Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Maafkan, Aku Pergi!


__ADS_3

"Aku tidak membenci Eric, Mah. Aku juga sayang sama dia. Apalagi saat tahu kami sedarah. Aku cuma kecewa karena hal sebesar ini dirahasiakan dariku sejak awal. Aku merasa bodoh sendiri." 


"Mama mengerti perasaan kamu, Vin. Tapi ini juga tidak adil untuk Eric," jelas sang mama. "Eric bisa saja memanfaatkan kebaikan kita. Dia bisa saja menuntut harta dari kita. Tapi sama sekali dia tidak melakukan semua itu. Dia bahkan menolak semua fasilitas yang kita berikan." 


Diakui Alvin, Eric memang salah satu orang terbaik yang pernah ia temui. Eric tidak pernah disilaukan oleh harta, bahkan saat ia punya kesempatan untuk memiliki segalanya. 


"Iya, Mah. Aku tahu itu. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima semuanya begitu saja. Apa lagi untuk sekarang." 


Tak ingin memaksakan keinginan terhdap Alvin, Mama Elvira mengangguk setuju saja. Lagi pula, Alvin dan Eric seperti memiliki magnet satu sama lain. Saling membutuhkan dan saling melengkapi. 


"Ya sudah, mama tidak akan memaksa. Kita semua butuh waktu." 


Akhirnya Alvin sedikit melunak. Tidak lagi meledak-ledak seperti tadi. 


*


*



Suara bel yang terus berbunyi membuat Eric membuka mata. Ia yang baru saja akan menembus alam mimpi refleks terbangun. Ia lantas melirik arah jarum jam yang melekat pada dinding. Waktu masih menunjukkan pukul sebelas malam. 


"Siapa, sih?" kesal laki-laki itu. Sedikit heran karena sudah hampir larut malam. "Tidak tahu waktu bertamu malam-malam begini!" 


Masih dengan sisa kantuk, Eric menyibak selimut. Lalu segera beranjak menuju pintu. Begitu membuka, ia mematung selama beberapa saat melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya dengan menggunakan setelan piyama. 


"Mila?" Eric tertegun. "Kamu ngapain ke sini malam-malam?" tanyanya. 


Bukannya menjawab, wanita itu malah memasang tampang memelas. "Apa boleh aku masuk?" 


Eric menarik napas dalam, lalu menggeser tubuhnya ke sisi pintu agar Mila dapat masuk ke dalam. Begitu Eric menutup pintu, wanita itu langsung menabrakkan tubuhnya ke punggung Eric. Melingkarkan tangan dengan erat ke pinggang. 


"Maafin aku, Ric. Aku tahu mami sudah keterlaluan. Kalau kamu tidak bisa menerima keluargaku, aku akan meninggalkan mereka yang penting bisa sama kamu." 


Eric melepas tangan Mila yang melingkar di pinggang, tetapi jangan harap Mila akan menyerah. Karena sekarang wanita itu malah menempel layaknya perangko. 


"Jangan minta aku untuk pergi. Atau aku akan bunuh diri!" 


"Mil, kamu itu wanita yang cerdas. Aku yakin kamu tidak sebodoh itu untuk bunuh diri!" 


Wanita itu mengerucutkan bibir. Ternyata Eric tahu bahwa ancaman bunuh diri itu hanyalah sekedar ancaman semata. "Kok kamu tahu?" 


"Kelihatan dari muka kamu!" 

__ADS_1


Eric lantas membawa kekasihnya itu untuk duduk di sofa. Dari matanya yang sembab, Eric yakin bahwa Mila habis menangis dalam waktu yang lama. 


"Mami kamu akan marah kalau tahu kamu keluar di rumah malam-malam seperti ini." 


"Biarin aja!" balas Mila. 


"Aku akan dituduh menculik kamu!" 


"Memang itu yang aku inginkan!" 


Kehabisan kata-kata, Eric hanya menggelengkan kepala. Kekasihnya itu memang sangat keras kepala. 


"Tolong jangan memperburuk keadaan. Ayo, aku antar pulang." Tanpa menunggu jawaban Mila, Eric sudah menariknya keluar. Mila bahkan harus terus memberontak. 


*


*


*


Tidak seperti biasa, pagi ini suasana di rumah tampak sepi. Tidak ada semangat pagi seperti biasa. Bahkan di meja makan terjadi keheningan.


