Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Twins Baby


__ADS_3

"Selamat pagi, Dokter!" Sapa Alvin, sesaat setelah memasuki ruangan dokter. 


"Selamat pagi," balas sang dokter sembari mengulas senyum ramah. 


Dokter Allan yang terkenal dengan kutukan di meja makan itu mempersilahkan mereka untuk duduk. Mengobrol basa-basi setelah beberapa bulan tak bertemu.


Sebelum melakukan pemeriksaan USG, Alvin sempat menanyakan beberapa hal seputar kehamilan istrinya. 


"Istri saya 'kan pernah pendarahan sebelumnya, Dok. Saya sedikit parno sejak kejadian malam itu," ucap Alvin apa adanya. 


Dokter Allan mengangguk paham. Ia mendengar semua keluhan Alvin dengan sabar.


"Untuk kehamilan sekarang, tolong dijaga baik-baik, ya. Saya akan resepkan penguat kandungan untuk Ibu Daniza. Kalau bisa, untuk trimester pertama, jangan melakukan aktivitas berat dulu," saran sang dokter.


"Baik, Dokter." 


"Apa Bu Daniza ada keluhan lain selama kehamilan?" tanya Dokter Allan lagi.


"Sering mual dan pusing, Dok. Selain itu, saya sedikit kehilangan selera makan beberapa waktu belakangan ini," jawab Daniza.


Dokter Allan tampak menuliskan catatan pada buku. "Itu gejala normal untuk trimester pertama karena lonjakan hormon yang tidak stabil. Untuk mengatasi mual, bisa konsumsi makanan kaya karbohidrat."  


Daniza mengangguk paham.


"Kalau begitu, kita USG saja dulu, ya." 


Dengan dibantu seorang perawat wanita, Daniza menuju ranjang pasien. Perawat memakaikan selimut tipis, sebelum mengoleskan gel di permukaan perut. 


Ketika Dokter Allan mulai menggerakkan alat di perut Daniza, Alvin malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Merasa tidak rela jika ada laki-laki lain yang melihat bagian tubuh sang istri selain dirinya.


"Jangan cemburu, Vin! Jangan cemburu!" 


Dokter Allan lantas menjelaskan kondisi kandungan Daniza sambil memperhatikan layar monitor. Sementara Alvin berdiri di tempat dengan wajah menekuk. 


Kenapa juga harus bawa Daniza ke dokter kandungan cowok?" Sedikit rasa sesal merasuk ke hati Alvin, mengapa tadi tak memilih seorang dokter wanita? 


"Sabar, Vin! Dia cuma menjalankan tugas. Lagian Dokter Allan yang paling tahu kondisi kesehatan Daniza." 


Sepanjang Daniza menjalani pemeriksaan, Alvin tak henti-hentinya menggerutu dalam hati. Mungkin lain kali ia akan memilih mendatangi dokter kandungan wanita saja.


"Janinnya kembar, ya," ucap sang dokter tampak antusias.


Bola mata Alvin melebar saat itu juga. Untuk beberapa saat rasa terkejut membuatnya tak dapat berucap sepatah berkata. Sebuah kejutan besar baginya mengetahui calon buah hatinya ternyata kembar.


"Serius, Dok?" Ia lantas memperhatikan layar monitor.


Dan bukan hanya Alvin yang terkejut. Daniza pun sama terkejutnya. Bola matanya kini berkaca-kaca menatap layar monitor. Sebelumnya, ia pun belum mengetahui perihal janin kembar dalam kandungannya. Sebab memang belum pernah memeriksakan diri sebelumnya.

__ADS_1


"Pak Alvin dan Bu Daniza belum tahu, ya?"


"Belum, Dok. Saya memang belum pernah periksa sebelumnya." Daniza menjawab cepat.


Alvin mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih.


 


*


*


*


Setelah memeriksakan kandungannya, Alvin menggandeng Daniza menuju parkiran. Senyum tak pernah memudar dari wajah rupawan itu. Apalagi setelah mengetahui akan memiliki anak kembar.


Tetapi, di antara semua kebahagiaan itu, ada sesuatu yang terus saja mengganjal pikiran dan membuatnya tidak tenang sejak tadi.


"Kenapa sih, Mas?" Daniza menatap suaminya dengan sedikit heran. 


"Aku rasa penjelasan Dokter Allan tadi agak ambigu, deh. Kamu merasa begitu, tidak?" tanya Alvin tanpa melepas tangannya yang melingkar di pinggang Daniza. 


