
Alvin menoleh dengan ragu-ragu ke arah sang mama. Mama Elvira tampak berdiri di depan pintu ruang pribadinya dengan tangan terlipat di depan dada.
Alvin seketika menerbitkan senyum getir. Apa lagi tatapan mama saat ini layaknya seekor piranha yang siap melahap mangsanya.
"Eh, Mamaku yang paling cantik sejagat raya." Sejenak Alvin meninggalkan Daniza dan berjalan menghampiri sang mama. "Mama lagi senang, ya. Mukanya ceria banget."
"Mama memang lagi ceria. Terutama karena kamu mengunjungi mama lagi di butik setelah sekian abad."
Alvin mencibir. Mama selalu saja memberinya sindiran pedas ala cabe setan level sepuluh. "Baru juga beberapa hari tidak ke sini sudah dibilang satu abad."
Mama Elvira memutar bola matanya. Kini pandangannya tertuju kepada Daniza yang berdiri di dekat pintu masuk bersama Karina. Sebenarnya, Mama Elvira sudah tahu maksud kedatangan Alvin ke butiknya. Karena tidak biasanya Alvin datang jika tidak ada maunya.
"Jadi kamu mau apa ke sini?" tanya Mama Elvira kepada putra semata wayangnya itu.
Alvin nyengir memamerkan senyum terindahnya. "Mau cari pakaian buat Daniz, Mah. Mama juga akan datang malam ini, kan?"
"Iya. Mama akan datang demi memastikan bahwa kamu tidak akan membuat Mama malu!"
Namun, Alvin hanya merespon dengan senyuman. Mamanya itu memang selalu dapat membungkamnya dengan telak.
"Karina, tolong kamu tunjukkan beberapa koleksi terbaru kita kepada temannya Alvin itu," perintah Mama Elvira.
Karina mengangguk patuh. "Baik, Bu." Kemudian melirik wanita di sebelahnya. "Mari, Mbak, saya antar."
Karina menunjuk ke sebuah arah di mana terdapat koleksi terbaik di butik itu. Daniza jadi tidak enak sendiri dengan perlakuan istimewa yang didapatkannya. Apa lagi, Karina melayaninya dengan sangat baik dan penuh hormat. Daniza yakin Karina tidak mengenali dirinya karena penampilan yang sangat berbeda.
"Karina ... Maaf ya, aku jadi sangat merepotkan kamu," ucap Daniza sungkan.
Karina bingung sendiri mendengar ucapan wanita itu. Tunggu, ia tidak asing dengan suaranya. Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Karina. Tapi siapa? Ia sedang berusaha mengingat.
"Kamu ... Daniza?" Karina memandangi Daniza dari ujung kaki ke ujung rambut. Jika tidak mengenali sendiri suara Daniza, ia pasti tidak akan tahu jika ternyata wanita yang ia layani ternyata adalah bekas rekan kerjanya.
"Iya, Karina. Aku Daniza."
Karina seperti kehilangan kata-kata, bahkan sepasang matanya seperti tidak mampu untuk berkedip.
"Ya ampun, aku tidak percaya. Penampilanmu sangat berubah." Karina menatap ke kanan dan kiri demi memastikan tidak ada yang mendengar ataupun melihat mereka. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ke sini dengan Tuan Alvin?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa cerita banyak. Maaf, ya," ucap Daniza. Baginya permasalahan sekarang adalah masalah pribadi. Dan ia tidak ingin membaginya dengan orang lain, meskipun orang terdekatnya.
Pengalaman Daniza atas pengkhianatan Revan dan Alina membuat Daniza tidak percaya lagi dengan orang lain. Jika orang terdekatnya saja mampu mengkhianati dirinya, apa lagi orang yang baru kenal?
"Baiklah, tidak apa-apa." Karina mengulas senyum tipis. "Kalau begitu ayo, aku tunjukkan koleksi terbaru di butik ini."
*
*
*
Sementara Daniza dilayani oleh Karina, Mama Elvira menarik Alvin ke dalam ruangannya. Sepertinya Mama Elvira perlu bicara empat mata dengan putranya yang memiliki keahlian khusus itu. Yaitu keahlian membuat imunnya naik turun itu.
Alvin memilih duduk di sofa empuk. Membuat Mama mengambil posisi di sampingnya.
