Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Gugatan Cerai


__ADS_3

"Revan!" teriak Alina sesaat setelah memasuki ruangan laki-laki itu. Suara pintu yang dibanting keras membuat Revan terlonjak. Alina bersungut-sungut menghentakkan kaki dengan kesal. Kemudian


melempar tas miliknya ke sofa.


"Apa-apaan sih kamu, Al. Baru datang sudah marah-marah."


"Aku marah karena perbuatan kamu!" Alina mendekati Revan dan berdiri di samping. Napasnya terlihat lebih cepat. "Kenapa kamu setega ini sama aku, Rev?"


Revan mendongak. Tatapannya terkesan malas meladeni amarah Alina yang meledak-ledak. Bukan sekali dua kali, Alina sudah sering seperti ini.


"Ada apa lagi, Alina? Kenapa kamu hobi sekali menghadirkan masalah di antara kita," lirih lelaki itu. Alina yang sudah tak tahan segera mengambil beberapa kartu kredit miliknya. Ia melempar benda-benda itu tepat ke wajah Revan.


"Kamu masih tanya ada apa? Kenapa kamu blokir kartu kreditku tanpa pemberitahuan? Ini sudah kedua kalinya kamu melakukan ini. Memangnya kamu pikir aku tidak malu?" teriaknya sarkas.


"Maaf!" Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Revan. Membuat Alina semakin menggertakkan giginya.


"Hanya maaf saja? Aku tidak butuh permohonan maaf dari kamu!" Wanita itu berteriak lagi. Revan merasa telinganya seperti penuh dengan omelan Alina.


"Terus apa mau kamu?"


"Aku mau kamu aktifkan lagi kartuku."


Revan menghembuskan napas panjang. Sepertinya untuk kali ini ia tidak bisa lagi memenuhi permintaan kekasihnya itu.


"Untuk saat ini aku belum bisa mengaktifkan kartu kreditmu lagi. Perusahaan sedang mengalami masalah keuangan. Lagi pula minggu lalu kamu sudah menghabiskan ratusan juta hanya untuk belanja kesenanganmu, apa semua itu masih belum cukup juga?"


Mendengar itu, Alina melotot tidak terima. "Yang aku belanjakan tidak seberapa kalau dibandingkan dengan aset kekayaan perusahaan yang kamu miliki! Jangan lupa, kalau bukan karena aku yang membujuk ayah Daniza, mana mungkin dia mau menjodohkan anaknya dengan kamu!"


Sontak Revan berdiri dan menatap tajam Alina. Membuat wanita itu bergidik ngeri. Belum pernah sebelumnya Revan menatapnya seperti sekarang.

__ADS_1


"Jadi kamu mau itung-itungan jasa?" Revan mendorong bahu Alina. Wanita itu nyaris terjungkal ke belakang andai tangannya tidak berpegangan pada tepi meja. "Kalau saja kamu tidak menuntut ingin memiliki suami kaya, aku juga tidak akan berada di posisi ini. Sejak awal aku sudah kubilang tidak mau menikahi dan menipu Daniza, memangnya kamu lupa?"


Revan kembali mengingatkan Alina pada masa itu. Masa di mana Revan harus menikahi gadis yang sama sekali tidak dicintainya. Ia dipaksa menerima Daniza dengan sejuta kekurangannya.


Kini Revan merasa sedang menuai karma dari hasil perbuatan jahat yang ia lakukan dulu. Bayangan Daniza tak pernah lepas dari pikirannya, dan itu jelas mempengaruhi hubungan erat yang ia bangun bersama Alina dari sejak lama.


Alina meneguk saliva. Ia hampir lupa dengan poin tersebut. Beberapa saat wanita itu terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun.


Beruntung akal liciknya kembali menemukan solusi. Dulu, Revan paling tidak tahan melihatnya menangis. Ia akan menggunakan cara itu untuk meluluhkan Revan. Punggung tangan Alina menyeka cairan bening yang meleleh.


