
"Anak kamu itu pintar, Vin! Dia tahu cara balas dendam terbaik. Dulu mamanya kamu kerjain terus di sekolah. Sekarang giliran mereka yang balas kamu. Jadi selamat menikmati!"
"Masa baru berbentuk embrio saja sudah julid begitu?"
Alvin menatap mamanya dengan penuh curiga demi menemukan tanda kebohongan di sana. Sepenuh hatinya belum percaya bahwa seorang pria bisa mengalami ngidam yang disebut mama sebagai 'kehamilan simpatik'. Tetapi, sama sekali Alvin tak menemukan tanda kebohongan di sana. Malah mama kini sedang cekikikan bersama Daniza.
"Tapi perutnya tidak akan ikut gendut kan, Mah?" Pertanyaan itu berhasil meledakkan tawa Mama Elvira.
"Kenapa, Vin? Kamu takut perutnya jadi buncit?"
"Ya iyalah. Aneh kan kalau laki-laki perutnya gendut macam ibu hamil."
Kala Mama Elvira tertawa dengan puasnya, Daniza hanya dapat mengatupkan bibir rapat-rapat. Kelakuan Alvin dan mama benar-benar absurd baginya.
"Makanya jangan suka menyakiti hati perempuan. Ini akibatnya."
Alvin sudah mengerucutkan bibir. Layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
"Udah ah! Mau ke kamar saja. Ngantuk!" Tak ingin terus-menerus menjadi bahan ledekan sang mama, Alvin memilih kembali ke kamar. Daniza menatap suaminya yang sudah melewati tangga menuju lantai atas.
"Mah, aku mau ke kamar dulu, ya," ucap Daniza.
"Iya, Sayang. Hati-hati, suami kamu itu sedang sensitif," balas sang mama sembari mengusap puncak kepala menantunya.
"Iya, Mah." Daniza pun segera menyusul Alvin ke kamar. Begitu pintu terbuka, Alvin langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
Sementara Daniza memilih masuk ke kamar mandi. Seharian di luar membuat tubuhnya terasa lengket dan gerah. Ia bahkan menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi.
Di luar sana, Alvin menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Memikirkan bagaimana cara agar kehamilan simpatik yang dialaminya segera menghilang.
"Coba cari tahu dulu, deh!" Ponsel ia keluarkan dari saku celana. Kemudian mencari tahu tentang kehamilan simpatik di internet.
"Ternyata benar-benar ada." Sontak bola matanya melotot. Ia bergumam sambil membaca beberapa artikel di internet.
Tak lama berselang, Daniza keluar dari kamar mandi. Ia terlihat segar sekarang.
"Ngidam itu tidak enak, ya?" ucap Alvin. Tangannya terulur meminta agar Daniza mendekat. Wanita itu pun langsung menyambut, membuat Alvin menariknya hingga jatuh ke pelukan.
"Dienak-enakin aja. Lama-lama juga hilang sendiri ngidamnya."
"Maafin aku, ya," bisiknya pelan sambil mengeratkan pelukan.
__ADS_1
"Maaf kenapa?"
"Karena aku baru paham ternyata begini rasanya ngidam. Ternyata tersiksa lahir batin. Tapi aku malah membuat kamu sedih dengan amnesia," lirihnya, lalu membenamkan kecupan sayang di pipi berulang-ulang.
"Tidak apa-apa, Mas. Lain kali kalau kamu amnesia lagi, tinggal diketok magic aja." Daniza mengulas senyum setelah membisikkan kalimat itu ke telinga suaminya.
"Cara diketok magic-nya bagaimana coba?" tanya Alvin.
"Seperti cara ketok magic pada umumnya. Kepalanya tinggal diketok pakai martil?"
Alvin menghela napas panjang. Entah mengapa ia merasa seluruh keluarga sedang julid kepadanya. Mungkinkah ia sedang kena karma secara beruntun?
"Sayang, sepertinya kamu kena penyakit berbahaya, deh!" ucapnya sambil memainkan kancing pakaian Daniza.
"Penyakit berbahaya apa?" balas wanita itu. Mengancingkan kembali beberapa kancing yang sudah dibuka oleh suaminya.
"Sindrom julid mania!"
