Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Berhasil Meluluhkan!


__ADS_3

"Huss! Kalian kalau mau membicarakan Bu Daniza hati-hati, jangan sampai pembicaraan kalian sampai ke telinga Pak Alvin!" Seorang wanita terdengar menyela, membuat pembicaraan dua wanita tadi terhenti.


"Memangnya kenapa?"


"Kalian belum tahu penyebab Pak Adi dan kerabat Pak Alvin yang lain dipecat secara mendadak?"


Sejenak hening mendominasi. Tidak ada yang mengeluarkan suara, hingga salah satunya menyela. "Bukannya mereka korupsi, ya?"


"Bukanlah," seru wanita itu. "Mereka habis membuat masalah dengan Bu Daniza dan membuat Pak Alvin marah besar. Kalian juga akan bernasib sama kalau sampai ketahuan membicarakan Bu Daniza. Mau?"


"Ya tidaklah! Lagi pula di sini tidak ada yang dengar kita, jadi aman!"


"Di kantor sebesar ini harus hati-hati. Kadang tembok juga punya telinga!"


Di dalam sana, Daniza mulai merasa sesak mendengar pembicaraan staf wanita itu. Meskipun sadar dirinya akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang sebagai calon istri Alvin, tetapi hati tetaplah hati yang memiliki rasa sakit. Tak tahan, ia pun membuka pintu dan bergegas keluar.


Tiga wanita yang membicarakannya tampak sangat terkejut setelah melihat sosok yang baru saja keluar dari toilet. Meski begitu, Daniza tetap berusaha bersikap biasa saja dan segera keluar. Seolah tak mendengar pembicaraan mereka.


"Bukannya itu Bu Daniza, ya?" tanya salah satu dari tiga wanita tadi sambil berusaha mengingat-ingat.


"Iya benar! Aku pernah lihat fotonya di sosial media. Aduh, bagaimana kalau Bu Daniza mengadu ke Pak Alvin?" Mereka tampak mulai panik dan saling menyalahkan satu sama lain.


"Kalian sih, tidak bisa jaga mulut. Berdoa saja supaya Bu Daniza berbaik hati dan tidak mengadukan kalian ke Pak Alvin."


*


*


*


Sementara di luar sana, Daniza mempercepat langkah kakinya. Sekretaris Alvin sontak berdiri saat melihat Daniza berjalan ke arah pintu.


"Bu Daniza?" sapanya dengan ramah.


Daniza menoleh sejenak, lalu membalas dengan senyum tipis. "Selamat sore. Saya mau ketemu Kak Alvin ... em ... maksud saya mau ketemu Pak Alvin." Ia meralat panggilan yang disematkan untuk Alvin.

__ADS_1


"Pak Alvin ada di dalam, Bu. Tapi sedang ada tamu penting. Saya akan konfirmasi dulu ke Pak Alvin kalau ada Bu Daniza di sini."


"Oh, ada tamu, ya. Kalau begitu nanti saja saya datang lagi, Mbak. Tidak enak mengganggu." Daniza pikir lebih baik berbicara dengan Alvin nanti. Toh, waktu mereka masih banyak.


"Tunggu, Bu! Biar saya hubungi dulu sebentar. Silahkan duduk dulu." Dengan sikap sangat ramah, sekretaris itu menunjuk sofa tepat di depan mejanya. Kemudian sigap meraih gagang telepon dan langsung menekan angka satu.


Daniza pun memilih duduk, sembari menunggu sang sekretaris menghubungi Alvin untuk memberitahukan perihal kedatangannya. Hanya dalam hitungan menit, sang sekretaris kembali memanggil.


"Bu Daniza, kata Pak Alvin, Bu Daniza boleh langsung masuk." Wanita itu berdiri dari duduknya mendahului Daniza untuk membukakan pintu ruangan sang bos.


"Terima kasih," ucap Daniza diiringi senyuman ramah.


Begitu memasuki ruangan mewah itu, pandangan Daniza berkeliling. Kemudian terpaku dengan pemandangan di hadapannya. Alvin tengah duduk dengan seorang wanita cantik dengan pakaian yang bagi Daniza terlalu sempit untuk ukuran pakaian kerja.


Melihat Daniza berdiri di ambang pintu, Alvin langsung bangkit menyambut. Dengan senyum hangat layaknya mentari di pagi hari.