"Tidak usah menangis, Al! Kamu mau lari dari kesalahan?" tandas Revan ganas. Alina memang sangat keterlaluan. Tidak ada sedikit pun toleransi di hati wanita itu jika sudah menyangkut keinginannya.


"Aku sedih, Rev! Tadi aku bertemu dengan Daniza di mall. Dia mempermalukanku karena semua kartu kredit di dompet tidak bisa digunakan."


Mendengar nama Daniza disebut, Revan memfokuskan pandangannya kepada Alina.


"Kamu tahu? Daniza sekarang sudah berubah, dia bahkan berani pamer dan menghinaku. Dia menggunakan kartu kredit tanpa batas limit pemberian Alvin," seloroh Alina sengaja mengompori Revan dengan alibi agar lelaki itu mau mengaktifkan kartu kredit miliknya.


"Tidak usah membawa nama Daniza! Seharusnya kamu mengerti keadaanku sekarang. Tapi bukannya peduli kamu malah menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas."


"Tapi aku—"


"Tidak ada tapi-tapian!" tegas lelaki itu. "Sekarang keluar dari sini sebelum kesabaranku habis!"


Alina hampir tidak percaya bahwa kalimat menyakitkan itu terlontar dari mulut Revan. Bahkan sepasang matanya terasa sulit untuk berkedip.


"Kamu keterlaluan Revan! Sekarang kamu juga berubah, kamu sudah tidak peduli lagi sama aku!"


Alina mengusap air mata yang membanjiri pipi, lalu meraih tas miliknya dan pergi dengan terisak-isak. Jika ia pikir Revan akan mengejar, maka salah besar. Karena laki-laki itu seolah tak peduli dan memilih tetap duduk di ruangannya.

__ADS_1


Alina merasa kekasihnya sudah bukan Revan yang dulu lagi. Semenjak Daniza bersama Alvin sikap Revan berubah total. Semakin lama Revan semakin tak peduli bahkan secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya kepada Alina.


"Aku harus menggunakan cara apa agar kamu berubah seperti dulu lagi? Apa kamu tahu, aku bahkan rela membunuh bayi Daniza agar kamu bisa bersamaku, Rev."


Alina menyeka air matanya. Ia merasa usahanya selama ini sia-sia. Dulu ia yakin hati Revan hanya miliknya seorang. Tetapi kini ia ragu akan hal itu.


*


*


*


Setelah kepergian Alina, Revan kembali duduk melamun. Sepanjang hari ini dihabiskannya dengan memikirkan Daniza.


Entah harus dengan cara apa agar Daniza mau kembali kepadanya. Dan untuk itu Revan akan melakukan apapun, termasuk memutuskan hubungannya dengan Alina.


Sebuah pikiran licik memang, tapi inilah yang Revan pikirkan sekarang.


Kata orang sesuatu akan terasa berharga ketika kehilangan. Revan benar-benar membuktikan hal itu. Dulu, tanpa perasaan ia membuang Daniza, sekarang ingin memilikinya lagi. Terlebih, penampilan Daniza semalam jauh berbeda dari biasa.


"Aku yakin Daniza masih mencintaiku. Hanya saja si Alvin itu sudah terlanjur mencuci otaknya. Aku harus melakukan sesuatu."


Lamunan Revan harus membuyar karena adanya ketukan pintu dari arah luar. Seorang wanita yang merupakan sekretarisnya datang dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat.


"Permisi, Pak! Ini ada surat untuk Bapak."


"Surat dari siapa?" Lelaki itu mengernyit menatap sekretarisnya.


"Di sini tertulis dari Pengadilan Agama, Pak!"

__ADS_1


Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Revan gemetar. Sama sekali tidak pernah terpikir dalam benaknya bahwa Daniza akan melayangkan gugatan cerai.


...*****...


__ADS_2