Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Sebagai Seorang Ibu, Saya Tidak Terima!


__ADS_3

Setelah mendapat laporan dari Eric mengenai Alvin, Mama Elvira memutuskan untuk menemui Daniza sore itu juga. Setidaknya, ia harus memastikan sendiri seberapa jauh hubungan putranya dengan Daniza agar dapat mengambil sebuah keputusan.


Belum ada pembicaraan antara Daniza dengan Mama Elvira sejak beberapa menit lalu. Daniza duduk dengan kepala menunduk, sementara Mama Elvira terdiam sambil memikirkan kata yang tepat untuk diutarakan. Melihat kecanggungan Daniza, Mama Elvira mengikis jarak. Kini keduanya duduk saling berdampingan.


"Daniza ... Mungkin kamu terkejut karena saya datang tiba-tiba. Saya ke sini karena ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan kamu." Mama Elvira membuka suara.


"Iya, Bu," sahut Daniza singkat. Masih belum berani mengangkat kepala meskipun Mama Elvira bersikap sangat ramah dan lembut.


"Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian di rumah malam itu. Saya juga tidak menyangka kalau saudara papanya Alvin akan bicara seperti itu."


"Saya bisa mengerti, Bu," balas Daniza. Meskipun ucapan Tante Keshia malam itu benar-benar melukai hatinya. Tetapi, ia tidak ingin terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Toh, ucapan Tante Keshia memang ada benarnya. Daniza cukup sadar diri bahwa dirinya tidak cukup layak untuk Alvin.


"Saya juga perlu minta maaf atas kelakukan Alvin. Mungkin kamu tertekan karena Alvin terlalu posesif terhadap kamu." Mama Elvira sadar, bahwa bukan Daniza yang mengejar putranya. Tetapi Alvinlah terlalu diperbudak oleh cinta sampai rela berbuat apa pun.


Sekarang wanita itu harus menyampaikan tujuan yang sebenarnya mendatangi Daniza sore ini. Ia tak ingin Alvin terombang-ambing dalam ketidakpastian.


"Kalau boleh tahu, sudah sampai di mana hubungan kalian?"


Pertanyaan Mama Elvira membuat Daniza mengatupkan bibir rapat. Alvin memang sudah secara terang-terangan menunjukkan cintanya. Namun, Daniza yang pernah patah hati seolah menutup pintu hatinya untuk siapapun.


"Untuk saat ini perasaan saya terhadap Kak Alvin masih sama seperti dulu. Tidak ada yang lebih."

__ADS_1


Sudut mata Mama Elvira berkerut mendengar pengakuan Daniza. Tak dapat dipungkiri ada sedikit rasa kecewa. Sebab ternyata cinta anak semata wayangnya itu bertepuk sebelah tangan.


"Jadi maksudnya kamu belum ada pikiran untuk menjalani hubungan serius bersama Alvin?" Raut wajah Mama Elvira menjadi datar.


"Iya, Bu. Selama ini saya dan Kak Alvin masih sebatas teman." Daniza semakin dilingkupi perasaan bersalah. Tetapi, ia tak dapat berbuat apa-apa. Karena memang begitulah adanya..


"Tapi kamu tahu 'kan seperti apa perasaan Alvin terhadap kamu?" tanya Mama Elvira dengan nada sedikit menekan.


"Iya, Bu. Tapi saya ...." Daniza tertunduk. Beribu rangkaian kata menari di kepala, tetapi tak sampai ketika hendak diungkapkan melalui lisannya.


Setelah mendesah panjang, kali ini Mama Elvira menatap Daniza serius. "Jadi apa maksud kebersamaan kalian selama ini? Selain itu kamu sama sekali tidak membantah saat Alvin mengenalkan kamu sebagai calon menantu di keluarga kami."


Layaknya disayat benda tajam, seperti itu lah perasaan Daniza saat ini. "Saya juga tidak tahu kalau akan seperti itu, Bu. Kak Alvin hanya bilang sudah bosan dengan keluarganya yang sering menjodohkan dia. Makanya Kak Alvin mengenalkan saya sebagai calon istri."


Anggukan kepala dipilih Daniza sebagai jawaban.


"Kalau boleh tahu perasaan kamu sendiri terhadap Alvin seperti apa?"


Daniza terdiam beberapa saat. Jika ditanya demikian, ia pun belum paham seperti apa perasaan yang ia miliki untuk Alvin. Selama ini ia begitu terpaku dengan patah hati akibat pengkhianatan Revan dan juga kehilangan calon buah hatinya.


"Sejujurnya saya tidak tahu, Bu."

__ADS_1


Kelopak mata Mama Elvira terpejam, seolah tak terima dengan jawaban Daniza. "Setelah semua pengorbanan yang dilakukan Alvin untuk kamu, jawaban kamu hanya seperti ini?"


"Maaf, Bu. Memang tidak seharusnya saya menerima bantuan Kak Alvin!" Bola mata Daniza mulai berkaca-kaca.


"Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan Alvin? Dia sudah sangat lama mencintai kamu dan rela berbuat apa saja demi kamu." Nada Mama Elvira kembali meninggi. "Kamu tahu, dia pecat semua kerabat yang bekerja di perusahaannya karena sudah berani menghina kamu. Tapi hanya seperti ini balasan kamu?"


Cairan bening mulai meleleh di pipi Daniza. Ia bahkan belum berani mengangkat kepala demi menatap Mama Elvira. "Saya minta maaf, Bu."


"Tidak perlu kamu minta maaf," potong wanita itu cepat. "Saya ini seorang ibu, Daniza. Dan ibu mana pun tidak akan mau melihat anaknya terluka. Kalau kamu memang tidak menginginkan Alvin, seharusnya dari awal kamu menjauhi dia dan tidak memberi harapan. Itu sama halnya kamu mempermainkan perasaan Alvin."


"Bu … bukan begitu, Bu." Daniza mulai terisak. Hal itu membuat Mama Elvira tersadar bahwa nada bicaranya terkesan mengintimidasi. Padahal bukan sepenuhnya salah Daniza. Wanita itu berpaling sejenak. Menarik napas panjang demi mengurai amarah yang melambung.


Butuh waktu bagi Mama Elvira untuk dapat mengendalikan diri. Sebab jika tidak, ia mungkin akan menyakiti hati Daniza, dan tentunya hal itu akan turut membuat Alvin terluka.


"Daniza ... saya tidak pernah keberatan sebanyak apapun uang yang dikeluarkan Alvin untuk kamu. Sebagai wanita saya ikut sedih mendengar apa yang terjadi kepada kamu." Mama Elvira menjeda ucapannya dengan tarikan napas. "Tapi, sebagai seorang ibu, saya tidak bisa melihat anak saya patah hati."


"Saya mengerti, Bu," jawab Daniza dengan suara gemetar.


Mama Elvira kembali menatap Daniza. Kali ini dengan mata berkaca-kaca. "Kalau kamu memang tidak memiliki perasaan apapun untuk Alvin, tolong jangan memberi harapan. Sebaiknya mulai sekarang kamu menjauh dari Alvin."


Tanpa dapat dikendalikan kedua sisi wajah Daniza kembali basah oleh air mata. Entah mengapa permintaan Mama Elvira terdengar begitu menyakitkan. Lalu, benarkah di dalam hatinya tidak ada nama Alvin?

__ADS_1


*****


__ADS_2