Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Dikira Maling!


__ADS_3

Daniza baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Wanita itu tampak sangat manis menyerupai gadis remaja dengan piyama korea berenda. Baru akan naik ke tempat tidur, indera pendengarannya yang tajam menangkap suara seperti benda terjatuh yang berasal dari arah depan. 


"Siapa itu?" gumam Daniza sambil menebak dalam hati.


Tidak mungkin jika itu Santi, kan? Karena dua jam lalu Santi meminta izin untuk pulang ke rumah menjenguk orang tuanya yang sakit. Sementara Alvin juga tidak mungkin datang. Kemarin laki-laki itu berkata akan sibuk seharian penuh. 


"Maling! Itu pasti maling!" 


Kelopak mata Daniza melebar. Jantungnya berdebar. Bagaimana jika itu benar-benar seorang pencuri? Sedangkan ia sedang sendirian di apartemen. 


Daniza segera meraih gagang sapu di belakang pintu dan memeluk di dadanya sebagai senjata untuk melindungi diri.


Ia memberanikan diri untuk memutar gagang pintu pelan-pelan, lalu melongokkan kepala keluar. Suasana seluruh ruangan tampak temaram, karena hanya ada satu lampu yang menyala. 


"Aku harus bilang apa sama Kak Alvin kalau apartemennya kecurian? Barang-barang di apartemen ini pasti mahal-mahal." 


Perlahan Daniza melangkahkan kaki keluar. Mengendap-endap dengan gagang sapu di pelukannya sambil memasang sikap waspada jika saja pencuri yang masuk menyerangnya. 


Daniza melotot kala mendapati sosok tubuh tinggi menjulang berdiri di dapur, seperti sedang mencari sesuatu. 


"Hah, benar-benar maling!" pikir Daniza.


Ia mendekat dengan mengendap-endap. Setidaknya Daniza harus menyelamatkan barang-barang berharga milik Alvin di apartemen, meskipun  ia harus terluka saat melawan pencuri itu. Saat telah berada tepat di belakang punggung, Daniza mengangkat gagang sapu tinggi-tinggi. 


Bugh! Bugh! Bugh! 


Serangan bertubi-tubi dihantamkan Daniza ke tubuh tinggi itu. Ketakutan membuatnya tak memiliki waktu untuk berpikir. Daniza masih dapat mendengar suara berat lelaki itu mengaduh akibat rasa yang diterimanya dari hantaman gagang sapu milik Daniza. 


"Mau maling ya, kamu! Rasakan ini!" Sambil terus memukuli tanpa ampun. 


"Stop, Daniz! Kamu sengaja mau bunuh aku, ya?" 


Terdiam sejenak, Daniza merasa tak asing dengan suara itu. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali demi menajamkan penglihatan. Secepat kilat wanita itu menuju sudut ruangan demi menekan sakelar, hingga pencahayaan menjadi terang. 


"Kak Alvin?"


Spontan sepasang mata Daniza membola ketika melihat Alvin tengah mengusap-usap punggung dan kening yang menjadi korban keganasan gagang sapu. 


"Aduh Daniz, kamu sengaja mau menyiksa aku, ya?" keluh Alvin.


Daniza semakin panik saat melihat keningnya yang memar dan mengeluarkan setitik cairan merah. "Keningnya berdarah, Kak.” Daniza mendekatkan wajah dan meniup-niup kening lelaki itu.


Sepasang mata Alvin terpejam. Aroma napas segar Daniza seperti tiupan dari surga baginya. Sepertinya tidak apa-apa sedikit menciptakan drama. Ia akan memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya untuk mendapat sedikit perhatian.


"Aahh sakit sekali, Daniza. Aku langsung pusing habis dipukul sapu."


Semakin besar saja rasa bersalah Daniza. Sudah menghabiskan uang orang, sekarang malah memukulinya bertubi-tubi. "Aduh ... bagaimana ini? Kita ke depan saja ya, Kak. Biar akan obati."

__ADS_1


Alvin menyembunyikan seringai di sudut bibirnya. Berjalan dengan dituntun Daniza menuju sofa ruang televisi.


"Duduk dulu!" Ia menekan bahu Alvin agar segera duduk di sofa. Lalu secepat kilat kembali ke dapur untuk mencari kotak obat.


Pandangan Alvin mengikuti ke mana wanita itu melangkah. Penampilan Daniza yang tampak begitu manis dengan piyama berenda membuatnya mengelus dada.


Sabar, Vin! Daniza on the way ketok palu!


Tak lama berselang, Daniza kembali dari dapur dengan tergesa-gesa. Kepanikan wanita itu justru tampak menggemaskan di mata Alvin.


Daniza duduk di ujung sofa dan meletakkan kotak obat ke meje. "Ayo baring sini, Kak!"


