Laki-laki dengan binar mata misterius itu membuatku meragu. Seperti kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah kebohongan.


"Apa terjadi sesuatu di antara kau dan Ace?"


"Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?" aku tidak mau menjawabnya.


"Tidak, tidak. Kalau sulit untukmu bercerita, kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku hanya takut kau tau, mungkin karena ajakanku waktu itu, hubunganmu dan Ace jadi berantakan."


Sungguh kemunafikan.


"Aku pikir kau akan lega," aku menimpali dengan helaan napas bosan yang lepas bersamaan dari mulutku. "Bukankah ini adalah tujuanmu sejak awal?"


Aku mungkin hanya seorang pengawal yang bahkan tidak pergi ke Universitas, tapi..., tapi aku tidak tolol. Untuk mengaitkan satu hal ke satu hal lainnya bukan hal sulit bagiku. Aku tau ketika seorang bajingan bertingkah seperti malaikat.


Jem--simple-nya sengaja mengajakku keluar agar aku terekspos oleh keluarga Rashid. Yang mana artinya, peperangan antar keluarga Rashid dan Hunter dapat terjadi bila nona Indira dan tuan Anggara melihatku. Dan walaupun itu tidak terjadi, aku yang sudah menjalani hubungan yang damai dengan Ace akan kembali bertikai karena aku akan lepas kendali.


Si keparat satu ini sangat pandai menghitung situasi, aku tidak percaya Ace menjadikan si keparat ini sahabatnya!


"Tujuanku? Ahahaha. Aku tidak tau apa yang kau katakan, aku hanya ingin mengajakmu refreshing saat itu. Kau sudah berkurung lama di rumah ini dan Margot juga butuh udara segar, jadi kupikir lebih baik untuk keluar. Hanya begitu saja."


"Ooh, betapa mulianya." Aku mau bertepuk tangan. "Kepedulianmu mau membuatku meneteskan air mata. Tentu saja situasinya seperti yang kau katakan, kan? Kau hanya pria baik hati yang ingin membantu seorang tawanan rumah ini menghirup udara segar. Aku tidak akan terkejut bila sewaktu-waktu kau membebaskanku dari sini."


"Sarkastik sekali. Apa kau tau siapa lawan bicaramu?"


"Apa aku harus peduli siapa lawan bicaraku?" Bahkan bila dia adalah kepala di Hearts, pria ini adalah pria laknat yang mengusulkan ide kepada Ace untuk menyabotase pernikahan nona Indira. Dia adalah setan dari semua setan yang membuatku berakhir terperangkap di sini. Siapa yang tau apa isi otak kelamnya itu. Dia mungkin membuat skema yang mengerikan di dalam pikirannya yang hitam.

__ADS_1


"Kau tau, kau cukup cerdas untuk sebuah pion yang tidak berguna." Jem terkekeh. Dia masih tersenyum dengan kepolosan palsunya. "Aku pikir alasan Ace menahanmu di sini hanyalah wajah itu, tapi sekarang aku lebih paham..., kau punya sesuatu yang lebih menarik daripada tubuhmu."


"Kau menjijikkan." Aku benci cara pria ini menatapku. Seseorang perlu menendangnya keluar sebelum aku yang menendangnya sendiri.


Jem menyeringai jahanam. Dia yang sejak tadi hanya diam di bangku rias, menghampiriku di tempat tidur. Lekas saja, aku menarik diriku mundur. Aku tidak mau menyakitinya karena dia adalah sahabat nona Margot, tapi kalau pria ini mulai lancang, aku tidak akan segan membunuhnya.


"Apa kau takut?" Jem membaca kegugupanku dengan mata berkilat senang. "Aku pikir kau sangat berani saat kau meludahkan kata-kata kurang ajarmu tadi."


"Huh, aku tidak takut padamu." Aku menapak ke atas karpet bulu yang lembut. Saat aku berdiri, Jem sudah berdiri di hadapanku. Telapak tangannya yang bebas berlabuh di leherku, mencekikku dengan genggaman dingin yang menakutkan. Hanya dalam satu gerakan, saat itu aku bisa saja menemukan kematian.


"Kau harus berhenti mengutarakan isi kepalamu besar-besar, Fawnia. Tidak peduli seberapa hebat tebakanmu dan seberapa benar kau membuat spekulasi, itu tidak akan berujung baik bila kau membocorkannya pada orang yang salah." Suara Jem terdengar lirih di kupingku. Seperti bilah pedang yang dingin menyentuh kulit, aku bergetar di bawah intimidasinya.


"Apa yang kau lakukan?" Aku mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari leherku, tapi lengan itu sekokoh kayu. Dia tidak bergerak seinci pun.


Leherku yang didekap oleh cengkramannya, menelan ludah susah payah.


"Lepaskan aku..."


"Apa menurutmu Ace akan sangat marah bila aku menyentuh mainannya?"


"Aku pikir kau lupa satu hal...," aku memaksakan wajahku menoleh ke arah wajah Jem.


Sebelum pria itu bisa menanyakan apa yang dia lupakan, aku mengumpulkan salivaku di lidah dan dalam satu sentakan, aku meludahi wajah arogannya dengan keras. Cengkramannya di leherku seketika terlepas.


Tcuih!!!


Aku menggapai kerah kemeja putih Jem dan mendorongnya mundur. "Kau harus ingat ini, aku bukan mainan siapa pun," tukasku jelas-jelas. "Sebelum kau perlu mencemaskan reaksi Ace atau siapa pun, kau sebaiknya mencemaskanku terlebih dahulu, biadab!"


Ugh, aku ingin membunuhnya!

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2