
"Ampun, Daniz!" pekik Alvin sambil memegangi tangan Daniza yang mencengkram rambutnya kuat.
"Kak Alvin menyebalkan. Aku kan sedang dalam mode sedih!" Bibir Daniza sudah maju. Membuat Alvin terkekeh. Entah mengapa sikap Daniza yang merajuk manja malah membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Kenapa juga kamu harus sedih hanya karena mereka. Lupakan saja calon mantan suami kamu itu! Dia saja tidak pernah mencari atau sekedar memikirkan kamu!"
Alvin kembali mengompori Daniza. Padahal kenyataannya Revan sampai mengirim orang untuk mencari Daniza. Tetapi, Alvin menghalangi dengan berbagai cara. Sekarang ia malah berkata Revan tidak pernah mencarinya.
Ah, pebinor satu ini memang pandai memanfaatkan kesempatan dan kesempitan.
"Sekarang lebih baik kamu pikirkan masa depanmu sendiri. Kamu tidak mungkin selamanya mau hidup seperti ini, kan?"
Daniza terdiam beberapa saat memikirkan akan seperti apa hidupnya ke depan. "Aku ingin bercerai dari dia, Kak!"
"Bagus itu!" celetuk Alvin begitu saja. Namun, kemudian tersadar dan langsung mengatupkan bibirnya. "Maksudku ... aku ikut sedih kalau kamu harus sampai bercerai dari dia. Tapi kamu tenang saja, aku pasti akan bantu semampuku!"
"Apa bisa secepatnya?"
Mendengar ucapan Daniza, Alvin semakin senang, walaupun tetap berusaha terlihat sedih. Jika saja saat ini tidak ada Daniza di hadapannya, mungkin ia sudah melompat kegirangan layaknya anak kecil yang mendapat mainan. Tapi yang Alvin lakukan hanya memasang wajah prihatin. Padahal dalam hati sedang bersorak.
"Tentu saja bisa! Kamu punya banyak alasan untuk menggugat cerai dia. Pengadilan pasti akan mengabulkan."
"Kalau cepat cerai, kan aku yang senang!" seloroh Alvin dalam hati.
"Kalau begitu kamu harus siap-siap. Aku akan mengantarmu ke salon. Kamu harus tampil cantik malam ini."
Daniza melirik Alvin yang sudah berdiri dari duduknya.
"Tapi kalau kita membuat masalah dengan mereka, apa pemilik perusahaan tempat Kak Alvin bekerja tidak akan marah?" ucap Daniza khawatir. "Aku takut Kak Alvin akan mendapat masalah dan dipecat nanti hanya karena aku. Apa lagi, perusahaan ayah yang diambil alih Mas Revan ada kerjasama dengan perusahaan tempat Kak Alvin bekerja."
Ingin sekali Alvin tertawa mendengar ucapan polos Daniza. Kepolosan itu lah yang membuatnya begitu jatuh hati. Alvin masih ingat pertama kali bertemu dengan Daniza. Seorang gadis culun dan sedikit kampungan yang begitu menyita perhatiannya.
"Kamu tenang saja. Pemilik Alamjaya berteman baik denganku. Apa kamu tahu, pemilik Alamjaya juga alumni sekolah kita."
Sepertinya Alvin tidak sadar sedang salah bicara. Daniza memiliki trauma terhadap teman-teman masa sekolahnya, terutama dengan anak laki-laki.
"Apa aku mengenalnya?"
Alvin mengumpati mulutnya saat itu juga. Sebab ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan Daniza itu.
__ADS_1
"Emh, sepertinya kamu tidak kenal. Dia dulu anak baik, pendiam, dan jarang bergaul," jawabnya berbohong.
"Padahal pemilik Alamjaya itu bandel, sering tawuran, dan pernah mengurung kamu di gudang karena cemburu," tambah Alvin dalam hati.
Daniza baru bernapas lega. Sekarang ia harus segera bersiap-siap untuk kejutan malam ini.
*
*
Di sisi lain ....
Revan termenung menatap hiruk pikuk kota di siang hari lewat jendela kaca di ruang kerjanya. Matanya tertuju pada mobil-mobil kecil di bawah sana, tapi pikirannya tak demikian, otaknya hanya tertuju pada satu nama.
Daniza ….
Wanita itu berhasil meluluhlantakkan pikiran Revan. Kini lelaki itu sadar, bahwa ia tak mungkin mampu menggenggam dua tangan sekaligus. Jika ia memutuskan untuk menggenggam yang satu, yang satunya mungkin akan digenggam orang lain.
