
Kesabaran Eric seperti diuji oleh tingkah Alvin yang sangat menyebalkan. Siang ini, ia sengaja meluangkan waktunya di tengah padatnya pekerjaaan demi membantu Alvin untuk mengingat segala hal yang terlupa.
Kontrakan dan apartemen pribadi milik Alvin menjadi pilihan pertama. Tetapi, laki-laki itu tetap tidak dapat mengingat apapun. Semakin berusaha mengingat, denyutan di kepala semakin menjadi.
Dan gorong-gorong di lahan kosong belakang sekolah adalah pilihan terakhir. Kini, keduanya sedang menikmati senja yang indah dengan duduk berdua di sana.
"Aku cuma ingat sering bolos dan ketiduran di sini," ucap Alvin.
"Kamu pernah ikat Ruben di sini karena dia deketin Daniza." Eric mencoba untuk menceritakan kejadian masa lalu. "Mantan suaminya Daniza juga pernah kamu ikat di sini."
Alvin melirik benda berbentuk terowongan besar itu. Diakui oleh Alvin, bahwa dirinya adalah anak bandel semasa sekolah. Tawuran dan bolos sekolah adalah sesuatu yang biasa baginya.
"Apa aku bisa segila itu hanya karena Daniza?" tanyanya masih ragu.
"Kamu bahkan lebih dari itu."
Alvin termenung selama beberapa saat. "Kalau begitu sekarang kasih tahu di mana Daniza."
"Aku belum bisa kasih tahu. Ini permintaan Daniza sendiri. Katanya dia butuh waktu sendiri."
*
*
*
Di sisi lain, sepulang mengurus butiknya, Mama Elvira mengunjungi Daniza sore itu. Setelah melihat kesedihan Daniza semalam, Mama memutuskan untuk menjauhkan Daniza dengan Alvin untuk sementara waktu.
Mama khawatir jika Daniza akan stres berlebihan dalam menghadapi Alvin dan akan mempengaruhi kesehatannya.
"Bagaimana, Sayang. Kamu betah di sini?" tanya Mama Elvira begitu tiba di vila.
"Betah, Mah. Lagi pula fasilitas di sini lengkap."
"Syukurlah. Mama memang sengaja meminta pengurus vila ini untuk mengosongkan sementara dari penyewa."
Daniza mengulas senyum. Satu hal yang sangat ia syukuri dalam kehidupannya yang berat, yaitu keberadaan Mama Elvira yang selalu memberinya dukungan.
"Oh ya, Mas Alvin bagaimana, Mah?"
"Tadi dia ke butik menanyakan kamu. Tapi mama tidak mau kasih tahu kalau kamu di sini. Biarkan dia instrospeksi diri dulu."
Mendadak wajah Daniza jadi murung. Padahal baru semalam ia tidak bertemu dengan suaminya, tetapi kerinduan sudah terasa menggunung. Naluri sebagai wanita hamil membuatnya lebih manja dan cenderung cengeng. Terlebih beberapa hari belakangan ini ia kerap mengalami morning sickness.
__ADS_1
*
*
*
Tak terasa sudah satu bulan berlalu sejak kepergian Daniza. Sejak saat itu pula Alvin merasakan hampa dan kosong dalam kehidupannya.
Sekarang ia sedang menikmati kesendirian di taman rumah yang luas nan asri, yang baginya terasa seperti neraka. Sebulan ini, ia tidak tahu di mana Daniza, karena mama dan Eric menyembunyikannya dengan sangat baik.
"Nyet!" Suara yang sebenarnya tidak ingin didengar oleh Alvin menyapa dari belakang.
Alvin tak menoleh. Lebih tepatnya malas bertemu dengan makhluk yang memiliki fungsi sebagai manusia sekaligus CCTV bernyawa itu.
"Kamu lagi!" ucapnya malas. "Lama-lama aku bisa dibilang pecinta terong kalau hampir setiap hari di-apelin kamu."
"Amit-amit!" balas Eric. "Memangnya kamu berharap siapa yang datang? Daniza?"
Alvin hanya melirik sekilas, lalu kembali membuang pandangan. "Bukan begitu juga sebenarnya. Aku cuma bosan di rumah kayak orang penyakitan."
"Kamu memang penyakitan, kan? Hilang ingatan itu termasuk salah satu penyakit paling berbahaya di dunia. Bila sakit berlanjut, bisa mengakibatkan seseorang menjadi duda merana."
"Sialan kamu!" maki Alvin tak terima.