Baik Mama Elvira, Alvin maupun Daniza diam dan tak mengobrol seperti biasanya. Sarapan yang biasanya diwarnai dengan perdebatan itu pun hening.


"Tidak. Lagi mau di rumah!" jawab Alvin.


Mama Elvira langsung terdiam. Ia paham Alvin pasti canggung jika bertemu dengan Eric dalam keadaan seperti ini. Sekarang harapannya hanyalah Eric datang seperti pagi-pagi sebelumnya untuk sarapan bersama. Namun, setelah beberapa saat menunggu, Eric tak kunjung datang.


"Ke mana dia sebenarnya?" Mama Elvira segera menghubungi Eric selepas makan, tetapi tak kunjung terhubung.


Ketakutan mulai melanda. Ingatan wanita paruh baya itu hanya tertuju pada ancaman Eric beberapa tahun silam, yang akan pergi jauh jika sampai identitasnya terbongkar.


"Bagaimana ini! Semoga Eric tidak benar-benar pergi!" Mama Elvira mondar-mandir di ruang keluarga sambil terus berusaha menghubungi Eric. Tak hanya nomor ponsel, wanita itu juga menghubungi nomor apartemen, tetapi hasilnya tetap nihil.


"Ada apa, Mah?" Alvin yang penasaran dengan sikap gusar mamanya pun mendekat.


"Nomornya tidak bisa dihubungi! Eric juga tidak kesini lagi ini."


"Paling lagi di jalan! Mungkin langsung ke kantor."


Ucapan Alvin tak membuat Mama menjadi tenang. Malah wanita itu tampak semakin gusar.


Hingga beberapa saat berlalu, ia tak juga mendapat kabar dari Eric. Bahkan Alvin baru saja menghubungi orang kantor untuk menanyakan apakah Eric sudah datang atau belum.

__ADS_1


"Bagaimana, Vin?" Mamah Elvira setelah Alvin selesai berbicara di telepon.


"Orang kantor bilang Eric tidak ada, Mah! Mungkin dia juga butuh menenangkan diri seperti aku," ujar Alvin.


"Tapi bagaimana kalau Eric pergi, Vin!" ucap Mama Elvira panik.


"Memang Eric mau ke mana sih, Mah. Aku tahu Eric sayang sama mama. Tidak mungkin dia mau pergi. Dia akan mati karena kangen sama mama kalau sampai pergi."


Ekspresi wajah Alvin terkesan masa bodo, tapi dalam hati sebenarnya ia khawatir dengan keadaan Eric.


"Lebih baik kita ke apartemennya sekarang juga, Vin! Mama benar-bener takut Eric pergi. Bagaimanapun keadaannya dia juga anak mama."


Alvin paham dengan kekhawatiran mama.Ia pun takut jika Eric sampai meninggalkan mereka. Tanpa banyak bertanya, ia merangkul mama menuju halaman depan. Seorang sopir langsung mendekat begitu Alvin memanggil dengan sebuah isyarat.


*


*


*


Setibanya di apartemen, Mama Elvira tampak tegang. Sudah beberapa kali Alvin menekan tombol bel, bahkan menggedor pintu dengan cukup keras. Tetapi, Eric tak juga membukakan pintu.


Beruntung Alvin hafal password pintu apartemen, sehingga mereka pun masuk tanpa permisi.


Begitu pintu terbuka, suasana tampak sunyi. Tak ada siapapun di sana. Alvin dan Mama Elvira kemudian menyusuri satu-persatu ruangan yang ada. Namun, mereka tak menemukan Eric.


Begitu melewati ruang televisi, perhatian Mama Elvira langsung tertuju pada secarik kertas putih di atas meja, lengkap dengan sebuah kartu belanja tanpa batas.


Dengan tubuh gemetar, Mama Elvira membuka kertas putih dengan tulisan tangan Eric itu.


___________


Mama ... maafkan aku.


Aku harus pergi. Bukan karena tidak mau di sini. Tapi aku butuh waktu untuk menenangkan diri.


Terima kasih sudah menjaga dan menerimaku tanpa melihat noda hitam yang ada padaku selama ini.


Jika boleh meminta kepada Tuhan, aku sangat berharap terlahir dari mama. Semoga mama selalu bahagia.


Anakmu, Eric.


_____

__ADS_1


__ADS_2