Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Tidak Pekanya Pakai Formalin!


__ADS_3

Alvin dan Daniza seketika menoleh ke sumber suara. Ternyata sejak tadi Mama Elvira berdiri di belakang punggung Alvin tanpa disadari oleh laki-laki itu. Mama Elvira bahkan mendengar dengan jelas ucapan Alvin yang mengakui perbuatannya sendiri terhadap Ruben. Ia sedikit heran, mengapa tadi Ruben tidak membongkar perbuatan Alvin di masa lalu.


"Mama ...." Alvin mengulas senyum seperti biasa. Sambil bertanya dalam hati mengapa mamanya itu selalu muncul tiba-tiba dan membuat terkejut. "Mama kok kayak cenayang sih. Selalu tiba-tiba muncul."


Mama Elvira tak menjawab sapaan putranya. Membuat Alvin memasang sikap waspada. Dengan gerakan super cepat layaknya sambaran petir, Mama Elvira sudah mengarahkan tangannya ke telinga Alvin. Menariknya dengan kekuatan penuh.


"Jadi seperti itu kejadian sebenarnya, ya! Kamu benar-benar keterlaluan, Alvin!" gerutu Mama sambil menambah kekuatan capitannya.


"Sakit ini, Mah!" protes Alvin.


"Biarin! Kamu benar-benar mau bikin Mama malu ya, Vin! Bagaimana nanti kalau Tante Lusi tahu kalau ternyata kamu yang sudah membuat anaknya ngamuk mau pindah sekolah! Mau ditaruh di mana muka mama?"


Alvin masih meringis sambil memegangi tangan sang mama yang mencapit daun telinganya. "Bukan aku yang salah, Mah. Si Ruben yang salah! Kenapa juga gebetan orang diajak jalan?"


"Tapi tidak perlu juga kamu ancam seperti itu sampai dia tidak mau sekolah!" Mama Elvira menjeda ucapannya dengan tarikan napas. Kelakuan Alvin di masa lalu benar-benar menguji keimanan. Bahkan hingga sekarang. "Mama nyesel tadi puji-puji kamu di depan Tante Luci dan Ruben. Mama sampai bilang anak mama itu anak baik dan sabar!"


"Kenapa juga mama harus memuji?"


Di belakang punggung Alvin dan Mama Elvira, Daniza mengatupkan bibir demi menahan tawa. Meskipun terkesan sangat galak, namun entah mengapa interaksi Alvin dan mamanya terasa sangat lucu di mata Daniza.


Alvin yang merupakan orang berkuasa dan pewaris sebuah perusahaan besar ternyata masih takut dengan hukuman mamanya. Bahkan Alvin tidak berkutik kalau sudah menyangkut sang mama.


"Pantas saja tadi kamu diam saat Ruben ada di meja kita! Ternyata kamu takut kelakuan kamu terbongkar, ya!"


Mama melepas capitannya saat telah merasa puas. Sekarang Alvin sedang mengusap telinganya yang terasa kebas. Dengan bibir mengerucut sambil menatap mamanya. Sedangkan Daniza masih terdiam dan berpura-pura menatap ke arah lain.


"Kenapa sih mama sama Daniz itu punya satu kebiasaan yang sama?" kesal Alvin. Masih berani protes padahal situasi dirinya sudah bagai telur di ujung tanduk.


"Maksud kamu sama bagaimana?" tanya Mama memelototkan mata.


"Sama-sama suka menganiaya orang!" jawab Alvin, mengingat Mama dan Daniza kadang menjambak atau mencubit.


"Itu karma buat kamu karena dulu suka nge-bully orang!"


Kalau tidak dibully, bisa-bisa anak Mama ini yang terbully!

__ADS_1


Mama Elvira menarik napas dalam-dalam. Seperti sedang menetralkan perasaan kesal yang merajai hatinya. Jika ia tetap di sana, bisa-bisa jantungnya tidak akan kuat.


"Sudah, ah! Mama mau pulang! Capek sama kamu!" Mama Elvira memelototkan mata, sebelum akhirnya meninggalkan Alvin dan Daniza. Seorang sopir yang sudah menunggu lantas membukakan pintu mobil.


Alvin baru bernapas lega saat mobil yang ditumpangi mamanya melaju meninggalkan gedung hotel. Laki-laki itu melirik wanita di belakangnya yang masih mengatupkan bibir. Sialnya Alvin dapat melihat betapa Daniza menyembunyikan tawanya.


