Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Kartu Tanpa Batas


__ADS_3

Waktu bergerak semakin malam. Waktunya Alvin mengembalikan wanita cantik itu ke tempat semula. Tak hanya sekadar mengantarkan, Alvin juga memastikan Daniza masuk ke apartemen dengan aman.


"Kenapa Kak Alvin ikut masuk? Bukannya tadi bilangnya hanya mau mengantar?" Daniza mengernyit curiga. Matanya memandangi Alvin yang sibuk memeriksa setiap sudut ruangan. Padahal lelaki itu hanya sedang modus agar bisa berlama-lama bersama Daniza.


"Aku harus memastikan di apartemen ini tidak ada ranjau atau penyusup. Setelah itu baru aku bisa pulang dengan tenang," kilah Alvin. Seringai licik itu tersungging sempurna di bibirnya.


Daniza menarik setengah napasnya. Ia tahu betul bahwa Alvin hanya mencari alasan. Bagaimana mungkin ada penyusup. Sementara yang tahu password untuk masuk hanya Alvin dan Daniza saja. Setelah Alvin selesai dengan modusnya, Daniza mendekat.


"Tidak ada penyusup, kan? Kak Alvin boleh berpulang dengan tenang!"


Perkataan Daniza membuat Alvin merinding. Tangannya bergerak naik turun mengusap dada.


. "Aku hanya mau pulang, Daniz! Bukan berpulang!"


Daniza terkekeh. Tingkah laku Alvin yang usil perlahan merubah Daniza yang kaku dan pendiam. Sekarang Daniza bahkan berani membalas candaan laki-laki itu. "Kak Alvin ada-ada saja. Memangnya siapa yang bisa menyusup ke sini. Pintunya saja pakai password Lagi pula aku tidak punya barang berharga."


Sontak Alvin menoleh. "Siapa bilang kamu tidak punya?" Tangan nakal Alvin bergerak lincah memegang kedua bahu Daniza. "Kamu sangat berharga bagiku. Bahkan aku rela menukar seluruh hidupku asal aku bisa mencium bibirmu."


Alvin mendekat, bertingkah sok exotic layaknya seorang profesional yang hendak mencium wanita. Belum sampai menempel, Daniza buru-buru mengangkat tas hingga bibir monyong alvin menabrak permukaan kulit piton yang sudah disulap menjadi tas bermerek itu.


"Awh!" Alvin memekik. "Tega sekali kamu! Kalau bibirku iritasi bagaimana?"

__ADS_1


"Makanya kalau bercanda jangan berlebihan. Sudah sana pulang!" Daniza berseru, ia membalik tubuh Alvin, lalu mendorong punggung lelaki itu sampai jalannya terseok-seok.


Alvin kembali mengaduh saat tubuhnya membentur daun pintu. Sebenarnya sama sekali tidak sakit. Tetapi ia ingin sedikit nge-drama. Mungkin saja Daniza akan sedikit terhibur dan melupakan kesedihannya.


"Kejam sekali kamu, Daniza Amaria. Niatku masuk ke sini itu baik. Aku mau memastikan keadaanmu aman!"


"Aman atau aman?" Daniza terkikik. Alvin ini menyebalkan, tetapi tak dipungkiri kelakuannya cukup menyenangkan hati Daniza. Kekonyolan Alvin membuatnya perlahan lupa dengan kisah menyedihkan yang terjadi dalam hidupnya-- yang membuat Daniza pernah ingin mati saja.


"Amanlah! Bandel-bandel begini aku tidak berani macam-macam terhadap wanita. Mereka itu adalah mahkota berharga yang harus dilindungi."


Daniza memicingkan mata. "Masa sih tidak pernah macam-macam? Lalu apa namanya saat Kak Alvin memasukkan kecoa hidup ke dalam makananku, memasukkan ular mainan ke dalam tasku, dan mengurung aku di gudang sampai sore?"


Alvin seketika membungkam. Otaknya menjelajah mencari jawaban yang tepat. Hingga akhirnya yang terlintas dalam benaknya hanya,


Tak ingin berlama-lama, Alvin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sedikit terkejut melihat angka yang ditunjuk jarum pendek pada jam. Laki-laki itu pun mengeluarkan dompet miliknya.


"Aku hampir lupa kasih kamu ini!" Ia memberikan sebuah kartu hitam dengan logo emas. Baru melihat sekali saja Daniza sudah tahu itu kartu apa.


"Untuk apa?" tanya Daniza seraya mendongak. Menatap manik mata Alvin sambil memperhatikan wajah slengean itu.


"Itu kartu kredit tanpa batas! Sesuai janjiku, kamu boleh memanfaatkan kebucinanku untuk semua hal. Termasuk membeli barang apapun dengan kartu itu," kata Alvin.

__ADS_1


Daniza menggeleng. Ia langsung memberikan benda itu ke tangan Alvin lagi.


"Aku tidak mau!" tolak Daniza tanpa berpikir dua kali. Secara benda itu termasuk dalam kategori langka. Revan yang suaminya saja belum sampai memiliki benda tersebut lantaran hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu.


"Daniz, kamu tahu 'kan, kalau sejak dulu aku tidak suka ditolak?"


"Terus?"


Alvin kembali memberikan kartu yang dipegangnya. "Terima kartu ini, atau aku tidak jadi membantu kamu mengusut kasus pendarahan yang kamu alami kemarin."


"Kak!" Daniza mendesah. Ia benar-benar tidak ingin terlalu memanfaatkan Alvin. Apalagi soal materi.


"Anggap saja itu sebagai kompensasi dari perbuatanku di masa lalu kepada kamu. Tolong jangan ditolak."


Menarik napas panjang, Daniza menggenggam erat kartu itu kembali. "Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau tagihannya bengkak!"


Suasana serius itu harus berubah karena Alvin terkekeh. "Tidak apa-apa. Nanti aku juga akan membuat kamu bengkak!"


Daniza terdiam sebentar sambil berusaha membedah ucapan Alvin dalam benaknya.


"Kak Alvin!"

__ADS_1


Baru saja Daniza akan melayangkan cubitan, Alvin sudah mengambil langkah seribu.


****


__ADS_2