Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Informasi Tentang Eric


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Alvin memasuki halam rumah sakit. Laki-laki itu langsung bergegas turun dan tergesa-gesa memasuki gedung rumah sakit. Kedatangannya pun disambut oleh Daniza yang kini sedang duduk gelisah di ruang tunggu. 


"Bagaimana keadaan mama?" tanya Alvin penuh khawatir. 


Daniza tak langsung menjawab. Ia memilih menenangkan suaminya yang tengah dalam keadaan kalut. "Jangan panik, Mas. Tenang dulu!" 


"Bagaimana aku bisa tenang dalam keadaan seperti ini? Di mana mama?" 


"Mama masih ditangani dokter di ruang IGD. Ayo, duduk dulu. Kita harus tetap tenang." Dengan penuh kesabaran, Daniza mendudukkan suaminya di kursi. Alvin menjambak rambutnya sendiri dengan raut wajah frustrasi. Dan Daniza dapat melihat ketakutan yang tersirat dalam tatapan suaminya. 


"Bagaimana mama bisa pingsan, sih?" bentak laki-laki itu, membuat Daniza tersentak.  


"Semuanya terjadi sangat cepat. Aku bawakan makan siang untuk mama. Tapi, saat mama mau ke kamar mandi, tiba-tiba saja jatuh. Maafkan aku," lirih nya penuh sesal. 


Alvin tersadar saat itu juga. Rasa bersalah merasuk ke hati saat mendengar suara lirih Daniza. Apa lagi setelah melihat bola matanya yang berkaca-kaca.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya terlalu panik." 


Daniza mengangguk pelan. Lalu mengusap ujung matanya yang basah. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kamu yang sabar, ya. Mama pasti akan baik-baik saja." 


Menarik napas dalam, Alvin lantas memeluk istrinya itu. Kemudian mengusap perut yang sudah sedikit menonjol. Kehamilan kembar ini membuat ukuran perut Daniza lebih cepat membesar dibanding kehamilan pertamanya. Alvin merasa sedikit lebih tenang dengan sentuhan yang seolah menghubungkannya dengan kedua buah hatinya.  


"Kamu sendiri sudah makan, belum?" tanyanya.


Daniza menjawab dengan anggukan kepala.   


"Vitamin dari dokter sudah diminum?" 


Lagi, Daniza mengangguk. 


"Bagaimana kakinya? Apa masih sering kesemutan?" tanya Alvin lagi, mengingat belakangan ini Daniza kerap mengeluhkan kaki pegal dan kesemutan. 


Rasa bersalah lagi-lagi menjalar ke hati laki-laki itu. Beberapa waktu belakangan ini, kesibukan di kantor dan masalah-masalah yang ada membuatnya kurang memperhatikan Daniza. Kadang ia baru pulang larut malam saat Daniza sudah tidur. Dan pagi-pagi sekali harus berangkat lagi ke kantor. Bahkan ia tak memiliki waktu untuk menemani Daniza berolahraga ringan di pagi hari seperti saran dokter.


"Sudah tidak lagi, Mas."


 


Alvin bernapas lega.


"Maaf ya, Sayang. Beberapa waktu belakangan ini aku sering mengabaikan kamu. Aku terlalu sibuk kerja, padahal kamu lebih butuh diperhatikan." 

__ADS_1


Daniza hanya mengulas senyum. Lalu menyandarkan kepala di bahu suaminya. 


"Aku tahu kamu tidak bermaksud mengabaikan aku. Sekarang lebih baik kita ke fokus ke pengobatan mama saja."


Alvin mengulas senyum, lantas membelai puncak kepala istrinya. Ia bersyukur di saat sulit seperti ini ada Daniza yang selalu menguatkan.


"Makasih, Sayang."


*


*



Setelah berbicara dengan dokter mengenai kesehatan mama, Alvin masuk ke ruang perawatan. Daniza sedang duduk di sisi pembaringan mama dan melakukan pijatan di kaki mama.


Alvin mendekat dan mencium kening istrinya. "Aku antar kamu pulang, ya. Biar kamu bisa istirahat di rumah," bujuk Alvin setelah melihat wajah Daniza yang tampak sangat letih.


"Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini menemani mama saja. Di rumah, aku juga tidak akan bisa tenang memikirkan mama," tolak Daniza. 


"Tapi Sayang, kamu juga butuh istirahat. Ingat kamu hamil anak kembar dan dokter minta kamu banyak istirahat." 


Daniza mendongakkan kepala demi menatap mata suaminya. "Aku mohon jangan minta aku pulang, Mas. Aku janji akan banyak istirahat. Aku bisa tidur di sana!" Ia menunjuk sebuah sofa bed yang terletak di sudut ruangan.


"Eric ...." Suara gumaman mama mengalihkan perhatian Alvin dan Daniza. Sejak tadi, sudah beberapa kali mama menggumamkan nama Eric dalam keadaan tidak sadar. 


"Mas, apa belum ada kabar dari kak Eric? Kasihan mama terus kepikiran sampai mengigau seperti ini," lirih Daniza.


Alvin mengusap air mata yang meleleh di pipi istrinya. Ia pun tidak tega melihat mama dalam keadaan seperti ini. Sejak kepergian Eric, Mama kurang memperhatikan kesehatannya sendiri.


"Sebenarnya siang tadi orang suruhanku sudah menemukan informasi tentang Eric. Nanti aku usahakan menghubungi dia."  


"Minta Kaka Eric pulang dulu saja, Mas. Kasihan mama. Kalau setelah ketemu mama dan dia mau pergi lagi tidak apa-apa."


"Iya, Sayang." Lagi, ia membujuk Daniza agar berhenti menangis. 


Setelah beberapa saat kemudian, Alvin keluar dari ruangan itu. Ia menuju balkon rumah sakit yang terlihat sepi. Lalu mengeluarkan ponsel dari saku blazer dan segera menghubungi seseorang. 


"Iya, Bos!" Terdengar sahutan seorang pria di ujung telepon. 


"Tolong siapkan tiket pesawat ke Surabaya malam ini juga!" perintah Alvin tanpa basa-basi. 

__ADS_1


Senyap mendera beberapa saat. Sepertinya seseorang yang diberi perintah cukup terkejut. "Ke Surabaya, Bos?" 


"Iya. Kalau bisa pesan tiket pulang pergi!"  


"Maksudnya sekarang?"


Pertanyaan itu membuat Alvin menghela napas panjang. "Iya, sekarang! Kalau perlu pesan tiket penerbangan yang paling cepat!"


"Ba-baik, Bos!"


*


*


*


Sudah larut malam ketika Eric tiba di apartemen tempatnya tinggal selama ini. Hari ini cukup melelahkan baginya setelah aktivitas seharian di luar. Pekerjaan di tempat baru benar-benar menyita waktunya. 


Laki-laki itu mempercepat langkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai 10. Begitu tiba, ia langsung membuka pintu dan menyalakan lampu. 


"Capek juga seharian. Mana rumah berantakan begini lagi!" gerutunya sambil melempar jaket ke sembarang arah. 


Ia lantas menuju dapur dan membuka lemari pendingin. Mengambil air mineral dingin dan meneguknya perlahan. Ia merasa lebih baik setelahnya. 


"Mandi dulu, deh!" 


Baru akan beranjak menuju kamar, sudah terdengar suara bel. Eric sempat terheran dan bertanya-tanya dalam hati tentang siapa yang bertamu di larut malam seperti ini. 


"Tunggu woy!" pekik laki-laki itu sambil berjalan ke arah pintu. Bel sudah berbunyi beberapa kali seolah orang yang ada di depan sana tak sabar lagi untuk dibukakan pintu. 


Eric bahkan sempat merasa makhluk menyebalkan yang ada di depan pintu seperti Alvin yang tidak sabaran.


Bugh! 


Kepalan tinju cukup keras mendarat di wajah Eric sesaat setelah membuka pintu. Membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang. Sepasang matanya pun membulat penuh melihat seseorang yang datang dengan tatapan murka. 


"Apa sih, Monyet! Baru datang langsung main pukul!" pekik Eric.


Bukannya menjawab, Alvin malah merangsek maju dan menghantamkan tinjunya bertubi-tubi. 


Eric bahkan tak membalas dan membiarkan Alvin menyerangnya sesuka hati.

__ADS_1


...****...


__ADS_2