Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Tersedak!


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 10 malam ketika Alvin tiba di rumah. Jika Alvin terlihat lemas tak bertenaga, maka berbeda dengan Eric yang tampak berseri-seri. Betapa tidak, ia baru saja resmi menjalin hubungan baru dengan wanita pujaannya.  


"Makasih ya, Mpin. Kamu memang saudara budiman seantero galaksi Bima Sakti," puji Eric sambil memeluk laki-laki di sampingnya. 


"Jauh-jauh sana! Jijik tahu dipeluk sama kamu." Namun, makian itu tak begitu diindahkan oleh Eric. Terlihat dari senyum cerah di bibirnya. 


"Dih, sensian!"


"Awas kalau Daniz marah!" ancam Alvin pada akhirnya.


"Nanti aku yang jelaskan. Sono temui istri tercintamu!"  


Alvin mencibir sebelum akhirnya memilih turun dari mobil dengan membanting pintu. Eric sempat meringis sesaat, lalu kemudian segera melaju meninggalkan rumah. 


Sepanjang jalan menuju pulang ia tak henti-hentinya menebar senyum. Bahkan lampu lalu lintas  berwarna merah yang biasanya menyebalkan malam ini terlihat sangat indah di mata Eric. 


Ah, jatuh cinta memang indah. 


Di sisi lain, Alvin baru memasuki rumah setelah seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. sedikit rasa khawatir bersarang di hati jika Daniza merajuk karena dirinya pulang malam. 


"Bisa dibikin dendeng sama Daniz ini," gerutunya sambil melangkah. 


Melewati ruang keluarga, Alvin tersentak melihat Daniza sedang terbaring di sofa dengan televisi menyala. Mungkin ia menunggu kedatangan suaminya hingga ketiduran. Alvin pun mendekat dan berjongkok di sisi sofa. Kemudian membenamkan ciuman di pipi kanan. 


"Kamu dari mana saja sih, Vin?" Suara Mama Elvira menyapa. Alvin menoleh sekilas dan melihat mama baru turun melewati tangga. "Kasihan Daniz tunggu kamu dari tadi sampai ketiduran di sofa." 


"Maaf, Mah. Aku ada urusan sama Eric." 


"Urusan apa?" 


"Biasa, urusan gorong-gorong," jawab Alvin tanpa sadar. "Emm ... maksudnya, itu mah ... Eric mau beli tanah kosong di belakang sekolah." 


"Buat apa beli tanah kosong?" Sudut mata Mama Elvira seketika memicing curiga.


Sambil meraba punggung leher, Alvin mencoba mengasah otak demi mencari jawaban yang cukup masuk akal. Sebab mamanya itu seperti memiliki bakat mata bathin.


"Buat mahar untuk calon istrinya, Mah." Akhirnya jawaban itu yang terlontar.


"Memang Eric sudah punya pacar?" 


"Baru tadi punya." 

__ADS_1


"Baru sehari pacaran sudah menuntut mahar?" Tatapan Mama Elvira semakin menuntut. "Terus kenapa maharnya harus tanah kosong segala?" 


"Em ... katanya tanah itu ada sejarahnya buat si Eric." Cukup sudah. Anak satu ini memang pembohong yang buruk.


Meskipun jawaban Alvin terdengar aneh, tetapi Mama Elvira tak terlalu ambil pusing. Ia akan bertanya kepada Eric nanti.


"Huft punya anak dua biji sama anehnya. Alvin Eric sama semua," gerutu sang mama sambil berjalan menuju dapur.


Sementara Alvin kembali menatap Daniza yang masih terlelap. Ia mengguncang bahu pelan. "Sayang ...." bisiknya lembut. Tetapi, Daniza tidak bereaksi. 


Alvin pun memilih menggendongnya ke kamar. Baru akan membaringkan di tempat tidur, Daniza sudah membuka mata. Ia sempat terlonjak karena merasakan tubuhnya seperti melayang di udara. 


"Mas? Kamu sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak. 


"Iya. Maaf ya, aku telat pulang. Habis urus sesuatu sama Eric." Alvin memakaikan selimut. 


