Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss!


__ADS_3

Eric memijat tengkuk lehernya yang terasa pegal. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Tidak hanya karena urusan kantor, ia juga harus membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan oleh Alvin. Termasuk mengurus administrasi Revan di rumah sakit.


"Punya teman gini amat," gerutu laki-laki itu sambil menyandarkan punggung pada bathtub.


Sudah cukup lama ia berendam di air hangat demi membuang sial. Menambahkan sedikit aromaterapi untuk mendinginkan jiwanya yang berkobar.


"Lain kali kalau dia bikin ulah lagi aku tidak mau ikut campur," ucapnya penuh keyakinan. "Tapi ... kalau tidak ikut campur kasihan Tante Elvira. Bisa jantungan lihat kelakuan anaknya."


Eric menghembuskan napas panjang. Setidaknya ia sedikit lega karena hari ini tidak harus berurusan dengan gorong-gorong sialan di belakang sekolah.


Laki-laki tampan ala aktor thailand itu terkekeh puas setelahnya. Bisa dibayangkan akan seperti apa Alvin setelah tadi Eric mengadu.


"Pasti si Alvin dipukul sapu, sandal, atau dijambak sama Tante El. Sukurin!"


Eric masih menikmati acara berendam di air hangat ketika bel berbunyi beberapa kali. Laki-laki itu mendengkus sebal, sebab orang di luar sana seperti tidak sabar untuk dibukakan pintu.


"Tunggu, woy!" teriaknya sebal.


Ia lantas bangkit dan meraih handuk. Kemudian segera keluar untuk membukakan pintu. Sepasang mata Eric membulat saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu dengan wajah manyun sambil membawa koper.


"Loh Vin? Kamu kenapa?"


Alvin yang masih dikuasai perasaan kesal hanya menatap tajam. "Diusir dari rumah sama Mama gara-gara mulut kamu yang bocor!"


"Hah?" Eric termangu selama beberapa saat. "Terus bagaimana?"


"Untuk sementara aku numpang tinggal sama kamu!"


Belum juga si pemilik rumah memberi izin, Alvin sudah menyeret koper dan langsung menuju kamar Eric, serta membaringkan tubuhnya di ranjang.


Sementara Eric hanya berdecak melihat ulah temannya itu.

__ADS_1


"Punya tamu nggak tahu diri banget."


*


*


*


Sejak kejadian penculikan oleh Revan beberapa hari lalu, Daniza benar-benar mengurung diri di rumah. Setiap kali Mama Elvira mengajak keluar, Daniza selalu menolak dengan alasan yang sama. Bahkan fitting gaun yang akan dikenakan di hari pernikahan terpaksa dilakukan di rumah, karena Daniza menolak untuk pergi ke butik.


Sejak saat itu Alvin juga tidak berani lagi melanggar petuah sang mama. Keduanya menjalani masa pingitan dengan patuh. Sehingga hanya berkomunikasi melalui pesan whatsapp demi melepas rindu. Bagi Alvin lebih baik menahan beberapa hari untuk tidak bertemu. Toh, Daniza aman tinggal di rumah bersama Mama Elvira. Terlebih, ia memberi penjagaan ketat dengan menugaskan anak buahnya berjaga 24 jam secara bergantian.


Dan hari ini semua penghalang itu akan sirna, karena hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu hari penyatuan keduanya dengan pernikahan.


Daniza memandangi pantulan dirinya di balik cermin. Hampir tak percaya bahwa sosok di depan adalah dirinya. Kebaya putih dan make up natural menyatu menyempurnakan kecantikannya hari ini.


"Wah, cantik sekali. Alvin pasti terpukau kalau pengantinnya secantik ini," puji Dokter Mila yang sedang menemani Daniza di ruangan itu.


"Ayo, ke depan. Alvin sudah datang. Nanti dia ngomel kalau kelamaan."


Dokter Mila menggandeng Daniza hendak keluar kamar. Daniza berhenti sejenak demi mengatur napas. Jantungnya berdebar tak beraturan. Ia yakin wajahnya susah merah saat ini.


Sama sekali tidak pernah terlintas dalam rencana bahwa kakak kelas jahat yang dulu pernah menciptakan trauma di masa remajanya itu akan menjadi pasangan hidupnya.


Daniza bahkan pernah berdoa agar tidak pernah lagi bertemu dengan orang seperti Alvin. Tetapi, sekarang justru Alvin menjadi orang paling berharga dalam hidupnya.


Siapa sangka wanita yang pernah dibuang suami itu menemukan kebahagiaan dengan dinikahi seorang bos.


*


*

__ADS_1


*


Binar bahagia terlihat jelas di mata Alvin ketika memandangi sosok cantik yang berjalan ke arahnya. Percaya atau tidak, mungkin Alvin tidak punya ambisi lain di dunia ini selain memiliki Daniza dan menghabiskan sisa usia bersama.


Dulu, ia hanya dapat memandangi pujaan hatinya itu dari jarak jauh, dan memendam patah hati selama bertahun-tahun saat kehilangan jejak. Tetapi, hari ini tidak ada lagi penghalang baginya untuk memiliki Daniza.


Kata orang bijak, jodoh tidak akan tertukar dan pasti bertemu pada waktu yang tepat. Alvin percaya Daniza adalah jodoh yang telah dipilihkan Tuhan untuknya. Karena itulah ia rela menunggu selama bertahun-tahun dan menolak semua perjodohan yang pernah ditetapkan untuknya.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Daniza Amaria Wijaya binti Arman Wijaya dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang sebesar satu Milyar tunai karena Allah." Suara lantang Alvin yang terdengar begitu merdu menggema di ruangan itu.


Semua orang yang ada di ruangan menyambut dengan menyerukan kata sah. Dan mulai detik itu, Alvin dan Daniza telah resmi menjadi pasang halal yang menyatu dalam ikatan pernikahan.


Sepasang bola mata Daniza melelehkan air mata. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencium tangan suaminya. Alvin membalas dengan membenamkan ciuman di kening, yang kemudian diabadikan dengan sebuah kamera.


Semua menyambut bahagia tak terkecuali Mama Elvira. Akhirnya, putranya yang budiman seantero galaksi Bima Sakti dan kelamaan jomblo itu menemukan belahan jiwanya.


Sesi pernikahan pun dilanjutkan dengan resepsi yang meriah nan mewah. Para tamu bergantian memberi ucapan selamat. Ada banyak hadiah menarik yang dibagikan bagi tamu yang beruntung.


Semua orang berdecak kagum melihat sepasang suami istri baru itu. Keduanya tampak sangat serasi layaknya pasangan raja dan ratu. Tetapi, bagi sebagian gadis yang pernah hadir dalam kehidupan Alvin, hari ini adalah hari patah hati massal.


"Sungkem dulu kamu sama aku, karena kebanyakan dosa!" ucap Eric sambil memeluk sahabat kentalnya itu.


"Kamu juga banyak dosa kali. Sudah pengkhianat tukang ngadu lagi," balas Alvin, sambil memeluk sekali lagi. Tepukan keras ia hadiahkan ke punggung Eric. "Aku penasaran kamu dibayar berapa sama mama."


Sekarang keduanya malah saling ejek. Daniza dan Dokter Mila hanya geleng-geleng kepala.


"Oh ya, Vin ... kamu kayaknya salah kasih mas kawin ke Daniza," tambah Eric.


Ingatan Alvin melayang sejenak memikirkan mahar yang tadi disebutkannya. "Apanya yang salah, sih? Perasaan sudah benar."


"Seharusnya mas kawinnya pake seperangkat gorong-gorong biar estetik."

__ADS_1


...****...


__ADS_2