"Sayang, tumben kamu ke sini?" Panggilan sayang yang disematkan Alvin membuat Daniza berdebar-debar. Merasa diakui di hadapan rekan bisnis Alvin.


"Sebenarnya aku ada perlu. Tapi aku takut ganggu," jawab Daniza setengah berbisik.


"Alea ... kenalkan, ini calon istri saya, namanya Daniza," ucap Alvin memperkenalkan Daniza. "Sayang, ini Alea. Teman lama sekaligus rekan bisnis."


Wanita bernama Alea itu mengulurkan tangan. Daniza menyambut dengan sungkan. "Hai, salam kenal. Aku Alea. Selamat untuk kalian."


"Terima kasih," balas Daniza mengulas senyum.


"Sayang, Kamu duduk dulu sambil tunggu, ya? Aku masih ada urusan sebentar."


Daniza mengangguk, membuat Alvin membawanya untuk duduk di kursi kerja. Sementara Alvin sendiri kembali ke sofa tempat tadi duduk dengan Alea. Sesekali Daniza tampak melirik. Memperhatikan wanita cantik di sisi calon suaminya.


"Apa Kak Alvin sering bertemu wanita berpakaian seperti ini di kantor ya?" gumam Daniza dalam hati. Entah untuk alasan apa kau kurang suka melihat Alvin dekat dekat wanita lain.


Hampir 30 menit Daniza menunggu hingga Alvin selesai dengan urusannya. Setelah kepergian Alea, tinggal Daniza berdua dengan Alvin di ruangan itu.


"Ada apa? Katanya ada yang penting?" Alvin mendekati kursi. Tanpa kata ia membungkuk dan menciumi ubun-ubun Daniza.

__ADS_1


"Ada hal penting yang mau aku bicarakan."


Dahi Alvin tampak berkerut. Mencoba menebak tujuan Daniza menemuinya sore itu. "Pasti sesuatu yang penting sampai kamu melanggar perintah Mama. Mama kan minta supaya kita jangan ketemu dulu. Kalau ketahuan bisa gawat."


"Iya, sih. Tapi aku tidak enak sama Tante Keshia."


Raut wajah Alvin tiba-tiba berubah datar mendengar nama itu. Diakui Daniza, Alvin memang sedikit pendendam. Karena sudah berbulan-bulan ia belum juga memberi maaf kepada Tante Keshia.


"Jadi Tante Keshia yang kirim kamu ke sini?"


Daniza menunduk. Melalui raut wajah Alvin, ia dapat menebak bahwa laki-laki itu tampak kurang senang. Tanpa sadar Daniza menggenggam lengan Alvin, merengek dengan manja. "Maaf, maksud aku ...."


"Aku tahu. Tante Keshia habis menemui kamu untuk minta tolong bujuk aku, kan?"


Daniza mengulas senyum getir. Ia sempat lupa bahwa di apartemen Alvin memiliki CCTV bernyawa. Tentu saja Santi akan siap melaporkan apapun yang dilakukan Daniza.


"Aku tidak enak. Setidaknya sebelum menikah, masalah Kak Alvin dengan Tante Keshia selesai dulu. Aku tidak mau masuk ke keluarga Kak Alvin dengan membawa masalah. Bagaimana pun juga, masalah itu berawal dari aku."


Alvin kembali membelai puncak kepala Daniza. Alvin tidak pernah tahan jika melihat wajah Daniza murung. "Ya sudah, demi kamu nanti aku minta Eric hubungi mereka."


"Yang benar?" tanya Daniza. Matanya seketika berbinar.


"Iya, Sayang. Tante Keshia tahu banget kelemahan aku kayaknya."


Bernapas lega, tanpa sadar Daniza memeluk tubuh tegap laki-laki itu. Tidak percuma menyambangi Alvin di kantor sore ini. "Makasih. Tante Keshia pasti senang."


Dan sepertinya, bukan hanya Tante Keshia yang senang, Alvin pun tampak begitu bahagia saat ini. Tidak lama lagi ia akan memiliki Daniza seutuhnya.


Nggak apa-apa deh, maafin Tante Keshia. Yang penting dipeluk sama kamu.


"Alvin, Daniza!" Suara memekik yang berasal dari pintu membuat keduanya terlonjak.


Tanpa sadar Alvin mendorong Daniza hingga sedikit menjauh darinya.


***

__ADS_1


__ADS_2