
Alvin tidak tahan lagi menahan cemburu yang membelenggu jiwanya. Menyorot tajam dua makhluk yang berada dalam posisi terlalu dekat dalam pandangannya. Intuisinya menuntut untuk segera melangkah cepat ke arah Daniza sambil mengucapkan ribuan mantra kutukan.
Interaksi antara Daniza dan Revan benar-benar menguji iman, imun dan Imron. Entah Imron adalah makhluk dari planet mana, hanya netizen yang dapat menebak. Hehehe
"Ehem!" Dehaman Alvin menghentikan pembicaraan Daniza dan Revan. Keduanya lantas menoleh ke arah Alvin secara bersamaan.
"Mas?" Daniza sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya secara tiba-tiba.
"Ngobrol apa? Kayaknya seru banget?" Alvin melingkarkan tangan di pinggang sang istri. Sikapnya yang terbilang sangat posesif itu kadang membuat Daniza merinding.
Melihat kecemburuan yang tergambar jelas di wajah Alvin, Revan tak ingin ambil pusing. Toh, ia tidak memiliki maksud jahat, melainkan hanya ingin meminta maaf secara langsung kepada Daniza atas kesalahan yang dilakukannya di masa lalu.
"Mas Revan cuma mau menyapa aku, Mas. Sekalian mengucapkan selamat untuk kehamilan aku."
"Cih, sudah jadi mantan masih saja panggil mas," gerutu Alvin dalam hati. Entah sadar atau tidak, jemarinya sudah membentuk capitan kepiting, dan dalam hitungan detik sudah berhasil mencapit pinggang Daniza dengan kekuatan penuh.
"Awh sakit!" ringis Daniza, sambil menggerakkan tangannya ke pinggang.
"Apanya yang sakit?" tanya Alvin tanpa rasa berdosa.
Paham dengan situasi di hadapannya, Revan hanya menahan senyum. Kemudian pura-pura melirik arah jam pada arloji di pergelangan tangannya. "Ngomong-ngomong aku masih ada urusan penting lain. Alvin, Daniza, aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian dan selamat juga untuk kehamilan Daniza. Semoga persalinannya lancar."
Tanpa menatap Revan, Daniza mengangguk diiringi seulas senyum tipis. Sementara Alvin masih mempertahankan wajah datarnya.
"Terima kasih," jawab mereka bersamaan.
Setelah kepergian Revan, Alvin membawa Daniza menuju ruang kerjanya yang berada di lantai teratas gedung super megah itu. Selama di lift, Daniza memilih diam sebab wajah suaminya sudah menunjukkan status 'awas'. Jika sudah seperti ini, ia harus menyiapkan jurus rayuan andalan ala istri dalam negeri novel.
"Sayang," panggil Daniza lembut begitu memasuki ruangan. "Katanya tadi mau makan di luar."
__ADS_1
"Tidak jadi!" jawaban ketus itu menciptakan kerutan tipis pada sepasang alis Daniza.
"Loh kenapa?"
"Pakai tanya lagi!" Alvin menggerutu pelan, tetapi masih dapat terdengar dengan jelas. Ia lantas meninggalkan Daniza dan duduk di kursi kebesarannya. Bibirnya mengatup rapat bak ikan salmon, pipinya mengembang layaknya bunglon.
Tingkahnya saat sedang cemburu itu rupanya sangat menggemaskan di mata Daniza.
Perlahan wanita itu mendekat dan memilih duduk di pangkuan suaminya. Membuat kursi yang konon katanya milik para direktur itu harus mundur ke belakang karena himpitan perut Daniza yang membesar.
Daniza melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami, kemudian menghujani wajah merajuk itu dengan ciuman sayang. Tetapi tidak semudah itu, Markonah! Alvin Alexander adalah tipe laki-laki paling cemburuan di galaksi Bima Sakti.
"Apa sih?" Suara Alvin yang terdengar ketus, sangat berbeda dengan tangannya yang justru membelai perut Daniza dengan penuh kasih. Dari sana, ia dapat merasakan gerakan aktif kedua buah hatinya.
"Mama kalian selingkuh, Dek! Ayo, kita demo!" Alvin mengirimkan pesan melalui telepati kepada dua anaknya dan berharap mereka dapat mendengar jeritan hati sang papa.
"Marah kenapa?"
"Itu dari tadi mukanya manyun." Daniza masih mempertahankan sikap lembut, sementara Alvin semakin merajuk.
"Udah gini dari orok."
Bukannya kesal dengan tingkah suaminya yang terkesan seperti anak kecil, Daniza malah menahan senyum. Ia pun sudah menebak dalam hati bahwa Alvin tengah dilahap api cemburu karena tadi mengobrol dengan Revan.
"Maaf ... yang tadi itu Mas Revan cuma mau minta maaf sekalian memberi kita ucapan selamat. Tidak ada maksud lain."
Mendengar kata 'mas' yang disematkan Daniza untuk sang mantan suami membuat darah Alvin seperti mendidih. Ia lantas menarik napas panjang berulang-ulang agar tak sampai melampiaskan kecemburuan terhadap Daniza. Sebab, Alvin sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan menjaga Daniza seumur hidupnya.
"Ya sudah, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali kamu harus jaga jarak dari Revan atau dari 'R-R' yang lainnya karena aku tidak suka!"
__ADS_1
"Berarti inisial lain boleh dong?"
Kelopak mata Alvin membuat seketika. Ia pasti sudah menggigit Daniza jika tidak ingat wanita itu sedang mengandung anak-anaknya. "Kamu sengaja mau merubah asam amino dalam darahku menjadi asam sulfat, ya?"
Daniza hampir meledakkan tawa. Melihat kecemburuan suaminya yang tak kunjung mereda, ia memilih jalan lain. Jika mulut tak lagi mampu untuk mengatasi masalah, maka ia akan menggunakan tubuhnya untuk mengatasi masalah tanpa muslihat.
"Sini, aku naikkan kadar libidomu saja," bisiknya dengan menggoda, sambil membenamkan bibirnya di lekukan leher Alvin.
"Nah, ini baru nikmat!"
Kali ini Alvin luluh dan menerima itikad baik Daniza yang dinilainya sangat diplomatis dan penuh taktik jitu.
Alvin agak menyesal mengapa tak membuat kamar pribadi di ruangannya seperti CEO-CEO lainnya di negeri Noveltoon.
Tak ada kasur, sofa pun jadi. Alvin menuntun Daniza untuk duduk di sofa. Sekarang ia menatap Daniza layaknya singa yang buas.
"Mas, jangan di sini, kalau Kak Eric datang bagaimana?" Daniza refleks mendorong Alvin yang hendak mengikis jarak.
"Jangan pikirkan Eric. Dia lagi mau main dokter-dokteran sama Mila."
Baru saja Alvin menjelajahi lekukan leher Daniza, suara ketukan pintu sudah terdengar.
"Vin, mau makan siang bareng nggak?" Suara Eric terdengar dari luar, membuat Alvin menatap pintu dengan geram.
"Tuh, kan. Kak Eric datang."
"Apes. Sebenarnya Eric itu manusia apa jelangkung sih?"
...*** ...
__ADS_1