Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Semuanya Terasa Gelap


__ADS_3

"Mama?" Alvin menerbitkan senyum getir ketika Mama Elvira memasuki ruangan. Sementara Daniza memilih menyembunyikan tubuh kecilnya di balik punggung tegap Alvin. 


Keduanya dalam posisi terpojokkan layaknya pencuri yang baru saja kedapatan melakukan kejahatan besar. 


"Pertemuan yang epic sekali, ya?" Mama Elvira menatap penuh selidik sekaligus murka. 


Dua anak ini memang cukup bandel dan sulit dikendalikan. Padahal sejak dua minggu lalu, Mama Elvira sudah melarang bertemu sebab keduanya sedang dalam masa pingitan. Apalagi pernikahan tinggal menghitung hari. 


"Mama, aku bisa jelaskan soal ini." 


"Jelaskan apa?" pekik sang mama. "Enak ya peluk-pelukan di kantor! Kalian sepertinya memang sudah tidak sabar!" 


Daniza semakin membenamkan wajahnya di punggung Alvin. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Mama Elvira. Hanya kedua tangannya yang mencengkram kuat lengan kemeja Alvin. Mama Elvira dapat menebak bahwa Daniza sedang takut sekarang. 


"Daniza ke sini karena disuruh Tante Keshia, Mah!" Alvin langsung menjelaskan sebelum capitan ganas Mama Elvira mendarat di telinga. 


"Tante Keshia?" Dahi Mama Elvira berkerut dalam. "Untuk apa dia minta Daniza ke sini?" 


"Tante Keshia meminta Daniza bujuk aku biar mau terima Om Ady kerja di sini lagi, Mah. Iya kan, Daniz?" Alvin menarik tubuh Daniza dari persembunyian, seolah sedang meminta Daniza untuk melengkapi penjelasan Alvin perihal alasan kedatangannya ke kantor. 


Malu-malu Daniza mengangguk. Ia masih belum berani menatap Mama Elvira. Terkadang mama terlihat sangat galak saat sedang marah. 


"Ngapain dia minta Daniza yang membujuk kamu setelah dia mempermalukan Daniza malam itu? Tidak tahu malu sekali orang itu!" gerutu Mama Elvira yang memang sempat sangat kesal dengan ulah saudara iparnya itu. 


"Namanya juga kepepet, Mah," jawab Alvin. 

__ADS_1


Menghembuskan napas panjang, Mama Elvira berusaha mengurai rasa kesal. "Dan kamu, Daniz ... kenapa mau-mau saja disuruh sama dia?" 


"Aku tidak enak, Mah. Tante Keshia meminta sambil menangis." 


"Mama yakin itu cuma air mata buaya. Awas saja kalau nanti dia buat ulah lagi." Sekarang pikiran Mama Elvira kembali tertuju kepada Daniza. "Lagian kenapa kamu tidak telepon saja sih, Daniz? Kan bisa bicara dengan Alvin lewat telepon. Pamali ketemu kalau sedang dalam masa pingitan!" 


Daniza menunduk, membuat Alvin merangkul bahunya. "Kan kalau hal penting itu lebih enak kalau ketemu langsung, Mah!" balas Alvin. 


Kali ini capitan Mama Elvira benar-benar mendarat di telinga Alvin. "Kamu memang suka modus ya, Vin!" 


"Awh sakit, Mah! Ingat ini kantor, Mah!" pekik Alvin berusaha melepas tangan Mama Elvira. 


Kini wanita itu menatap keduanya secara bergantian. "Ya sudah, untuk kali ini mama maafkan. Daniz, kamu ke sini naik apa?" 


"Di antar sopir, Mah," jawab Daniza takut-takut. 


"Iya, Mah." Daniza mengangguk patuh, lalu berpamitan untuk pulang. 


Sementara Alvin hanya memandangi punggung Daniza yang kemudian menghilang di balik pintu. Ingin mengantar Daniza pulang, namun ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan hari ini juga. Selain itu, satu jam lagi Alvin ada pertemuan penting dengan beberapa rekan bisnis.


Padahal hatinya belum terpuaskan melepas rindu dengan calon istri dan harus terpisahkan lagi hingga beberapa hari mendatang. 


"Sudah ah, mama juga ada urusan penting. Mau cek gaun buat bridesmaid yang sudah mama pesan." 


Tanpa banyak bicara lagi, sang ibu ratu melenggang dengan santai menuju pintu. Alvin masih termangu di tempat memikirkan apa alasan kedatangan mamanya ke kantor. 

__ADS_1


Tidak lama berselang, Eric tampak memasuki ruangan itu dengan menebar senyum. Sekarang Alvin tahu apa yang memicu kedatangan Mama Elvira secara mendadak. Tentu saja ini adalah ulah dari CCTV bernyawanya itu. 


"Dasar pengkhianat kamu!" 


*


*


*


Gelap mulai menyelimuti Bumi saat Daniza tiba di apartemen. Pemandangan kota sudah diterangi oleh lampu-lampu jalan dan lampu gedung tinggi di sekitar. 


Sebelum memasuki gedung apartemen, Daniza mampir sebentar di mini market sebelah untuk membeli beberapa keperluan. Sementara sang sopir sudah dimintanya untuk pulang. 


Lima belas menit dihabiskan Daniza di mini market tersebut. Selepas berbelanja, ia bergegas keluar. Seperti permintaan Mama Elvira, ia tidak akan ke mana-mana sampai tiba hari pernikahan dengan Alvin. 


Rasanya seperti mimpi bagi Daniza untuk dinikahi oleh Alvin. Kakak kelas yang pernah menyisakan trauma mendalam di kehidupannya. Sekarang, Alvin berjanji akan membayar kesalahannya di masa lalu dengan sisa waktu yang dimilikinya. 


"Sayang, kamu sudah sampai di apartemen, kan?" Isi pesan dari Alvin yang baru saja masuk. 


Daniza mengulas senyum. Sambil berjalan pelan, ia mengetikkan pesan balasan. Calon suaminya itu memang sangat posesif, sangat berbeda dengan Revan dulu. 


"Iya, baru saja." Isi pesan balasan Daniza.


Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Namun, tiba-tiba merasakan cengkraman kuat pada tubuhnya. Kemudian disusul dengan mulut dibungkam menggunakan kain. Daniza bahkan tidak sempat lagi melihat sosok itu. Detik berikutnya, ia merasa sekeliling terasa gelap.  

__ADS_1


*****


__ADS_2