Daniza tertawa pelan. Sangat menyenangkan menggoda Alvin seperti yang dilakukan Mama Elvira tadi. Daniza merasa sangat beruntung memiliki Mama Elvira sebagai mertua.
"Sudah, ah. Mau ngobrol sama dedek aja." Alvin menarik selimut dan mendekatkan kepala dengan perut Daniza. Sebelah tangannya mengusap perut yang terlihat sedikit menonjol dari biasanya.
*
*
*
"Pagi yang indah, ya?"
Mama Elvira yang sudah duduk manis di kursi menyeringai ketika melihat putra semata wayangnya sudah rapi dengan setelan pakaian kerja. Lengkap dengan masker yang menutupi mulut dan hidung.
"Kamu kenapa, Vin? Takut kena virus?" tanyanya lagi.
"Iya, Mah. Ada virus varian baru yang perlu dihindari. Makanya aku pakai masker."
Alvin langsung menarik kursi untuk bergabung di meja makan. Ia sengaja menggunakan masker demi melindungi indera penciumannya dari aroma makanan yang menyengat. Bahkan aroma mentega pun terasa sangat menyiksa baginya. Ia lantas melirik beberapa menu yang sudah tersedia di meja makan.
"Mau sarapan apa, Mas?" tanya Daniza, ketika Alvin hanya terdiam.
"Mau makan buah aja, deh!" pintanya, setelah tak menemukan menu yang menggugah selera.
__ADS_1
"Aku kupasin apel, mau?"
Alvin mengangguk pelan. Daniza pun segera mengupas buah apel dan meletakkan potongan demi potongan ke piring. Setidaknya mengonsumsi buah tidak membuat Alvin mual seperti kemarin.
"Eric mana, Vin? Tumben belum datang? Biasanya sepagi ini sudah ada di rumah," tanya sang mama. Merasa kurang lengkap jika sarapan tanpa sosok Eric di meja makan.
"Jangan dicari! Anak kesayangan mama itu lagi kasmaran!" sambar Alvin.
"Siapa juga yang lagi kasmaran?" Baru saja Alvin menyelesaikan kalimatnya, suara Eric sudah terdengar menyapa di pagi yang cerah itu. Eric langsung duduk di samping Mama Elvira.
"Kamu dari mana? Tumben baru datang?" tanya sang mama sembari mengoles selai durian ke permukaan roti tawar dan meletakkan ke piring Eric. Roti tawar selai durian adalah menu sarapan favorit Eric.
"Habis antar Mila ke rumah sakit, Tante."
"Sekali-sekali ajak Mila makan malam di rumah kita."
"Iya, Tante. Nanti saja kalau Mila ada waktu luang." Eric mengusap punggung lehernya, malu.
"Oh ya ... sudah sejauh mana hubungan kamu dengan Mila. Kalau kamu memang serius, jangan tunda-tunda."
"Soal itu ...." Mendadak pipi Eric menjadi merah.
"Dasar bucin! Dulu katanya gak suka." Alvin mencibir, sambil memasukkan potongan buah ke mulut.
"Diam, Dodol!" gerutu Eric dengan mata melotot.
"Makanya jangan sok jual mahal! Kualat kan kamu! Katanya gak suka tapi cemburu sampai harus kurung si Ruben di gorong-gorong," celetuk Alvin tanpa sadar. Ucapan Alvin yang lancar layaknya jalan tol itu membuat Mama Elvira menatap curiga.
"Bilang apa kamu barusan?" cecar sang mama.
Alvin yang baru sadar seketika tersedak potongan buah yang akan ditelannya. Bisa gawat jika Mama Elvira tahu apa yang sudah mereka lakukan terhadap Ruben.
"Maksudnya, Eric ajak Ruben reunian di belakang sekolah, Mah! Iya, kan Ric!" Alvin mencari pembelaan dengan menyenggol kaki Eric di bawah meja.
"Ngapain kamu senggol-senggol kaki mama?" pekik sang mama.
Alvin terlonjak. Ia pikir yang disenggol nya barusan adalah kaki Eric. "Oh, yang kesenggol kaki Mama? Maaf, Mah! Kirain kakinya Eric!"
Eric refleks menepuk jidat. Roti tawar selai durian yang ia kunyah itu mendadak terasa seperti kulit durian.
...*****...
__ADS_1