Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Menyelamatkan Daniza


__ADS_3

"Kamu yakin?" Eric menautkan kedua alisnya.


"Siapa lagi kalau bukan bajing@n itu?" Alvin menggeram. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku blazernya.


Laki-laki itu langsung memeriksa lokasi keberadaan Daniza melalui GPS yang diam-diam ia pasang pada saat pertama kali membelinya. Beruntung ponsel milik Daniza masih aktif, sehingga tidak sulit bagi Alvin untuk melacak. Sepertinya si penculik lupa untuk mematikan.


"Bagaimana?" tanya Eric sedikit mendesak.


"Ini lokasinya cukup jauh dari sini," jawab Alvin, sambil berusaha menemukan akses tercepat untuk menuju lokasi Daniza.


Setidaknya akal sehat Alvin masih berfungsi. Ia tidak boleh gegabah dan sembarangan mengambil langkah, sebab keselamatan Daniza sedang terancam.


"Eric, kita bagi tugas saja. Kamu ke kantor polisi untuk membuat laporan penculikan Daniza. Copy rekaman CCTV sebagai bukti. Aku akan kirim ke hape kamu lokasi keberadaan Daniza sekarang," perintah Alvin. "Aiman, kamu ikut Eric ke kantor polisi."


"Kamu sendiri mau ke mana?" Eric berusaha menahan Alvin saat laki-laki itu hendak melangkah.


"Jangan banyak tanya dan jangan buang-buang waktu! Kerjakan saja apa yang kuperintahkan!" Setelahnya, Alvin bergegas meninggalkan ruang kendali gedung apartemen itu menuju parkiran. Di belakangnya, Eric dan Aiman menyusul dengan langkah tergesa-gesa.


Saat telah duduk di kursi kemudi, Alvin menyalakan mesin mobil dan melaju cepat menuju lokasi Daniza.


"Bangs@t! Dia cari mati rupanya!" gumam Alvin sambil mengemudi. Mobil yang ia kemudikan melesat cepat di tengah keramaian. Alvin bahkan tidak peduli meskipun beberapa pengemudi lain memaki karena hampir tertabrak olehnya.


Melewati persimpangan jalan, Alvin memilih membelokkan mobil ke kanan. Setahunya, ini adalah jalan pintas menuju lokasi keberadaan Daniza sekarang. Dalam keadaan masih dikuasai amarah, ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Kali ini tidak akan ada ampun jika memang pelakunya memang Revan.


"Halo, Bro! Mau santapan lezat tidak?"


*


*


*


Di dalam sebuah kamar, Daniza masih belum tersadar dari pingsan akibat mengirup chloroform. Tubuhnya yang lemah terbaring tak berdaya di atas ranjang empuk. Sepasang mata menatapnya penuh hasrat. Revan tersenyum sambil membelai kulit wajah Daniza yang lembut dan mulus.


Hari ini, ia nekat membawa pergi Daniza dan menyelamatkannya dari cengkraman Alvin. Sebab Revan yakin Daniza sebenarnya terpaksa menerima pinangan laki-laki itu.


"Sekarang kamu aman di sini. Alvin tidak akan menemukan kamu," bisiknya dengan lembut ke telinga.

__ADS_1


Tak peduli akan seperti apa kemarahan Alvin nanti, ia membuka kancing kemeja yang digunakan Daniza. Dengan keyakinan bahwa Alvin akan meninggalkan Daniza jika ia kembali menjamah mantan istrinya itu.


Namun, baru satu kancing terbuka Daniza sudah menunjukkan tanda akan terbangun. Kelopak matanya wanita itu mengerjap beberapa kali. Kemudian memijat kepala yang masih terasa berat.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" bisik Revan.


Daniza terlonjak saat mendengar suara familiar itu. Bola matanya yang sayu seketika membulat penuh saat menatap wajah sang mantan suami. Daniza baru menyadari dirinya tidak sedang terbaring di kamar apartemen, melainkan di kamar lamanya yang sempat ditempati Alina.


"Kamu?" pekik Daniza sambil memeriksa baju kemejanya. "Apa yang kamu lakukan?"


Daniza mendorong dada Revan, lalu memaksakan tubuhnya yang masih terasa lemah untuk bangkit. Ia tiba-tiba gemetar dan mulai berkeringat. Ingin membuka pintu, namun sayang terkunci rapat.