Itulah yang Revan rasakan semenjak Alvin hadir menjadi penghalang hubungan mereka. Daniza semakin bergerak jauh, sementara Revan semakin sulit menggapainya.
"Permisi, Pak!" Lelaki itu tersentak dari lamunan saat mendengar sebuah panggilan. Revan menoleh, ternyata itu adalah sekretarisnya .
"Ada apa?"
"Anda mendapat undangan pesta ulang tahun dari perusahaan Alamjaya Group. Tapi waktunya bertabrakan dengan pertemuan klien dari perusahaan yang datang ke kantor kita kemarin. Bagaimana, Pak? Anda mau menghadiri yang mana?" tanya si sekretaris.
Revan berjalan lalu duduk di kursi kebanggaannya. "Tentu saja aku memilih bertemu dengan klien kita. Perusahaan kita sedang membutuhkan banyak kerjasama," ucap Revan. Sekretaris Revan mengangguk, patuh.
"Baik Tuan, kalau begitu saya per—"
"Tunggu dulu!" potong Revan secepat kilat. Belum sempat sang sekretaris melanjutkan bicaranya, lelaki itu langsung berjalan mendekat seraya mengambil undangan yang ada di tangannya.
"Kita ke acara pesta perusahaan Alamjaya Group saja!" seru Revan. Ada seringai licik yang tersungging tipis di bibirnya. Melalui acara nanti malam, Revan berharap ia bisa mencari tahu informasi tentang Daniza.
Ia yakin Daniza pasti ada bersama Alvin saat ini.
"Baik, kalau begitu saya akan batalkan pertemuan dengan klien kita dan mengganti ke hari lain," tutup sang sekretaris.
Revan kembali duduk di kursi sambil memandangi undangan dari perusahaan rivalnya itu.
__ADS_1
Revan pikir memang lebih baik jika ia ke sana. Ia bisa menyusun rencana untuk membongkar perbuatan Alvin jika benar ia yang telah menyembunyikan Daniza.
***
Mobil milik Alvin melaju meninggalkan gedung apartemen menuju sebuah salon. Sepanjang perjalanan, Daniza tak banyak bicara. Ia memilih menikmati perjalanan dengan memandangi padatnya jalanan.
Sebelum menuju salon, Alvin menyempatkan diri mendatangi butik mamanya. Karena di butik Mama Elvira menawarkan koleksi pakaian bagus.
Daniza tampak ragu saat melihat bangunan berlantai empat itu. Ia pikir Mama Elvira pasti akan memukul Alvin lagi, atau kalau tidak menjambak rambutnya.
"Kita mau apa ke sini, Kak?" tanya Daniza sambil memandang takut butik milik Mama Elvira.
"Beli baju buat kamu," jawab Alvin santai.
Daniza masih ragu. Bagaimana pun juga kebaikan Alvin kepadanya yang sangat berlebihan membuatnya tidak enak terhadap Mama Elvira.
"Kenapa tidak ke butik lain saja, Kak? Aku tidak enak kalau harus di sini."
"Tidak apa-apa, Daniz! Justru butik mama ini salah satu butik terbaik di kota ini. Koleksi pakaian di butik mama juga bagus-bagus." Alvin sudah melepas sabuk pengaman dan juga membantu melepas sabuk pengaman Daniza.
Saat Alvin membungkuk, wajah mereka hampir saja bertemu. Entah mengapa Daniza merasakan debaran kuat di jantungnya. Jika ditatap dari jarak begitu dekat, Alvin memang sangat tampan. Tidak heran jika dulu para siswi mengidolakan dirinya.
Hembusan napas segar laki-laki itu bahkan seperti menghipnotis dirinya.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Alvin dalam jarak yang begitu dekat.
Daniza benar-benar berharap Alvin tidak akan mendengar detak jantungnya yang cepat.
"Tidak apa-apa, Kak!" ucapnya gugup. Daniza menundukkan pandangan demi menyembunyikan semburan merah di pipinya.
"Ayo, turun!"
Alvin membawa Daniza memasuki butik mama Elvira. Keduanya langsung disambut oleh karyawati butik Mama Elvira. Karina, tampak terkejut melihat Alvin datang dengan seorang wanita. Sebab setahunya selama ini Alvin tidak memiliki kekasih. Tentunya, ia tidak mengenali penampilan baru Daniza.
"Ada angin apa sampai anak mama yang berbakti ini datang berkunjung?" Sapaan bernada sindiran itu membuat Alvin merinding.
****
*
__ADS_1
*
*