
Alvin keluar dari minimarket setelah melakukan pembayaran. Wajahnya masih terlihat merah. Betapa tidak, ini adalah pertama kali ia membeli keperluan pribadi wanita itu.
Kini di tangannya ada dua kantongan berisi pembalut. Karena bingung harus membeli jenis apa, ia sampai membeli semua jenis yang menggunakan wing.
"Lain kali kalau Daniz menitip sesuatu aku harus pastikan dulu benda apa itu."
Lelaki itu membuka pintu mobil bagian belakang dan meletakkan dua kantongan belanjaan. Lalu kemudian melaju meninggalkan mini market.
Mobil yang dikemudikan Alvin melaju dengan kecepatan sedang malam itu. Beberapa kali ia melirik kendaraan di belakang melalui kaca spion. Sepintas tidak ada yang aneh, tetapi entah mengapa sejak meninggalkan mini market, ia merasa seperti diikuti.
"Mau main-main rupanya."
Melewati sebuah persimpangan jalan, Alvin membelokkan mobilnya ke kiri. Benar saja, beberapa motor di belakang masih terus mengikuti. Sekarang Alvin yakin benar-benar sedang diikuti.
"Salah cari musuh kalian!" gumamnya, sambil menebak dalam benak siapa orang-orang di belakang mobilnya.
Alvin lantas meraih ponsel miliknya. Eric, asisten pribadi sekaligus teman baiknya itu adalah orang pertama yang dipilih Alvin untuk dihubungi. Setelah beberapa detik menunggu, panggilan pun terhubung.
"Iya!" Terdengar sapaan seorang pria di ujung telepon.
"Mau makan, tidak Ric. Temani aku sebentar!" Pertanyaan bernada perintah itu meluncur dengan bebas.
"Makan? Tumben ngajak. Biasanya sama ayang Daniza!" sindir lelaki itu. Sebab akhir-akhir ini sang bos jarang mengajak makan.
"Tidak usah banyak protes kamu! Mau makan, tidak?" balas Alvin tak kalah ketus.
"Mau lah, kebetulan belum makan." Eric menjawab dengan nada kesal. Sebab dirinya memang belum sempat makan malam akibat menyelesaikan pekerjaan yang ditinggal Alvin seenaknya.
Nasib menjadi bawahan. Begitu pikirnya. Beruntung mereka berteman baik, jika tidak, Eric mungkin memilih resign dan mencari pekerjaan baru.
Sudut bibir Alvin terangkat tipis. Ia merasa berhasil mengelabui Eric. Padahal hanya ingin membantunya menghajar orang asing yang sedang mengikutinya.
"Ya sudah, kita ketemu di ujung jalan dekat sekolah dulu. Jalan sekarang, ya!"
"Kenapa di sana, Vin? Itu kan tempat sunyi. Mana ada tempat makan di sana." Eric agak heran.
"Kita kumpul di sana saja. Sekalian nostalgia!"
Panggilan terputus begitu saja. Eric melirik ponselnya kesal sambil bergumam.
__ADS_1
"Jalan itu kan tempat si Alvin sering tawuran dulu. Kenapa harus ketemu di sana. Memang tidak ada tempat lain yang lebih keren?" Meskipun menggerutu, Eric mempercepat langkahnya menuju parkiran.
Sementara itu Alvin masih terus melajukan mobil menuju tempat yang diberitahukan kepada Eric tadi. Pengendara di belakang masih mengikuti. Membuat Alvin menginjak pedal gas dalam sehingga mobil melesat cepat.
Tiba di jalan yang cukup sunyi, Alvin sengaja mengurangi kecepatan. Beberapa kendaraan di belakang pun menyalip dan langsung menghadang.
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar memekik kala Alvin menginjak pedal rem dalam, yang membuat laju mobil seketika terhenti. Matanya nyalang menatap beberapa motor yang tiba-tiba menghalaunya. Masih untung Alvin masih punya rasa kasihan dan menginjak pedal gas dalam. Jika tidak, ia pasti sudah menabrak motor di depan dengan mobilnya.
"Lumayan lah, merenggangkan otot-otot. Sudah lama tidak tawuran!" Alvin bermonolog seraya menatap enam pria berpakaian hitam di hadapannya yang tampak sudah turun dari kendaraannya. Beruntung Alvin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya berkelahi ala anak jalanan. Melawan enam pria yang tak memiliki bekal bela diri sudah pasti menjadi hal mudah baginya.
