Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Menjaga Keselamatan Daniza


__ADS_3

Setelah menyerahkan segala urusan ke tangan orang kepercayaannya, Alvin membawa pulang Daniza. Bukan ke apartemen, melainkan ke rumahnya sendiri.


Keselamatan Daniza menjadi pertimbangan utama Alvin. Akan jauh lebih aman jika Daniza tinggal di rumahnya bersama Mama, dibanding harus di apartemen sendirian tanpa pengawasan. Apalagi beberapa hari ke depan Alvin akan sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga waktunya akan terbagi dan sulit untuk memantau Daniza.


Mobil yang dikemudikan Alvin memasuki halaman rumah setelah penjaga membukakan gerbang. Sejenak Alvin memandangi Daniza yang belum juga terbangun. Seluruh perasaan takut kehilangan yang tadi memenuhi hatinya sirna saat itu juga.


"Sayang," bisik Alvin lembut, lalu membenamkan ciuman di kening berulang-ulang. Ia dekap tubuh lemah itu erat. Rasa bersalah mengikat hati begitu kuat karena merasa lalai menjaga Daniza.


Meski begitu, Alvin mengucap ribuan rasa syukur dalam hati karena datang tepat waktu, sehingga Daniza tidak sampai terjamah oleh Revan.


"Sayang, bangun!" bisiknya sekali lagi. Tak juga terbangun, akhirnya Alvin memilih menggendong Daniza.


Mama Elvira yang sedang menonton sinetron kesukaannya terlonjak saat mendengar pintu rumah digedor keras. Ia pun tampak cukup kesal.


"Itu siapa sih? Memang tidak lihat di depan ada bel, ya?"


Wanita paruh baya itu segera beranjak menuju pintu. Sepasang matanya melotot saat melihat Alvin datang dengan menggendong Daniza.


"Alvin? Kenapa Daniza?" tanya wanita itu.


"Ceritanya panjang, Mah. Aku bawa Daniz masuk dulu, ya!"


Cepat-cepat Alvin membawa Daniza menuju kamarnya. Mama Elvira mengikuti di belakang dengan tatapan penuh tanya.


Sesampainya di kamar, Alvin langsung membaringkan Daniza dan menyelimutinya hingga sebatas dada.


Melihat penampilan Alvin yang sedikit berantakan dan panik, Mama Elvira belum berani bertanya. Apalagi Daniza dalam keadaan pingsan.


Sementara Alvin mengutak-atik ponselnya. Dokter Mila adalah orang pertama yang wajib dihubungi.


"Halo, Mila! Bisa ke rumahku sekarang? Daniza pingsan dan aku butuh kamu! Iya, di rumahku. Tidak pakai lama, ya!"


Mama Elvira pun masih setia menunggu putranya untuk mendapat penjelasan. Tetapi sebelumnya, Alvin tergesa-gesa masuk ke kamar mandi dan keluar setelah mencuci muka.


"Sebenarnya ada apa, Vin? Kenapa kamu dan Daniza pulang dalam keadaan kacau? Itu kancing baju kamu sampai copot begitu. Kamu habis berantem sama siapa?" sergah Mama Elvira tanpa basa-basi.

__ADS_1


Duduk di tepi ranjang, Alvin mengatur napas sejenak. Kancing baju yang copot itu pasti karena tadi terlalu menggila saat menghajar penjaga rumah Revan.


"Daniza habis diculik, Mah."


"Diculik?" Sepasang bola mata Mama Elvira kontan membulat. "Diculik siapa?"


"Si cecunguk Revan!" jawab Alvin, masih terlihat kesal.


"Revan?" Wajah Mama Elvira tampak cemas. Terkejut membuatnya kehilangan kata. Beruntung keduanya bisa pulang ke rumah dengan selamat. Mama Elvira lantas duduk di samping Alvin. Tatapannya begitu menuntut sebuah penjelasan. "Kenapa Revan menculik Daniza? Apa dia masih tidak terima karena Daniza akan menikah dengan kamu?"


"Sepertinya begitu, Mah." Alvin menghela napas panjang. "Dia membius dan berniat melecehkan Daniza. Untung aku cepat datang."


