
Waktu berjalan lebih dari setengah jam.
Alvin terus memeluk Daniza seerat mungkin. Napas lelaki itu naik turun tidak karuan. Ia masih berusaha menetralkan pikiran pasca menyelamatkan Daniza dari aksi bunuh diri tadi.
"Daniza … apa kamu bisa merasakan jantungku berdetak seperti mau copot? Tadi aku sangat khawatir sekali. Aku takut kamu menusukkan pisau itu ke tubuhmu, aku takut kita tidak bisa bertemu lagi karena kebodohan yang kamu lakukan," kata Alvin di sela-sela tangis Daniza. Lelaki itu masih enggan melepas pelukan seolah ingin melindungi Daniza dari marabahaya.
"Kenapa Kak Alvin melakukan itu? Harusnya Kak Alvin tidak datang dan mengacaukan semuanya!" Daniza mendongak seraya terisak-isak. Sekarang ia tak bisa berbuat apa-apa karena Alvin memborgol kedua tangannya. Ia berdiri dengan lutut gemetar.
Tadi Daniza terus mengamuk seperti orang kesetanan. Jadi Alvin terpaksa memborgol tangan Daniza agar wanita itu berhenti mengamuk.
"Bunuh diri itu tidak baik Daniza. Kamu masih muda. Masa depanmu masih panjang!"
"Masa depan?" Kontan Daniza tersenyum getir. "Apa Kak Alvin tidak melihat seburuk apa hidupku? Orang bernasib buruk sepertiku tidak pantas membicarakan masa depan, Kak! Saat kenyataan hidup tidak lagi selaras dengan tujuan, mati adalah jalan terbaik untuk aku jalani!" tegas wanita itu.
Alvin menyugar rambutnya ke belakang. Ia benar-benar sudah kehabisan akal. Menjelaskan hal logis pada seseorang yang tengah mengalami depresi memang sebuah tantangan berat. Berapa kali pun kita menjabarkan, mereka tetap merasa kesulitan memahami pentingnya bangkit.
"Begini Daniza … dalam sebuah kehidupan memang tidak semua orang bisa mendapatkan nasib yang baik. Tapi kehidupan ini seperti roda yang berputar, kadang kita di atas, kadang juga terjun bebas dari atas ke bawah. Ujung-ujungnya semuanya tetap kembali pada kita, bagaimana caranya kita menyikapi dan berjuang memutar roda itu kembali," jelas Alvin.
Daniza memicingkan mata yang masih basah. "Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik membicarakan roda kehidupan. Bagiku mati adalah jalan terbaik!" tegas Daniza lagi. Hal itu membuat Alvin geram. Ia mencengkeram kedua bahu Daniza lalu menatap wanita itu lekat-lekat.
"Tertarik atau tidak itulah kenyataan yang harus kamu terima! Mati bukan jalan satu-satunya! Jangan menyerah dengan keadaan! Kamu harus yakin masih banyak perjuangan yang bisa kamu lakukan. Jika kamu berhenti di titik ini, semua orang yang menindasmu akan tertawa! Memangnya kamu rela melihat para orang jahat itu bahagia di atas penderitaan dan kematianmu? Pikir Daniza … pikir!" tegas Alvin sengaja.
Daniza yang tadinya hampir berhenti menangis kembali terisak. Tak ada yang bisa wanita itu lakukan kecuali menangisi nasibnya yang buruk.
"Kak Alvin bisa bicara begitu karena tidak mengalami! Kakaknya punya banyak orang yang bisa mendukung dari belakang. Sedangkan aku … aku tak punya siapa-siapa. Satu-satunya bayi yang kupikir akan menjadi teman malah pergi mendahului. Lalu apa gunanya aku hidup … apa gunanya aku berjuang kalau aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini?" isak Daniza. Alvin kembali memeluk wanita itu. Sekarang ia baru paham di mana letak kerapuhan Daniza.
Menjadi yatim piatu. Dibuang suami. Ditipu hingga jatuh miskin. Kehilangan anak. Semua itu pasti tidak mudah untuk dijalani.
"Kalau Kak Alvin jadi aku, mungkin akan berpikiran hal yang sama," lirih Daniza.
Alvin mengangguk.
__ADS_1
"Mungkin iya, tapi pemikiran kamu salah! Kamu masih punya aku … aku berjanji akan terus berada di belakangmu sampai kebahagian datang menjemputmu. Tidak …. tidak, aku berjanji akan terus berusaha menghadirkan kebahagian untukmu seumur hidupku."
