Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Di mana Daniza?


__ADS_3

Setibanya di apartemen, Alvin segera menuju lift dengan membawa dua kantongan belanjaan tadi. Sebelumnya ia juga sempat mampir sebentar ke sebuah kedai makanan dan membeli beberapa menu yang mungkin disukai Daniza.


Mendapat penilaian dari Daniza bahwa dirinya adalah calon suami siaga dan calon suami idaman adalah misi Alvin saat ini.


"Daniz!" panggil Alvin sesaat setelah masuk ke unit apartemennya.


Daniza yang sedang duduk berselonjor di ruang tamu itu langsung bangkit.


"Ini barang titipan kamu! Aku juga mampir sebentar beli makanan. Kamu pasti belum makan."


Daniz menatap dua kantongan belanjaan dari mini market yang baru saja diletakkan Alvin ke atas meja.


"Kak Alvin borong satu minimarket?" tanyanya setelah melihat dua kantongan yang isinya hanya pembalut wanita.


"Kamu tidak sebut merk, cuma bilang pembalut wing. Udah aja aku beli semua," jawabnya sembari duduk di sofa dan melepas sepatu.


"Tapi tidak begini juga."


"Barangkali kamu mau jualan sekalian." Alvin terkekeh, lalu bangkit dari sofa. "Makan bareng, yuk!"


Daniza hanya menatap punggung tegap laki-laki itu. Dalam keadaan terpuruk seperti sekarang, ia benar-benar bersyukur masih memiliki Alvin yang selalu ada di barisan paling depan untuknya. Alvin bahkan harus sering bertengkar dengan mamanya hanya karena dirinya.


*


*


*


Sementara itu di tempat lain, Revan baru saja menerima laporan dari orang suruhannya yang diperintahkan untuk menghajar Alvin dan menemukan alamat Daniza. Tetapi, apa yang ia dapatkan ternyata tak sesuai harapan.


"Kami tidak berhasil menemukan tempat Bu Daniza bersembunyi," ucap salah satu pria.


Revan mendengkus marah sambil memukul meja.


"Kalian memang bodoh! Mengerjakan hal semudah ini saja tidak becus! Kalian ber-enam, mana mungkin bisa kalah dari dua orang saja," maki Revan kepada para orang suruhannya.


Tak ada yang berani menjawab ataupun membela diri. Semuanya diam dengan kepala menunduk. Revan lantas menggeser sebuah amplop berwarna cokelat ke meja.


"Kalian boleh pergi!"


******

__ADS_1


Semakin hari Revan semakin dibuat kelimpungan mencari keberadaan Daniza. Karena sekarang Alvin benar-benar menutup akses Revan untuk menemukan Daniza. Bahkan nomor telepon daniza sudah tidak aktif lantaran Alvin telah menggantinya dengan nomor yang baru.


Entah kenapa, sejak Daniza menghubunginya tapi tak diangkat, Revan menjadi semakin kalut. Ia merasa di titik tak berguna. Kemarin bayi dan istrinya sedang membutuhkan bantuan, tapi ia malah sibuk bersenang-senang dengan Alina.


"Bagaimana caranya aku bisa menemui Daniza? Kalau saja aku tidak menuruti keinginan Alina untuk melakukan dinner romantis, mungkin anak dalam kandungan Daniza masih bisa selamat," geram Revan. Mengingat malam kejadian Daniza memergokinya dengan Alina.


Tangan Revan terkepal kuat saat mengingat hal itu. Kabar Daniza keguguran membuat Revan benar-benar kehilangan. Ia merasa bersalah terhadap Daniza dan juga anaknya.


Entah mengapa Revan sendiri menjadi kesal terhadap Alina. Wanita itu terlalu banyak menuntut waktu. Bahkan di kantor Revan sering kerepotan karena waktunya habis oleh Alina. Revan merasa Alina dan Daniza benar-benar dua orang berbeda.


Belum sempat Revan berhenti melamunkan sikap buruk Alina, wanita itu tiba-tiba nyelonong masuk ke ruang kerjanya tanpa permisi.


"Revan!"


Lelaki itu tersentak. Ia menatap Alina yang berjalan cepat sambil memasang wajah marah. Sudah bisa ditebak, sebentar lagi pasti akan ada peperangan terjadi di ruangan ini.


"Ada apalagi Alina? Bukannya kemarin aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu? Apa masih kurang sampai kamu harus datang ke kantorku begini?" kesal Revan.


"Kamu pikir hidup ini hanya butuh uang? Aku juga butuh kamu!"


Suara jutek yang sengaja dibuat manja itu membuat Revan mengepalkan tangannya geram. Wanita itu berjalan semakin dekat, lalu duduk di kursi dengan meja kerja sebagai penghalangnya.