"Ibu Negara sama calon Ibu Kota kok kompak bener!"


*


*


*


Daniza belum mampu menghentikan tawa sejak mobil melaju meninggalkan hotel. Entah mengapa kejadian hari ini terasa menggelitiknya. Pertemuan dengan Ruben yang ternyata adalah anak teman Mama Elvira seperti kejutan besar bagi Alvin.


"Puas-puasin ketawanya!" protes Alvin dengan pandangan terus tertuju pada jalan di depan.


Alvin sesekali melirik Daniza. Meskipun merasa kesal karena Daniza terus menertawakan dirinya, tetapi ia cukup merasa senang. Sejak awal bertemu lagi, ini adalah pertama kali ia melihat Daniza tertawa lepas.


"Kak Ruben sudah baik tadi dengan jadi korban bisu loh, Kak. Malah Kak Alvin sendiri yang bongkar semuanya!"


Daniza lanjut tertawa. Seperti telah melupakan rentetan peristiwa menyedihkan yang pernah terjadi dalam kehidupannya. Dan Alvin sangat suka mendengar tawa Daniza yang renyah.


"Kamu tega tahu, Daniz!" ucap Alvin. Memasang wajah paling menyedihkan di dunia.


"Tega kenapa?" Sekarang tawa Daniza sudah reda. Wanita itu mengusap ujung matanya yang basah karena terus tertawa.


"Iya, tega! Setiap aku dihukum Mama, kamu tidak pernah membantu untuk menghalangi. Bagaimana kalau telingaku putus dijewer mama? Atau kepalaku botak karena dijambak mama?"


"Jangan drama, Kak! Mana mungkin Ibu Elvira menghukum anaknya sendiri separah itu?"


"Mama kan kesal karena orang yang Ruben ceritakan tadi ternyata adalah anaknya sendiri." Alvin berdecak kesal. "Ini namanya CLBK, tahu!"


Daniza melirik Alvin dengan kedua alis saling bertaut. CLBK? Apa itu? Setahu Daniza, CLBK adalah singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali. Tetapi, entah apa arti CLBK versi Alvin.

__ADS_1


"CLBK itu maksudnya apa?" tanya Daniza penasaran.


"Cerita Lama Bangkit Kembali!" jawab Alvin kesal.


Daniza kembali tertawa.


"Aku agak menyesal kenapa dulu tidak mengancam supaya dia pindah ke Kutub Selatan saja! Biar bisa ternak pinguin di sana!"


Daniza kembali terbahak. Ingin rasanya mencubit Alvin saking gemasnya.


"Jangan ketawa! Cium nih, biar diam!"


Mendapat ancaman itu, Daniza pun mengatupkan bibirnya. Lalu mengarahkan pandangan keluar jendela. Entah ucapan Alvin tadi serius atau hanya sekedar candaan. Yang pasti wajah Daniza jadi memerah mendengarnya.


"Oh ya, Daniz! Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Alvin beberapa saat kemudian.


Daniza menatap Alvin. "Mau tanya apa, Kak?"


"Setelah resmi bercerai dari suami kamu nanti ... kamu ada rencana apa?"


Pertanyaan itu tak segera dijawab oleh Daniza. Jika ditanya demikian, sejujurnya Daniza pun tidak tahu harus menjawab apa. Ia tak pernah memikirkan rencana selanjutnya. Bisa bertahan hidup setelah dibuang suami saja sudah untung baginya. Sekarang Alvin hadir dalam kehidupannya bagai sebuah kejutan.


"Aku belum tahu," jawab Daniza singkat.


"Kenapa tidak tahu? Kamu tidak ada rencana menikah lagi?"


Daniza menunduk saat itu juga. Pernikahan dengan Revan telah menciptakan trauma mendalam. Jangankan untuk menikah. Dekat dengan laki-laki lain saja ia masih ragu.


"Untuk saat ini tidak."


Alvin menghela napas panjang. Punggungnya bersandar dengan lemas. Sekarang ia malah menatap nanar jalan di depan.


"Dari dulu sampai sekarang tidak mengerti dikodein! Kamu tidak pekanya pakai formalin ya, Daniz!"


*****

__ADS_1


__ADS_2