Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Gara-Gara Sushi


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Alvin melaju dengan kecepatan sedang malam itu. Sambil menyetir, ia memperhatikan sisi jalan yang dilewati. Karena malam ini terlambat pulang ke rumah, ia harus menyiapkan sesuatu untuk menjinakkan Daniza. Karena belakangan ini istrinya itu cenderung galak dan mudah merajuk. Apa lagi, tadi Alvin lupa memberi kabar bahwa dirinya akan pulang terlambat.


Semua ini karena Ruben yang mengajak nongkrong di kafe. Mereka baru saja menjadi teman baik setelah Alvin pulih dari amnesianya. Selain itu, mereka juga membicarakan rencana kerjasama yang akan terjalin antara perusahaan mereka.


"Beli apa ya, enaknya?" gumam laki-laki itu. 


Melewati sebuah kawasan jalan yang cukup padat, perhatian Alvin tertuju pada sebuah restoran Jepang yang ada di sisi jalan. Makanan khas negeri sakura itu adalah pilihannya untuk dibawa pulang dan dipersembahkan untuk Daniza. 


"Bawakan sushi aja lah." Alvin pun menepikan mobil. 


Restoran tersebut cukup ramai oleh pengunjung, sehingga harus antre dengan pengunjung lain. Sambil menunggu, Alvin sesekali melihat notifikasi pada ponselnya. Sudah ada beberapa panggilan tidak terjawab dan juga pesan masuk dari Daniza.


"Kamu di mana, Mas? Kenapa belum pulang?" Isi pesan Daniza.


"Iya, Sayang. Aku sudah di jalan. Sebentar lagi, kok." Balasan pesan yang dikirim Alvin.


"Jangan lama, ya. Aku tidak tenang kalau kamu belum di rumah malam-malam begini."


"Iya, Sayang."


Setelah mengirimkan balasan pesan terakhirnya, Alvin memasukkan ponsel ke saku blazer. Hampir 30 menit menunggu, akhirnya Sushi sudah di tangan. Laki-laki itu segera kembali ke mobil dan menatap sekotak sushi dengan perasaan bahagia. 


"Daniza pasti bahagia punya suami perhatian kayak aku. Memangnya si Revan yang modal burung doang? Tukang selingkuh lagi," ucapnya penuh rasa bangga dan memuji diri setinggi langit.


"Sekarang setelah Daniza bahagia, dia baru mau bertemu lagi dan minta maaf. Enak saja, Daniza sudah ada yang punya sekarang!" 


Ia menghembuskan napas panjang sambil meletakkan paper bag berisi sushi ke kursi di samping. Setelah terjadi acara saling curhat dengan sushi, akhirnya Alvin melajukan mobil.


Butuh lima belas menit perjalanan dari restoran hingga tiba di rumah. Alvin masuk setelah Santi membukakan pintu. Suasana tampak temaram dan sepi karena hanya ada satu lampu yang menyala. Mungkin sebagian penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing-masing. 


"Daniz di mana?" tanyanya, ketika tak melihat Daniza di ruang televisi. 


"Mbak Daniz ada di atas, Den," jawab Santi. 


"Oh, ya sudah. Ini buat kamu! Di bagi, ya!" Ia menyerahkan satu kotak sushi kepada Santi. Alvin memang sengaja membeli beberapa porsi untuk di bagikan kepada beberapa ART, mama dan Eric.

__ADS_1


"Terima kasih, Den."


Alvin pun segera beranjak menuju tangga. Baru akan menapaki anak tangga pertama, laki-laki itu sudah dikejutkan dengan kedatangan sosok berpakaian putih dengan wajah yang juga putih, membuat paper bag di tangannya terjatuh ke lantai. 


"Ada Konjuring!" teriak laki-laki itu.


"Dasar anak durjana!" 


Baru akan mengambil langkah seribu, Alvin seketika terdiam. Suara itu terdengar sangat familiar. Memberanikan diri menoleh, Alvin menghela napas panjang setelah menyadari sosok tersebut ternyata adalah mamanya, bukan Konjuring. 


"Ah, Mama bikin kaget saja!" ujar Alvin sambil mengusap dada. "Untung jantungnya kuat, kalau tidak, pasti sudah pingsan di sini." 