"Hmmm. Tentu saja aku mau waktumu. Sejak Daniza keguguran yang kamu pikirnya hanya dia. Kamu sampai lupa kalau akulah wanitamu yang sesungguhnya," protes Alina.


Mata almond Revan memicing. "Untuk apa membahas yang seperti itu di kantor? Jika kedatanganmu ke sini hanya ingin mencari gara-gara, sebaiknya kamu pulang saja. Hari ini aku benar-benar tidak ingin ribut!"


Mendengar itu, Alina melotot tajam. "Apa tadi kamu bilang? Mencari gara-gara? Sadar Revan! Hanya karena anak sialan dalam kandungan Daniza kamu sampai tidak peduli lagi padaku."


Revan yang tidak terima langsung memukul meja dengan gebrakan murka. "Apa kamu bilang? Dengar, ya Al. Bagaimana pun juga itu anakku … darah dagingku. Wajar kalau aku merasa kehilangan!"


"Cih! Aku bisa memberimu banyak anak. Untuk apa kamu memikirkan anak dari Daniza yang tidak penting itu?"


"Gila kamu ya, Al!" Revan menarik napas dalam-dalam. Ia mulai tidak tahan dengan sikap Alina yang baginya berlebihan. "Lebih baik sekarang kamu keluar!"


"Kamu mengusir aku?"


Pertikaian semakin dalam. Tak ada satu pun yang mau mengalah di antara mereka berdua. Revan mau Alina menjadi wanita yang pengertian, sementara Alina mau Revan selalu memprioritaskannya lebih dari siapa pun.


Alina tidak suka dengan sikap Revan karena belakangan ini lelaki itu terlalu cuek.


Sambil tersenyum sinis, Alina melipat tangannya di depan dada. "Oh, jadi begitu kamu sekarang? Sepertinya kamu bukan sedang bersedih karena anak itu ya, Rev. Kelakuanmu sekarang menggambarkan kalau Daniza sudah mulai merasuki otakmu. Kamu sedih karena Daniza tak bisa dihubungi. Iya 'kan?"

__ADS_1


"Kalo iya kenapa?" Revan berdiri. Hal itu membuat Alina membelalak tak percaya.


"Memangnya kenapa kalau aku memikirkan Daniza? Bagaimana pun juga dia masih istriku … tak ada salahnya juga jika aku mencari keberadaannya," ucap Revan lagi.


"Keterlaluan!" teriak Alina tidak terima.


"Kalau kamu merasa aku keterlaluan. Silakan cari laki-laki lain yang bisa memuaskan keinginanmu. Akhiri saja hubungan ini agar kamu bebas!"


"Revan!" Alina menghentakkan kakinya kesal.


Ia mendengkus sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu. Kata-kata Revan terkesan serius, dan itu membuat Alina takut. Ia memutuskan pergi daripada perdebatan mereka semakin tak terkontrol lagi.


*


*


*


"Apa ini?" Daniza menatap sebuah kartu undangan yang baru saja diserahkan Alvin kepadanya.


"Itu undangan ulang tahun perusahaan Alamjaya Grup tempatku bekerja. Aku diundang ke sana dan sepertinya aku tidak enak pergi sendiri. Apa kamu bersedia menemaniku ke sana?"


Daniza berpikir sejenak. Pesta formal semacam itu sebenarnya tidak cocok dengan dirinya.


"Maaf, Kak. Sepertinya aku tidak bisa. Kak Alvin ajak yang lain saja."


Alvin bersandar dengan lemas. Sekarang ia memasang wajah paling menyedihkan. Membuat Daniza menjadi tidak enak sendiri.


"Padahal aku mau mengajakmu bermain-main dengan Revan dan Alina. Tapi sepertinya kamu tidak tertarik."


Mendengar nama yang baru saja disebut Alvin, tangan Daniza terkepal marah. Perbuatan Alina dan Revan membuat dendam mengakar di hatinya.


"Kalau begitu aku akan ikut. Aku harus membalas mereka yang sudah menari-nari di atas penderitaanku!" ucap Daniza penuh keyakinan.


Alvin menatap Daniza yang kini mulai berkaca-kaca. Demi apapun, Alvin tidak pernah tahan jika Daniza bersedih. Dan ia akan melakukan apapun untuk menghilangkan kesedihan wanita itu.


"Oh ya, Daniz! Memang menari di atas penderitaan orang itu tarian dari daerah mana? Mereka harus dituntut, sudah tahu menderita, kenapa malah menari?"


Detik itu juga Daniza kehilangan fokus. Ia menatap lelaki di hadapannya. Tanpa sadar tangannya terangkat menjambak rambut Alvin saking gemasnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2