"Turun!" Seorang pria bermuka garang mengetuk kaca jendela mobil dengan kasar.
"Woy! Tidak usah nyolot!" pekik Alvin.
Pria itu pun membuka pintu mobil dan turun dengan santai. Sama sekali tidak terlihat kepanikan atau pun ketakutan di wajahnya.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara tak asing. Eric tiba di saat yang tepat. Pria itu tampak bingung, sebelum mampu menebak apa maksud Alvin memintanya ke sana.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur!" pekik salah satu pria.
"Kalian ini yang siapa?" balas Eric.
Sikap waspada Alvin dan Eric langsung muncul saat melihat enam pria berpenampilan seperti preman itu sudah mengepung. Keduanya berdiri dalam posisi saling memunggungi. Namun, baik Alvin maupun Eric masih tampak sangat tenang.
"Jadi sebenarnya kamu ajak ke sini untuk makan orang, toh?"
"Kan tadi aku sudah bilang nostalgia!"
Eric mendengkus kasar. Jika posisi mereka tidak sedang terdesak, ia pasti sudah memakai bos sekaligus temannya itu.
"Siapa yang kirim kalian ke sini?" tanya Alvin santai.
"Kamu akan tahu nanti! Sekarang beritahu di mana kamu sembunyikan Bu Daniza!"
Alvin terkekeh sinis. Ia menggulung ujung lengannya sampai batas siku. Di titik ini, ia semakin yakin dengan dugaannya.
"Sepertinya laki-laki modal tampang dan burung itu yang kirim kalian."
Eric pasti sudah terbahak mendengar panggilan yang disematkan Alvin untuk Revan, jika tidak ingat posisi mereka saat ini sedang dikeroyok.
__ADS_1
"Habis kalian!" Alvin melepas jaket yang membalut tubuhnya dan melempar ke mobil. Perkelahian pun tak terhindarkan. Alvin dan Eric menghajar satu persatu pria yang hendak menyerangnya tanpa tersentuh sedikitpun.
Hingga semua pria tak dikenal itu terkapar tak berdaya di jalan.
"Siapa yang kirim kalian?" Alvin menginjak punggung salah satu pria itu sambil menarik tangannya ke atas. Suara erangan kesakitan pun terdengar memilukan.
"Pak Revan," jawab laki-laki itu dengan suara serak menahan sakit.
Alvin dan Eric saling pandang saat itu. Keduanya tampak tidak terkejut. Revan mungkin ingin membalas perbuatan Alvin yang pernah memukulinya hingga babak belur.
"Kasih tahu ke bos kalian, lain kali kalau mau ngeroyok, cari yang lebih jago!" ujar Alvin. Melepas cengkraman tangannya dari jaket yang dikenakan pria itu.
"Sekarang kalian pergi sebelum terjadi yang lebih parah dari ini!"
Tanpa menunggu, keenam preman itu sudah meninggalkan lokasi perkelahian. Eric menatap Alvin setelahnya. Kenapa juga ia harus percaya dengan ajakan dan rayuan Alvin tadi.
"Katanya ngajak makan. Tahunya ngajak tawuran," protesnya ketus.
"Sengaja, biar kamu mau," jawab Alvin tanpa mengindahkan ekspresi asistennya itu.
Eric masih mengatur napas yang terasa memburu. Perkelahian tadi seperti menguras habis tenaganya.
"Kenapa juga si Revan harus kirim orang tidak becus seperti mereka. Ganggu waktu saja!"
Saat itu juga Alvin teringat kepada Daniza. Ya ampun, ia hampir lupa bahwa Daniza sedang menunggu barang titipannya di apartemen.
"Aku hampir lupa!" Alvin melirik Eric. "Aku jalan dulu, ya. Aku buru-buru mau ke apartemen. Daniza sudah menunggu."
Ingin sekali Eric melayangkan bogem mentah ke wajah bosnya itu.
"Setelah dibantu tawuran sekarang seenaknya main pergi!" sindir Eric.
"Ini semua salah si Revan itu. Kalau dia tidak main keroyokan, aku tidak akan sampai merepotkan kamu malam ini."
Eric menarik napas dalam. Sekarang Alvin malah menyalahkan Revan.
"Salah sendiri kenapa umpetin istri orang!"
*****
__ADS_1