Sementara Revan berusaha bersikap tenang menghadapi kepanikan Daniza. "Tenang, Daniza. Aku membawa kamu ke sini untuk membicarakan hubungan kita. Aku tahu kamu pasti dipaksa Alvin untuk menggugat cerai aku, kan? Aku tidak datang ke persidangan hari itu karena dicegah Alvin. Aku mau memulai dari awal lagi bersama kamu."


"Aku tidak terpaksa, aku memang mau cerai dari kamu!"


Namun, jawaban itu tak ditelan mentah-mentah oleh Revan. Ia masih yakin bahwa Daniza telah dihasut Alvin untuk membencinya. Sebab dulu, Daniza begitu mencintai dirinya.


"Kamu tidak usah takut, Daniz. Di sini tidak ada Alvin. Aku hanya berusaha menyelamatkan kamu dari laki-laki seperti dia. Dia itu tidak layak untuk kamu," bujuknya melembutkan suara. "Kamu masih mencintai aku, kan?"


Daniza menggeleng cepat. Memang dulu ia pernah mencintai Revan. Tetapi, kini tidak ada lagi tempat di hatinya untuk laki-laki tidak berguna seperti Revan.


Bukannya peduli, Revan malah mendekat dan memeluknya. "Daniza, coba ingat-ingat lagi masa kebersamaan kita. Apa kamu sudah lupa ini dulu kamar kita? Kita sering menghabiskan malam berdua di kamar ini?" Kalimat yang dibisikkan Revan terdengar sangat menjijikkan di telinga Daniza.


"Kak Alvin tolong aku," lirih Daniza dalam hati. Tenaganya yang tersisa tak sanggup lagi untuk memberontak.


Lelehan air mata mulai mengalir di kedua sisi pipinya. Demi apapun, Daniza lebih baik mati dari pada harus terjamah oleh Revan. Bagi Daniza semua miliknya hanyalah untuk Alvin seorang.


"Lepas ... tolong lepaskan aku," lirih Daniza sekali lagi.


Keringat membasahi tubuhnya, sesak pun mulai memenuhi dada. Kelopak mata Daniza kembali terpejam.


*


*


*

__ADS_1


Mobil milik Alvin berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dengan gerbang tinggi menjulang. Sejenak ia ponsel demi memastikan tidak salah alamat. Jangan sampai salah masuk dan mengamuk di rumah orang lain.


Ia menatap ke dalam halaman rumah tersebut. Di sana terparkir sebuah mobil dengan nomor plat sama seperti yang tadi membawa Daniza pergi.


Seorang penjaga pos tampak keluar setelah melihat sebuah mobil berhenti di depan. Alvin membuka kaca jendela mobil sambil membunyikan klakson.


"Woy b@ngsat, buka gerbangnya!" teriak Alvin penuh amarah.


"Mau cari siapa?" tanya laki-laki itu.


Namun, bukannya menjawab pertanyaan itu, Alvin malah terus membunyikan klakson yang memekakkan telinga. "Buka gerbangnya atau saya tabrak!"


"Maaf, tapi bos saya melarang membuka gerbang untuk siapapun!"


"Br3ngsek!" maki Alvin.


Geram dengan ulah penjaga pos, Alvin menggerakkan mobilnya mundur, kemudian melaju dengan kecepatan penuh. Mobil super mewah nan mahal itu pun harus menghantam gerbang besi bertubi-tubi. Alvin tak lagi peduli meskipun mobil kesayangannya harus ringsek atau rusak sekali pun.


Tak ada yang dapat mencegah. Bahkan lelaki di dalam sana tampak panik sembari terus memberi peringatan agar Alvin berhenti menabrakkan mobilnya pada gerbang.


"Minggir!" teriak Alvin lagi. Belasan kali mobilnya beradu dengan gerbang kokoh itu hingga tumbang. Jangan tanyakan kondisi mobil Alvin sekarang yang sudah ringsek parah.


Sementara penjaga gerbang itu tampak kalang kabut melihat pria asing yang berusaha menerobos dengan membabi buta.


"Ke mana bajing@n itu membawa Daniza!" teriak Alvin murka.


"Apa-apaan Anda! Jangan sampai bos saya lapor poli—"


Bugh! Bugh!


Belum selesai kalimat sang penjaga pos, kepalan tinju Alvin yang keras sudah mendarat tepat di wajahnya. Laki-laki berbadan besar itu tumbang seketika.


"Banyak b@cot!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2