Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Biarkan Daniza Tinggal Di sini!


__ADS_3

Alvin seketika membungkam. Sindiran Mama Elvira benar-benar tepat mengenai hati dan melemaskan jantung. Kini otaknya sedang memikirkan cara untuk menghindari pembicaraan ini.


"Maafin aku, Mah ...." Hanya kata itu yang dapat terucap.


Sementara Mama Elvira tak lagi berkata-kata. Tidak tahu lagi harus berbuat apa terhadap putra semata wayangnya itu.


"Oh ya Mah, sebenarnya ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan Mama." Raut wajah Alvin berubah serius. Sebab ia tak yakin Mamahnya akan setuju.


"Soal apa?"


Sekarang Alvin memasang wajah anak baik demi merayu sang mama. Ia genggam tangan lembut yang telah merawatnya sejak bayi itu.


"Mah, terus terang saja kejadian ini membuat aku parno."


"Jadi mau kamu bagaimana?" Ekspresi Mama Elvira terlihat datar. Ia sudah menebak pembicaraan Alvin akan bermuara ke mana.


"Kalau bisa biar Daniz tinggal di sini saja, Mah. Aku takut Daniz diculik lagi. Kalau bukan sama Revan mungkin sama laki-laki lain."


Mama Elvira terdiam selama beberapa saat. Alvin tahu mamanya tidak akan setuju jika Alvin dan Daniza tinggal satu atap sebelum resmi menikah. Tetapi, Alvin tak kehabisan akal. Kali ini ia akan merayu agar sang Mama luluh.


"Gimana, Mah? Aku pastiin putramu yang budiman ini tidak akan berbuat macam-macam selama Daniz tinggal di sini. Untuk masalah pingitan, aku juga janji tidak akan ngobrol ataupun mendekati Daniz. Kalau perlu, aku akan menganggap dia makhluk tak kasat mata di rumah ini."


Mama Elvira berdecak gemas. Beberapa saat kemudian ia tertawa karena tingkah Alvin dalam merayu layaknya seorang anak kecil yang meminta mainan.


"Yakin kamu bisa begitu?" Sebelah mata Mama Elvira memicing.


"Yakin, Mah! Jadi anggap saja aku dan Daniz tetap menjalani proses pingitan karena kita tidak saling menegur satu sama lain. Dengan begitu sama saja, kan?"


Mama Elvira kembali tertawa mendengar usulan nyeleneh putranya.


"Pingitan tidak begitu prosesnya, Vin. Mama bisa saja mengizinkan Daniz tinggal di sini, tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


"Ya ampun kayak beli kartu pendana deh. Banyak syarat dan ketentuan berlaku," protesnya. "Syarat apalagi, Mah? Yang aku usulkan tadi bukannya sama saja?"


Alvin memandang malas. Ia tahu syarat yang diberikan Mama Elvira pasti akan mempersulit hidupnya.


"Daniz tinggal di sini, tapi untuk sementara waktu kamu harus tinggal di tempat lain."


Spontan kelopak mata Alvin membeliak. Jelas tidak terima dengan usul sang mama. "Kok, gitu? Mama mau ngusir aku?"


"Bukan mengusir, tapi mengusulkan."


Wajah Alvin mulai menekuk. "Aku bawa Daniz ke rumah ini untuk bisa melindungi dia, Mah. Kalau tinggalnya tetap terpisah jadinya sama aja."


"Mama juga bisa melindungi Daniza?" ucap Mama Elvira penuh yakin.


Kesal dengan Mamanya, Alvin memanyunkan bibir seperti yang biasa ia lakukan saat keinginannya ditentang oleh sang mama.


"Apa Mama yakin kalau Mama bisa dipercaya? Di film-film ibu mertua 'kan selalu jahat sama menantunya."


Rahang Mama Elvira terbuka lebar. Tak habis pikir dengan tingkah Alvin. "Memangnya kamu sendiri bisa dipercaya? Semua laki-laki itu tidak bisa dipercaya selama mereka belum menikah. Mama lebih ngeri Daniz disosor duluan kalau ada kamu di sini."