"Kamu pikir enak hidup begini?" sungut Alvin dengan bonus tatapan tajam.
Tawa Eric meledak di taman pagi itu. Entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu senang meledek Alvin dan membuatnya kesal setengah mati. Laki-laki itu lantas menggeser sebuah kartu undangan.
"Apa itu?" tanya Alvin dengan alis mengkerut.
"Ini undangan reuni SMA. Acaranya besok. Aku rasa kamu perlu datang ke sana."
Berdecak malas, Alvin hanya melirik kartu undangan tersebut tanpa berniat menyentuhnya. "Kamu saja yang ke sana, aku malas. Lagi pula Mama akan melarangku datang ke tempat seperti itu."
"Tenang saja, Vin, aku sudah minta izin lebih dulu. Siapa tahu dengan ikut ke sana, kamu bisa ingat sesuatu. Aku rasa tidak ada ruginya datang ke sana."
Alvin menatap Eric. Kali ini tampak serius. "Apa Daniza juga akan ada di sana?"
"Sepertinya tidak. Jadi kamu tenang saja. Daniza tidak mungkin ke sana karena ada orang yang sangat membenci dia," sindir Eric.
Membuat Alvin memaki dalam hati.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, Alvin dan Eric benar-benar datang ke acara reuni sekolah. Eric sengaja membawa serta Alvin ke sana. Mungkin saja dengan begitu, Alvin akan ingat sesuatu. Meskipun ia sendiri tidak yakin Daniza akan datang atau tidak.
Sejak kedatangannya, Alvin beberapa kali dibuat terkejut. Karena hampir tidak mengenali beberapa teman masa SMA. Bahkan Ruben, saingannya dalam berbagai hal itu terlihat sangat berbeda. Begitu pun dengan beberapa teman wanita lainnya yang turut hadir.
"Lama tidak bertemu, ternyata sudah tua-tua semua, ya?" ucap Alvin sambil memperhatikan beberapa teman yang datang malam itu.
"Hanya kamu sendiri yang merasa ABG di sini, Vin," sindir Eric.
"Sialan! Dasar monyet buntung!"
Pandangan Alvin meneliti pada setiap orang yang ditemuinya, seperti sedang mencari sesuatu di antara lautan manusia. Tetapi, hingga satu jam acara berlangsung, ia tak juga melihat sosok yang dicarinya sejak tadi.
"Tidak usah mencari Daniza. Dia tidak akan datang malam ini. Kamu tahu, dia itu punya kenangan buruk di masa SMA dan semua itu karena kamu!" ucap Eric.
"Siapa juga yang mencari dia?" Alvin memilih beranjak ke meja minuman. Di sana tersedia aneka jus dan soft drink.
"Hai, Alvin." Sapaan seorang wanita membuat Alvin menoleh.
Ia menatap wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala. "Kamu siapa?" tanyanya dingin.
"Masa kamu lupa sama aku?" Wanita cantik itu tersenyum, lalu duduk di sisi Alvin. "Aku Sherly. Dulu kita sekelas."
"Oh ...." Alvin membalas singkat terkesan tak peduli.
"Bagaimana keadaan kamu setelah kecelakaan itu?" Sherly yang dekat dengan Tante Keshia tentu tahu tentang setiap perkembangan yang terjadi dalam keluarga. Terutama tentang kecelakaan yang menimpa Alvin di Paris, yang menyebabkannya kehilangan sebagian ingatannya. Sherli bahkan tahu bahwa sekarang Daniza menghilang dari kehidupan Alvin.
"Biasa aja," jawab Alvin lagi. "Bisa tolong tinggalkan aku sendiri? Kamu gabung saja dengan yang lain."
Sherly mengerucutkan bibir. Bahkan dalam keadaan hilang ingatan sekalipun Alvin masih tak peduli terhadapnya. Baru saja wanita itu akan berdiri, sudah dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang baru saja memasuki ruangan.
"Itu Daniza, kan?" Tanpa sadar Sherly berseru.
Membuat Alvin seketika menoleh ke arah pintu. Kelopak mata laki-laki itu seketika melebar. Ia meneliti istrinya dari ujung kaki ke ujung kepala.
Daniza datang dengan penampilan yang terbilang sangat kolot dan culun, persis seperti Daniza di masa SMA dulu. Alvin bahkan masih ingat dengan jelas bentuk wajah, rambut dan gaya berpakaian Daniza yang dulu kerap menjadi bahan olok-olok anak lain.
"Daniza?"
...****...
__ADS_1