
Beralih ke ruang tamu. Ruangan yang biasa selalu bernuansa hangat, pagi ini terasa mencekam. Beberapa kali Mama Elvira menghela napas, lalu menatap Daniza dan Alvin secara bergantian. sekarang hanya ada tiga orang di apartemen itu, sebab Santi memutuskan belanja ke supermarket demi menghindari perdebatan keluarga sang majikan.
"Jadi siapa yang mau menjelaskan duluan?" Mama Elvira kembali memindai Alvin dan Daniza.
Suara Mama Elvira yang memecah di udara membuat Daniza dan Alvin terdiam. Sepertinya pasangan kekasih baru itu sedang mengatur kata-kata yang pas demi menghindari insiden sapu melayang di udara.
"Mah, ini hanya salah paham. Kami memang ada di kamar berdua, tapi aku sama Daniza tidak melakukan apa-apa," kata Alvin. Ia tahu penjelasan sederhana itu belum cukup untuk diterima sang Mamah, tetapi memang itulah kenyataan yang sesungguhnya.
"Salah paham kamu bilang?" Mama melotot marah. Daniza merasakan tubuhnya seperti hendak terbelah menjadi dua bagian hanya dengan terintimidasi tatapan menghujam itu. "Kamu sepertinya tidak punya harga diri ya, Alvin! Jelas-jelas Daniza sudah meminta kamu untuk menjauh. Terus kenapa kamu masih mau datang ke sini?"
Sontak Daniza menundukkan kepala. Rasa bersalah dan malu semakin menusuk dalam di hati. Melihat bola mata Daniza yang mulai berkaca-kaca, Alvin kembali membuka suara.
"Daniza sedang sakit, Mah! Lihat aja mukanya masih pucat. Aku ke sini karena Santi yang menghubungi," jelas Alvin. Lagi-lagi ia menjelaskan sesuai kronologi yang terjadi.
"Tidak usah melakukan pembelaan kamu, Vin!" pekik Mama Elvira.
Jemari Daniza saling meremas. Diakui kejadian semalam memang salahnya, sebab ia melakukan segala cara untuk menahan Alvin agar tetap disisinya.
"Maaf Bu. Sebenarnya yang meminta Kak Alvin untuk menginap di sini adalah saya." Daniza mengatupkan bibirnya rapat setelah menyelesaikan kalimat itu.
"Daniz!" Alvin berbisik dengan menekan demi mencegah Daniza mengucapkan sesuatu yang lain.
"Kenapa kamu ngaku segala sih? Mama bisa tambah marah sama kamu!" gerutu Alvin dalam hati.
"Oh, jadi kamu yang minta Alvin untuk menginap?" Sudut mata Mama Elvira memicing. Tangannya langsung terlipat di depan dada, dan itu sukses membuat sekujur tubuh Daniza menegang.
"Maaf, Bu," ucap Daniza. Suaranya mulai terdengar gemetar.
__ADS_1
Mama Elvira kembali menarik napas dalam. "Daniza, saya tidak sepenuhnya menyalahkan kamu! Tapi apa kamu tidak pernah memikirkan akan seperti apa pandangan orang kalau tahu kalian tidur satu kamar, padahal kalian bukan suami istri?"
Daniza membeku. Untuk sekedar menjawab Mama Elvira pun ia tak memiliki keberanian.
"Ini kan demi kemanusiaan, Mah. Apa salahnya bantu orang sakit?" tambah Alvin.
"Diam kamu, Vin!" potong sang mama. "Jiwa kemanusiaan kamu itu cuma 10 persen. Sisanya modus supaya bisa berduaan dengan Daniza, kan?"
Ucapan Mama Elvira tepat mengenai jantung. Memang benar adanya bahwa salah satu alasan Alvin datang adalah karena kerinduan di dalam hatinya untuk Daniza sudah menembus batas.
"Sekali lagi saya minta maaf, Bu," lirih Daniza.