Alvin kegirangan. Bunga-bunga terasa bermekaran di hatinya. Mungkin Dewi Fortuna memang sedang berpihak kepadanya. Kapan lagi dapat kesempatan emas berbaring di pangkuan Daniza?


"Buat apa?" tanyanya sok polos.


"Aku obati lukanya."


"Oh ... Ya sudah kalau kamu memaksa." Alvin tampak lemas, padahal dalam hati bersorak.


Ketika membaringkan kepala, Alvin merasakan sesuatu yang aneh. Paha Daniza lebih mirip dengan bantal sofa. Ia kemudian menghembuskan napas panjang saat menyadari kepalanya memang mendarat di bantalan sofa yang baru saja diletakkan Daniza untuk menyangga kepalanya.


"Loh, kok malah dibantal sih?" Alvin menggerutu dalam hati.


Daniza pun memulai mengobati luka di kening Alvin dengan mengoleskan antiseptik.


"Ma-maaf, Kak. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku pikir maling! Lagi pula, kenapa Kak Alvin ada di sini di malam-malam seperti ini?"


"Itu semua karena kamu tidak menjawab telepon dan tidak balas chat. Setiap aku hubungi Santi juga bilang kamu di kamar mandi. Aku pikir kamu diare."


Daniza seketika menundukkan pandangan. Ia refleks menggigiti kukunya. Entah harus bagaimana menjelaskan, bahwa ia tidak menjawab telepon karena takut jika Alvin menanyakan sejumlah uang yang dihabiskannya tadi.


"Itu sebenarnya ...." Ucapan Daniza menggantung.


"Sebenarnya apa?"


Daniza menarik napas dalam-dalam demi mengumpulkan keberanian untuk memberi penjelasan kepada Alvin. "Sebenarnya aku takut Kak Alvin akan marah. Tadi aku menggunakan kartu kreditnya untuk mempermalukan Alina."


"Oh ...."


"Aku akan menggantinya begitu punya uang nanti."


Alvin menyeringai. Ini dapat ia gunakan senjata untuk mengikat Daniza. "Baiklah. Aku catat ya. Hari ini kamu punya utang yang banyak."


*


*

__ADS_1


*


Sementara itu Mama Elvira tengah melangkah dengan tergesa-gesa menuju unit putranya setelah menerima laporan dari Eric. Beruntung Alvin tidak pernah mengganti password pintu apartemennya.


Begitu masuk, Mama Elvira sudah disuguhkan dengan pemandangan putranya yang tengah berbaring di sofa dengan Daniza yang sedang mengelus kepalanya.


"Benar-benar anak satu ini!"


Daniza yang menyadari kedatangannya pun hendak berdiri. Namun, Mama Elvira memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulut.


"Daniz, tangan kamu halus, deh! Coba kalau tangan ini terus dipakai ngelus aku. Bisa bahagia dunia akhirat."


Kalimat rayuan baru saja terlontar bebas dari mulut lelaki itu. Membuat Daniza menunduk malu. Tak tahan, Daniza pun segera berdiri. Dan tanpa disadari Alvin, Mama Elvira sudah menggantikan posisi Daniza.


Alvin kembali menggenggam tangan itu. Meskipun menyadari ukuran tangan sedikit berbeda dari yang tadi, namun ia tak mau ambil pusing. Yang penting sudah dielus Daniza. Alvin rela mati setelahnya.


"Kamu tahu, Daniz ... dielus sama kamu itu rasanya beda dengan dielus mama."


Mama Elvira melotot ke arah Daniza seolah memberi isyarat. Daniza yang paham segera menyahut. "Bedanya apa, Kak?"


"Banyak! Kalau dielus sama kamu bikin adem, kalau sama mama bikin merinding."


Mama Elvira menipiskan bibirnya gemas. Daniza segera menyahut setelah mendapat isyarat lagi.


"Kenapa merinding?"


"Mama punya kebiasaan buruk yang sudah permanen. Suka menjewer sama menjambak."


"Itu karena Kak Alvin bandel." Daniza menjawab lagi.


"Apa aku sebandel itu di mata kamu?"


Alvin menarik tangan itu dan meletakkan di dadanya. Kemudian kembali mengelus sampai batas lengan.


"Kok tangan kamu jadi besar kayak tangan tukang pukul?"


Alvin meraih tangan itu dan membolak balikkan. Hey, mengapa tangan Daniza jadi seperti ini? Kemana tangan halus nan mulus tadi?


Mendadak bola mata Alvin melebar saat baru tersadar setelah melihat cincin berlian pemberian papa yang melingkar di jari manis.


Mama?


Ragu-ragu Alvin mendongak demi memastikan dugaannya. Benar saja, Mama Elvira tampak sedang tersenyum ke arahnya.


"Tangannya kayak tangan tukang pukul ya, Vin?" sindir Mama Elvira.


****

__ADS_1


__ADS_2