"Kamu yakin akan membawa Daniza ke ulang tahun perusahaan?" tanya sang mama dengan serius.
"Serius lah, Mah!" jawab Alvin tanpa mengindahkan ekspresi terkejut sang mama.
"Dan kamu akan mengenalkan Daniza ke rekan-rekan bisnis kamu?" Sudut mata Mama berkerut setelah menyelesaikan pertanyaan itu.
"Sebagai apa?" Sekarang raut wajah mama sudah penuh dengan kewaspadaan.
"Sebagai teman lah, Mah. Memang mau dikenalin sebagai apa?" Jawaban yang diberikan Alvin membuat mama bernapas lega. Tumben putranya itu menjawab pertanyaan dengan benar.
"Awas saja kalau kamu kenalkan Daniza sebagai calon istri!" ancam sang mama.
"Memangnya kenapa kalau dikenalin sebagai calon istri?" Pertanyaan bodoh itu membuat Mama Elvira benar-benar ingin menenggelamkan Alvin ke Samudra Pasifik.
"Alvin! Dia itu masih istri orang. Kalau kamu mau ngaku-ngaku tunggu sampai Daniza resmi cerai dari suaminya!"
"Iya, Mah! Ini lagi mau diurus."
Alvin hanya mendesahkan napas panjang. Sudah beberapa kali Mama memberinya peringatan tentang status Daniza.
*
__ADS_1
*
*
Daniza dan Alvin meninggalkan butik Mama Elvira setelah mendapatkan pakaian yang cocok untuk dipakai Daniza malam ini.
Selanjutnya, keduanya menuju salon. Sepertinya, Alvin benar-benar ingin Daniza tampil sempurna malam ini.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mobil yang dikemudikan Alvin tiba di sebuah salon ternama.
Begitu masuk, Daniza langsung disambut oleh karyawati salon seperti saat kedatangan Daniza pertama kali ke salon tersebut. Sementara Alvin langsung tancap gas setelah mengantar Daniza. Ia harus memastikan sendiri acara malam ini berlangsung sesuai dengan rencananya.
Sementara itu, Lisa, sang karyawati salon membawa Daniza ke ruang rias yang berada di lantai dua.
Lisa sesekali memandangi wanita muda yang dibawa Alvin ke salon itu. Dalam hati ia bertanya-tanya sekaligus kagum sambil menebak dalam hati ada hubungan apa wanita ini dengan Alvin Alexander. Karena tidak mudah mendekati lelaki yang setahunya bukan orang biasa.
"Huh, beruntung sekali dia bisa dekat dengan Tuan Alvin," gerutu gadis itu dalam hati.
"Oh ya, Mbak Daniz ... kalau boleh tahu, Mbak Daniz ini siapanya Tuan Alvin?" Lisa memberanikan diri bertanya. Lagi pula, sekarang Alvin sedang tidak ada di salon itu.
Daniza tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Lisa. Jika ditanya ada hubungan apa, dirinya pun tidak tahu. Dibilang teman bukan, keluarga pun bukan.
"Bukan siapa-siapa sebenarnya. Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa. Mbak Daniz beruntung loh, bisa dekat dengan Tuan Alvin. Tuan Alvin itu bukan orang sembarangan."
Daniza semakin bingung rasanya. Sebab menurut informasi dari Alvin, laki-laki itu hanyalah karyawan biasa di tempatnya bekerja.
"Bukan orang sembarangan bagaimana maksudnya?" tanya Daniza lagi.
"Loh, Mbak Daniza benar-benar tidak tahu?" Pandangan keduanya bertemu dalam pantulan cermin.
Dalam keadaan bingung, Daniza menggeleng pelan.
"Tuan Alvin itu kan pewaris tunggal Alamjaya Grup, Mbak. Masa Mbak Daniza tidak tahu."
Daniza pasti sudah terbahak jika tidak dalam posisi sedang dirias oleh Lisa. Bagaimana mungkin Alvin adalah pewaris Alamjaya Grup, sementara Daniza tahu betul Alvin hanyalah karyawan biasa di perusahaan itu.
__ADS_1
"Ternyata isengnya Kak Alvin belum berubah sejak SMA, ya. Sekarang dia memanfaatkan kebaikan bos-nya dan malah mengaku sebagai pemilik Alamjaya Grup," ucap Daniza dalam hati.
****