"Saya tidak butuh maaf, saya butuh jawaban!" bentakan Mama Elvira menggema di ruangan luas itu. Detik itu juga bola mata Daniza melelehkan cairan bening yang sejak tadi berusaha dibendungnya.
Demi apapun Alvin tidak pernah rela jika Daniza menjatuhkan air mata. "Mah, jangan seperti itu! Daniz tidak salah. Aku yang tidak bisa jauh dari dia."
Wanita paruh baya bergaya sosialita itu kembali menatap Daniza. Kali ini tatapannya begitu intens dan terkesan menghakimi. "Kemarin kamu menyuruh Alvin menjauh, sekarang kamu menahan Alvin. Kamu ini sebenarnya maunya apa? Mau mempermainkan Alvin? Mau main tarik ulur supaya Alvin sakit hati lagi?"
"Bu … bukan begitu, Bu!" Daniza terisak-isak. Kali ini ucapan Mamah Elvira terdengar sangat menyakitkan untuk didengar.
"Lalu apa, Daniz?"
Alvin yang tidak terima langsung menyergah. "Mamah bisa bicara baik-baik tanpa harus membentak seperti ini, 'kan?"
Satu tangan Mamah Elvira terangkat sebagai kode. "Kamu tidak usah membela dia, Alvin. Ini urusan perempuan. Mamah hanya ingin tahu apa yang sedang Daniza pikirkan saat ini!"
Alvin menghembuskan napas panjang. Karena ucapan fatal Daniza tadi, kali ini ia sudah tak bisa menolong wanita itu lagi. Secara tidak langsung Daniza sedang melimpahkan segala kesalahan pada dirinya seorang.
__ADS_1
"Kemarin saya memang meminta Kak Alvin menjauh karena tidak enak dengan seluruh keluarga. Mereka memang benar, Kak Alvin layak mendapatkan perempuan yang jauh lebih layak."
"Lalu apa maksud kamu menahan Alvin di sini sampai tidur seranjang segala?"
Alvin menggenggam tangan Daniza erat. Sekarang ia tak mengerti mengapa mamanya seperti sedang menghakimi Daniza.
"Mah, aku tidak peduli apa kata orang. Mama tahu 'kan dari dulu sampai sekarang aku hanya mencintai Daniza! Aku tidak mau menikah kalau bukan dengan Daniza!" Alvin tak kalah menekan.
"Sadar, Vin! Daniza sendiri tidak pernah menyukai kamu! Lalu untuk apa kamu bertahan? Atau jangan-jangan Daniza cuma memperalat kamu?"
Entah mengapa Daniza merasa tidak terima dengan ucapan Mama Elvira. Karena sekarang di hatinya hanya ada Alvin seorang.
"Saya mencintai Kak Alvin, Bu!" Suara Daniza terdengar lantang. Ia langsung mengatupkan bibirnya setelah mendeklarasikan isi hati yang sebenarnya. Sekarang pipinya bersemu merah.
Sementara Mama Elvira merapikan rambutnya dan menyelip ke belakang telinga. Sikapnya yang tadi garang tiba-tiba melunak.
"Kalau saling mencintai kenapa harus ada drama segala?" ujar wanita itu. "Saya tidak mau tahu, ya! Setelah masa iddah kamu selesai, kalian harus secepatnya menikah! Saya tidak mau Alvin membuat malu dengan menghamili anak orang di luar nikah!"
Alvin langsung mengusap dada. "Mama apaan, sih? Begini-begini anak Mama ini bukan penjahat kel@min!"
"Terserah! Pokoknya mama tidak mau kalau sampai kamu membuat malu keluarga kita. Jadi lebih baik, mulai sekarang kalian bicarakan tentang pernikahan!"
Mama Elvira bangkit meninggalkan tempat duduknya. Kakinya melangkah dengan menghentak layaknya seseorang yang tengah terbakar amarah. Tetapi anehnya, sudut bibirnya malah melengkung membentuk senyuman dengan mata berbinar.
Seperti baru saja memenangkan sebuah peperangan besar.
...*****...
__ADS_1