"Kamu saja tidak percaya sama Mama, jadi Mama juga tidak bisa mempercayakan Daniz kepada laki-laki hidung belang seperti kamu, kan?"


"Tapi, Mah—"


"Diam! Biarkan Daniza tidur dengan tenang malam ini. Kemasi barang-barang kamu, dan jangan ada drama lagi di antara kita. Sekian terima kasih."


Mama Elvira beranjak keluar kamar setelah keputusan sepihak yang ia buat.


Sementara Alvin menggelengkan kepalanya tak percaya. Meskipun sepenuhnya mengakui dirinya tukang sosor, tetapi tetap saja tidak bisa menerima tuduhan itu.


"Senyosor-nyosornya aku, masih dalam batas wajar! Begini-begini anak Mama ini belum pernah menghamili anak orang!" Alvin menggerutu dalam hati.

__ADS_1


"Setelah menjadi pahlawan untuk Daniz, jadi ini ganjaran yang harus aku terima? Dunia memang tak adil!" Alvin melempar bantal sofa ke sembarang arah, yang sialnya malah mengenai miniatur motor Harley Davidson miliknya hingga jatuh ke lantai dan terburai.


Suara berisik yang ditimbulkan benda itu berhasil membangunkan Daniza. Wanita itu terbangun dalam keadaan ketakutan dan hampir menangis. Melihat itu, Alvin langsung mendekat dan memeluknya.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Daniza, yang masih belum menyadari sedang di mana. Ia memukul-mukul dada Alvin sambil memberontak dengan sisa tenaga.


"Tenang, Daniz. Ini aku," bisik Alvin, mengeratkan dekapannya pada tubuh lemah itu. Tangannya yang lebar membelai rambut dan punggung dengan penuh kelembutan. "Tenang, Sayang."


Perlahan tangis Daniza mulai terhenti. Hatinya mulai tenang saat kesadarannya mampu mengenali suara, sentuhan hangat, dan aroma tubuh calon suaminya itu.


Pandangannya lantas meneliti seisi kamar. Daniza baru sadar tidak lagi berada di kamar lamanya. Melainkan di sebuah ruangan asing. Tetapi, Daniza tidak begitu peduli selama ada Alvin di dekatnya ia akan aman.


"Aku takut sekali, Kak!" lirih Daniza, semakin membenamkan tubuhnya di pelukan Alvin.


"Sudah, Sayang. Jangan takut, kamu aman di sini."


Selama beberapa saat, Daniza hanyut dalam buaian Alvin. Tetapi kemudian refleks melepas pelukan dengan sedikit panik, lalu meraba bagian tubuhnya sendiri. Meskipun tersamar, Daniza dapat mengingat bahwa tadi Revan sempat berusaha membuka pakaiannya di kamar.


"Dia tidak melakukan apa-apa ke aku, kan? Tadi dia sempat mau membuka baju aku."


Mengulas senyum, Alvin kembali mencoba menenangkan Daniza dan menghapus cairan bening yang meleleh di pipi. "Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh kamu selain aku."


Akhirnya Daniza bernapas lega. Alvin merangkum wajah wanita itu. Menatapnya hangat penuh cinta, lalu membenamkan ciuman ke kening, pipi dan bibir.


Keduanya larut dalam sentuhan. Daniza hanya memejamkan mata ketika bibir Alvin yang kenyal dan lembut menjelajahi wajahnya.


Tanpa disadari oleh keduanya, Mama Elvira sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejut sekaligus kesal.


"Alvin!" pekik Mama Elvira, membuat Alvin dan Daniza tersentak.


"Mama?"

__ADS_1


"Iya kan, baru ditinggal lima menit kamu sudah nyosor! Sekarang kemasi barang-barang kamu dan keluar dari rumah!"


***


__ADS_2