"Habis urus apa?"


"Ngurus paspor sama visa buat perjalanan kita minggu depan," jawabnya setengah berbohong. Tadi, ia memang sempat membahas perihal keberangkatan bulan madu mereka. 


"Oh ...." Daniza tidak banyak bertanya lagi. "Sudah makan?" 


"Belum. Aku tunggu kamu pulang. Tadinya mau makan bareng." 


Hati Alvin mendadak dihinggapi rasa bersalah. Ia bahkan tidak sempat memberi kabar Daniza akan pulang terlambat. "Maaf, Sayang. Aku janji nggak ulangi lagi. Aku temani kamu makan, ya. Apa mau makan di luar? Aku antar," tawarnya kemudian. 


"Aku mau makan di rumah saja. Tadi habis belajar masak sama mama." 


Semakin besar saja rasa bersalah di hati Alvin. Daniza pasti menunggunya makan bersama untuk menunjukkan hasil masakan pertamanya sebagai istri. 


"Aku juga mau makan deh. Kita makan bareng, yuk!" 


Dahi mulus Daniza berkerut tipis. "Katanya sudah makan." 


"Iya, sih. Tapi aku tidak boleh melewatkan masakan istriku. Pasti rasanya enak." Kalimat rayuan pun terlontar dari mulut demi menyenangkan hati sang istri. 


Senyum pun mengembang sempurna di bibir Daniza. Ia langsung bangkit. "Kalau begitu aku siapkan dulu, ya." 


"Iya, Sayang." 


"Bisa meledak ini perut kalau makan lagi," tambahnya dalam hati. 

__ADS_1


"Tapi nggak apa-apa deh demi istri." 


*


*


*


Pagi harinya 


Sarapan bersama berlangsung hangat di ruang makan. Seperti biasa, meskipun tidak tinggal serumah, tetapi Eric tidak pernah melewatkan waktu sarapan bersama Alvin dan Mama Elvira. 


Tatapan penuh selidik Mama Elvira mengarah kepada Alvin dan Eric secara bergantian. Pagi ini keduanya tampak berseri-seri.


Terlebih Alvin yang terlihat seperti makhluk paling bahagia di Bumi. Karena Daniza menjalankan tugasnya sebagai istri dengan sempurna. Ia melayani suaminya di meja makan.


"Oh ya, Ric. Kok kamu tidak bilang kalau punya pacar baru? Bawa ke sini pacar kamu biar kita kenal," ucap Mama Elvira di sela-sela sarapan. 


Wajah Eric tiba-tiba merona. Ia menatap Alvin seperti sedang protes. Padahal sebenarnya Eric masih malu untuk memberitahu perihal hubungannya dengan Mila. "Kalau itu nanti saja, Tante." 


"Jangan kelamaan ditunda. Kamu harus cepat nyusul menikah." 


"Iya, Tante." 


"Memang siapa sih pacar baru kamu?" 


Baru saja mulut bocor Alvin terbuka untuk menjawab, Eric sudah menginjak kakinya dengan menekan sekuat tenaga. Membuat laki-laki itu meringis. 


"Nanti aku kenalin orangnya kalau sudah siap, Tante." 


Mama Elvira mengangguk paham. "Terus bagaimana dengan tanah kosong yang kata Alvin mau kamu dijadikan mahar untuk calon istri kamu? Kemarin seharian kalian mengurus itu, kan?" 


 Mendengar ucapan Mama Elvira, Daniza menatap suaminya penuh tanya. "Bukannya semalam Mas Alvin bilang habis urus paspor sama Kak Eric, ya?"


Raut wajah Mama Elvira sudah menunjukkan status siaga. Ia mulai menduga kedua putranya itu baru saja bersekutu.


"Alvin, Eric, jadi sebenarnya kemarin kalian dari mana seharian? Mama curiga kalian habis melakukan tindakan kriminal." 


Mendadak Alvin dan Eric tersedak makanan yang baru akan ditelan.


...****...

__ADS_1


__ADS_2