"Penjelasan yang mana? Aku rasa penjelasan Dokter Allan tadi cukup jelas." 


"Aku agak bingung di bagian kamu harus menghindari aktivitas melelahkan. Itu kan ambigu banget. Menurut kamu, aktivitas berat mana saja yang harus dihindari?" 


Alvin mengangguk mengerti. "Ya udah, Sayang. Mulai sekarang kamu jangan melakukan pekerjaan apapun. Nanti aku tambah ART di rumah, biar kamu bisa banyak istirahat." 


"Tapi tidak usah berlebihan begitu juga, Mas. Aku masih bisa melayani kamu dengan baik walaupun lagi hamil." 


"Kalau layanan di tempat tidur gimana? Dokter Allan minta dikurangi tidak ya?" 


Daniza kembali menghela napas panjang. Sekarang ia mengerti ke mana sebenarnya arah pertanyaan suaminya tadi. "Mas, kamu sejak ingatannya pulih, pikirannya jadi m3sum terus, ya?" 


"Aku laki-laki normal, Sayang. Kalau tidak m3sum bagaimana baby di perut kamu bisa jadi?"    


"Mas!" 


Semakin jelas saja rona merah di pipi Daniza. Sepertinya Alvin memang sengaja ingin menggodanya. Cubitan gemas sudah ia hadiahkan ke lengan kanan suaminya. 


*


*



"Kamu lapar nggak?" tanya Alvin di sela-sela perjalanan pulang. 

__ADS_1


Kebetulan, sekarang memang sudah masuk jam makan siang dan perutnya terasa kosong.


"Boleh, Mas. Tapi enaknya makan di mana, ya?" tanya Daniza, sembari melirik ke sisi jalan. Ada beberapa restoran cepat saji yang sudah mereka lewati. 


"Kamu lagi mau makan apa memangnya?" tanya Alvin.


"Terserah aja, Mas!" 


Alvin menghembuskan napas panjang. Kata terserah adalah jawaban paling menakutkan jika bertanya kepada wanita. "Kenapa sih perempuan itu selalu menjawab terserah setiap kali ditanya mau makan apa?" 


Daniza terdiam beberapa saat. Terlihat bingung. "Ya nggak tahu lagi mau makan apa. Terserah kamu saja deh."  


"Ya sudah, aku yang pilih tapi nanti jangan protes, ya?" 


Daniza menjawab dengan anggukan kepala. 


Tak berselang lama, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Alvin memutuskan untuk berkencan terlebih dahulu. Keduanya menghabiskan waktu berdua layaknya pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. 


Seolah tak ingin kalah dari pasangan lainnya, Alvin menggandeng tangan Daniza. Sangat romantis bagi keduanya. 


Sebuah restoran dengan menu utama steak dipilih Alvin siang ini. Setahunya, steak adalah makanan favorit Daniza. 


"Kamu suka makan steak, kan?" tanyanya. 


"Suka." 


"Ya udah, kita makan di sini saja." 


Alvin menarik kursi agar Daniza bisa duduk di sana. Kemudian memilih beberapa menu lainnya yang menurutnya akan disukai Daniza. Setelah beberapa menit menunggu, pesanan pun datang. 


Alvin dapat menghirup aroma daging panas begitu pramusaji meletakkan dua porsi steak ke meja. Mendadak kepalanya terasa berdenyut.


"Dagingnya basi kayaknya, ya?" bisik Alvin kepada Daniza, setelah pramusaji beranjak pergi.


"Masa sih, Mas?" Daniza menatap suaminya sedikit heran. Kemudian mengendus aroma daging di hadapannya. Ia tak menemukan aroma yang aneh. Malah langsung melahap dengan nikmat. "Enak, kok."


"Jangan dimakan! Bau dagingnya aneh!" Alvin sudah merasakan gejolak dalam perut. Apa lagi saat melihat warna daging yang kecoklatan.


"Ini enak, Mas. Coba deh!" Ia memotong daging kecil, lalu hendak menyuapkan kepada suaminya. Tetapi Alvin langsung mengatupkan bibir sambil menggeleng.


"Sayang, sebentar, ya. Aku mau ke toilet sebentar!" 


Tanpa menunggu jawaban Daniza, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju toilet. Laki-laki itu langsung menabrakkan tubuhnya pada wastafel dan mengeluarkan cairan dari mulutnya. 


"Kok bisa mual cuma karena lihat daging steak sih? Baunya nggak enak lagi."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2