Tekad Alvin yang terdengar lantang membuat Daniza berdecak. "Janji manusia itu tidak bisa dipercaya. Mas Revan saja pernah berjanji seperti itu. Kenyataannya dia tidak lebih dari penjahat! Lalu kenapa Kak Alvin harus peduli?"
"Karena aku mencintai kamu!" Suara lantang Alvin menggema di ruangan itu.
Selama beberapa saat Daniza membeku. Ia kehilangan kata-kata. Ucapan Alvin barusan seperti Sambaran petir baginya. Bagaimana mungkin Alvin yang kaya raya dengan sejuta pesona itu mencintai dirinya.
Daniza hanyalah wanita culun yang tidak menarik. Setidaknya, seperti itu Daniza menilai dirinya sendiri.
"Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!"
"Siapa yang bercanda? Kamu pikir kenapa aku selalu mengikutimu? Kenapa aku melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatianmu? Kenapa aku mengurungmu di gudang? Apa pernah kamu pikirkan?" tegas Alvin. Sorot matanya terlihat nyata. Nada bicaranya juga terkesan seperti orang serius. Daniza langsung dibuat terpaku. Reaksinya hanya diam sembari menatap wajah Alvin yang menurutnya semakin bergerak lebih dekat.
"Karena Kak Alvin menjadikanku objek pembullyan. Kalian pikir menyenangkan menyiksa anak paling kampungan di sekolah."
Alvin benar-benar ingin mencuci otak polos Daniza saat itu juga. Bagaimana mungkin hanya itu yang ia pikirkan?
Daniza menelan ludah dengan susah payah. Alvin terpaku melihat wajah Daniza yang tadinya sedih berubah merona. Entah apa yang wanita itu pikirkan, yang jelas Alvin bisa membaca kalau saat ini Daniza sedang dilingkupi perasaan canggung.
Tersenyum hangat, Alvin menggenggam tangan Daniza lembut. Ia juga mengelus jari-jemari Daniza yang masih diborgol di bawah sana.
"Aku tahu momen ini sangat tidak tepat untuk keadaanmu! Tapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa masih ada orang lain yang peduli dan mencintaimu dengan tulus!" tandas Alvin.
Daniza membuka mulut, hendak berbicara, tapi Alvin menempelkan telunjuknya pada bibir wanita itu secepat kilat.
"Tidak usah menolakku sekarang. Aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan."
Daniza memilih diam.
"Sekarang ada hal lebih penting yang harus kita bahas. Tentang janin dalam kandunganmu," kata Alvin.
__ADS_1
"Kenapa dengannya?" Dalam sepersekian detik ekspresi Daniza berubah serius.
"Aku curiga pendarahan yang terjadi sama kamu bukan murni keguguran. Kemungkinan besar ada campur tangan orang lain."
"Jadi maksud Kak Alvin ada orang yang dengan sengaja berbuat jahat?"
"Ada beberapa orang yang aku curigai. Tapi semuanya masih dalam spekulasi. Aku harus bekerja keras agar bisa mengungkap kasus ini," kata Alvin sengaja dilebih-lebihkan.
Daniza menutup mulutnya dengan kedua tangan yang tentunya masih terborgol. Tak menyangka ada orang tega melakukan hal sekeji itu terhadap janin tidak berdosa.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Ia terisak.
"Kalau kamu mau berjanji untuk tidak mengulangi kebodohan tadi, aku akan membantumu mengusut kasus ini sampai tuntas. Kupastikan pelakunya akan tertangkap dan menerima hukuman. Tapi aku tidak bisa melakukannya tanpa kamu. Kamu mengerti sekarang?"
Daniza masih bingung. Belum bisa menyetujui tawaran Alvin karena takut ada udang di balik batu.
"Kamu tenang saja. Meskipun aku sudah menyatakan perasaanku ... aku tidak akan meminta imbalan apa pun."
"Nanti saja imbalannya, begitu aku mendapatkan hatimu!" tambah Alvin dalam hati.
"Aku ingin membantumu menghukum mereka. Berhubung aku sudah terlanjur menyatakan perasaan, kamu boleh memanfaatkanku untuk balas dendam terhadap orang-orang jahat itu, aku tidak keberatan!"
Alvin kemudian mengajak Daniza duduk di tepi ranjang. Karena terus membahas hal-hal serius, ia sampai lupa mengajak Daniza duduk.
"Kenapa Kak Alvin mau melakukan itu?" tanya Daniza. Ia mendongak, menatap Alvin.
Alvin duduk lalu menarik napas panjang. Butuh keberanian baginya untuk mengungkapkan perasaan yang dipendamnya selama bertahun-tahun.
"Karena kamu sangat berharga bagiku."
*****
__ADS_1