Penjelasan Alvin kembali mengejutkan Mama Elvira. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Revan mampu berbuat nekat dan membahayakan orang lain.


"Keterlaluan sekali dia. Jadi Revan kamu apakan? Sudah lapor polisi, kan?"


Pertanyaan itu seketika membungkam Alvin. Jika dijawab jujur, mungkin bukan hanya sapu dan sandal berkolaborasi untuk flying in the sky. Bisa-bisa nama Alvin dicoret dari kartu keluarga mengingat kekejamannya tadi terhadap Revan.


Maka diam dan tetap menjadi anak baik adalah jalan terbaik untuk mengamankan diri. Begitu pikir Alvin.


"Tidak diapa-apakan, Mah. Aku langsung bawa Daniz pulang dan minta Eric yang urus Revan."


Sudut mata Mama Elvira pun berkerut melihat dua kancing kemeja Alvin yang copot, disertai bercak darah yang terlihat jelas di bagian dada. Padahal di tubuh Alvin sama sekali tidak ada luka, begitu pun dengan Daniza. Melihat itu, Mama sudah menyimpulkan bahwa sesuatu yang serius telah terjadi.


"Yakin tidak kamu apa-apakan?"


Alvin mengangguk mantap.


"Terus di kemeja kamu itu bercak darah siapa?"


Alvin gelagapan. Sorot matanya langsung tertuju pada kemeja berwarna krem yang digunakannya. Di sana memang ada bercak darah yang sepertinya milik penjaga pos di rumah Revan, sebab tadi Alvin menghajarnya habis-habisan.


Gawat! Bisa dicincang sama mama kalau sampai ketahuan!


Alvin masih memikirkan jawaban saat pintu kamar itu diketuk. Kedatangan Dokter Mila benar-benar menyelamatkan Alvin dari interogasi Mama Elvira. Teman satu ini memang selalu dapat diandalkan, tidak seperti Eric si manusia bocor.

__ADS_1


Setelah sedikit saling sapa, Dokter Mila langsung memeriksa keadaan Daniza. Sementara Mama Elvira memilih keluar kamar. Ia akan menghubungi informannya yang paling terpercaya.


Kebetulan Eric memang sedang dalam perjalanan ke rumah itu, sehingga Mama Elvira tak perlu menunggu lama.


"Apa benar Daniza baru saja diculik oleh mantan suaminya?" Pertanyaan menuntut itu menjadi sambutan pertama Eric di rumah itu.


"Benar, Tante. Untung ada rekaman CCTV di apartemen. Selain itu, Alvin juga memasang GPS di hp Daniza, makanya Daniza cepat ketemu."


Mama Elvira bernapas lega. Mungkin memang benar Alvin tidak melakukan apa-apa.


"Jadi kamu sudah lapor polisi?"


Eric menghembuskan napas panjang. Malam ini Alvin benar-benar membuatnya kerepotan sekaligus bingung. "Tadinya sudah lapor polisi, Tante. Tapi anak Tante yang budiman seantero galaksi Bima Sakti itu tiba-tiba minta laporannya dicabut!"


"Kenapa memangnya? Revan kan melakukan kejahatan serius dengan menculik Daniza."


"Memang sih, tapi kejahatan Alvin lebih serius."


"Serius bagaimana?"


"Pagar rumah orang dipotong-potong!"


Raut wajah sang mama sudah mulai menggeram. Tetapi berusaha ditutupinya demi mengorek info lebih dalam dari Eric. "Terus?"


"Liat aja mobilnya di depan, kayak habis disuwir-suwir begitu."


Mama Elvira mengintip keluar jendela. Dari sana ia bisa melihat bagian depan mobil Alvin yang hancur.


Padahal sebenarnya tadi Alvin sudah memerintahkan agar Eric langsung membawa mobil ke bengkel. Tentu saja dengan tujuan agar tidak sampai ketahuan mama.


"Terus Revan sendiri bagaimana?"


"Digeprek sama anak buahnya Alvin. Sekarang orangnya di rumah sakit karena patah tulang," jawab Eric polos.


Mama Elvira kembali menarik napas dalam demi menetralkan jiwanya yang membara.

__ADS_1


"Alvin Alexander!" gumamnya dengan rahang mengetat.


****


__ADS_2