"Kamu pikir mama sama seramnya dengan Konjuring?" 


"Bukan begitu maksud aku, Mama. Ngapain Mamaku yang cantik ini keluyuran pakai terigu di muka?" 


Semakin gemas saja Mama Elvira oleh ucapan putranya itu. "Ini namanya masker! Memang kamu tidak pernah lihat istri kamu maskeran?" 


"Ya pernah, tapi tidak seram begini." 


"Ampun, Mah! Damai itu indah, loh!" pekik Alvin. Mama baru melepas saat Alvin memohon ampun.


"Ngomong-ngomong dari mana saja kamu? Kenapa pulangnya lama sedangkan Eric sudah pulang sejak tadi." 


Alvin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjuk ke angka sepuluh. Ia lantas memasang senyum paling polos di dunia.


"Ini telat pulang karena habis ketemu Ruben di kafe, Mah. Habis itu aku harus tungguin sushi juga." 


"Sushi?" Embusan napas Mama Elvira sudah mulai terdengar berat. Setahunya Sushi adalah nama sekretaris Alvin yang baru beberapa minggu ini bekerja di perusahaan mereka. "Untuk apa kamu tunggu Sushi sampai malam-malam begini?" tanyanya curiga. 


"Restorannya padat, Mah. Antriannya panjang banget." 


Lagi, Mama Elvira menarik napas dalam.


Suami durjana, istri menunggu di rumah malah asyik dengan wanita lain. Begitu pikir Mama Elvira.

__ADS_1


Tidak akan pernah ia biarkan Alvin berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri dan menyakiti Daniza. Jika perlu Mama Elvira akan menjadi tameng untuk melindungi menantunya. Terlebih, Daniza sedang mengandung bayi kembar.


"Terus Sushi nya di mana sekarang?" tanya Mama mulai memasang sikap galak.


"Ada, aku bawa pulang buat Daniza!" jawab Alvin polos dan jujur.


Jeweran keras sudah mendarat lagi ke telinga Alvin. Mama Elvira sudah tidak tahan dengan ulah putranya itu. Buah memang kalau jatuh tidak pernah jauh dari pohon.


"Pantas saja belakangan ini kamu sering pulang telat. Ternyata kamu sering menghabiskan waktu sama Sushi, ya? Mau main gelap kamu sama dia?"  


Alvin hanya dapat meringis sambil berusaha melepas tangan mama. "Main gelap bagaimana, Mah?" 


"Sudah berapa lama hubungan kamu sama Sushi, hah? Mama tidak mau tahu ya, Vin! Pecat sekretaris tidak tahu diri itu sekarang juga dari perusahaan kamu!" 


"Loh, apa hubungannya semua ini dengan sekretaris aku, Mah?"


"Masih berani tanya lagi! Pokoknya pecat sekretaris kamu itu hari ini juga!" 


Rahang Alvin terbuka lebar. Ia mulai menerka-nerka apa maksud mamanya barusan. Sepertinya sedang terjadi salah sambung di antara mereka. 


Tak ingin salah sambung terus berlanjut ke tahap yang lebih serius, Alvin meraih paper bag dan menunjukkan ke hadapan mama. "Sepertinya Mama salah paham, deh. Maksud aku sushi yang ini, Mah. Bukan Sushi di kantor." 


Mama Elvira terdiam, lalu menatap paper bag di tangan Alvin. Setelah melihat logo restoran Jepang yang ada di bagian depan paper bag itu, ia baru menyadari semuanya.


"Oh, jadi dari tadi maksudnya sushi makanan Jepang, toh?"


Sepasang bola mata Mama Elvira membulat. Mendadak pipinya terasa panas. Beruntung ia menggunakan masker tebal yang menutupi wajahnya, sehingga semburat merah tersembunyi. 


"Em ... Vin, kayaknya kepala mama agak pusing deh. Mama ke kamar dulu, ya. Cepat bawa sushi nya buat Daniza." Tanpa menunggu jawaban dari Alvin Mama Elvira beranjak menjejaki tangga menuju lantai atas. 


Alvin hanya menatap mama dengan bibir mengerucut, sambil mengusap telinganya yang terasa kebas.


"Sudah kena jewer lagi, salah paham pula!" 


...****...

__ADS_1


__ADS_2