Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Pembalut Luka Atau Pembalut Wing?


__ADS_3

Kening Alvin berkerut menatap senyum misterius mamanya. Konon katanya senyum Mama Elvira itu kadang membawa luka. 


Berpikir sejenak, Alvin tak ingin ambil pusing. Senyum membawa luka atau senyum membawa bahagia toh hari ini Alvin sedang sangat bahagia. 


Setelah kepergian Mama, laki-laki yang masih mengenakan kemeja dan celana bahan itu buru-buru menutup pintu kamar rapat-rapat. Malam ini ia tak ingin terganggu dengan urusan dunia lainnya, karena malam ini akan dilalui hanya berdua dengan Daniza saja. 


"Orang lain anggap saja manusia tak kasat mata."


Tak lama berselang pintu kamar mandi terbuka dan memunculkan Daniza yang baru keluar dengan rambut basah. Terlihat sangat segar. Rasanya Alvin sudah tidak sabar untuk melewati malam panjang mereka. 


"Sayang ...." 


Daniza terlonjak karena Alvin tiba-tiba mendekapnya, sepasang matanya terpejam saat merasakan bibir laki-laki itu bermain di pipi kanan. "Tunggu sebentar, Mas."


"Tunggu apa lagi? Sekarang kamu sudah siap, kan?" bisik Alvin. 


Rasanya bulu kuduk Daniza meremang mendengar bisikan mesra itu. Sepertinya Alvin belum menyadari apa yang akan terjadi malam ini. 


"Mas, boleh lepas dulu?" pinta Daniza, karena pelukan Alvin benar-benar membatasi ruang geraknya. 

__ADS_1


"Ya udah, sekarang aku lepas dulu. Tapi malam ini jangan harap aku lepasin kamu!" 


Bisikan bernada sensual itu kembali membuat Daniza bergidik. Ia mendorong dada suaminya agar sedikit menjauh. Kemudian menunduk dengan wajah merona.


"Tapi kayaknya aku ...." 


"Kayaknya apa? Kamu masih malu?" tebak Alvin saat melihat semburat merah di pipi Daniza. 


Alvin tertawa geli. Reaksi Daniza yang malu-malu sangat menggemaskan di matanya. Apalagi saat ini tubuh Daniza gemetar, padahal ini bukanlah pengalaman pertama baginya karena sudah pernah menikah sebelumnya. 


"Mas, kayaknya aku butuh pembalut," bisik Daniza terlihat penuh rasa bersalah. 


Namun, sepertinya permintaan Daniza belum sepenuhnya dicerna oleh Alvin. Lihatlah betapa laki-laki itu penuh semangat memeluk istrinya lagi. "Apa sih yang tidak untuk istriku ini. Jangankan pembalut luka, pembalut wing aja aku kasih buat ka—" 


"Tunggu tunggu!" Alvin melepas pelukan. "Kamu berdarah?" 


Daniza mengangguk pelan. 


"Terus yang kamu butuh pembalut apa? Pembalut luka, kan? Bukan pembalut wing?" desak Alvin penuh harap.

__ADS_1


Lagi-lagi Daniza menundukkan kepala. Tiba-tiba meraba punggung leher yang terasa merinding. "Itu aku ... aku butuh pembalut wing." 


Layaknya mendengar gemuruh petir di siang bolong, Alvin terkejut luar biasa. Malam yang ditunggu-tunggu sejak lama itu ternyata harus terhalang oleh pembalut wing. 


Ia menepuk dahi sendiri dengan raut frustrasi. "Ya ampun, jadi ini maksud senyum mama tadi?" 


"Memangnya senyum mama kenapa, Mas?" tanya Daniza, yang belum mengerti ke mana arah gerutuan suaminya.


"Tidak apa-apa," jawab Alvin lemas.


Laki-laki itu memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa. Energi yang tadi sudah sengaja dihemat demi melewati malam fantastis itu mendadak lenyap. Tergantikan dengan tubuh lemas tak bertenaga. 


"Kenapa harus sekarang, sih?" tanyanya sedikit kesal. 


"Mana aku tahu, Mas. Memangnya begituan bisa dikendalikan?" Daniza yang masih berbalut jubah mandi memilih duduk di sisi suaminya. Menarik lengannya sedikit memohon. "Beliin, Mas. Tidak jauh dari sini ada mini market, kan?"


"Iya. Sebentar, aku hubungi Eric dulu." Alvin berdecak. "Sial banget sih malam ini. Menunggu bertahun-tahun malah dapat beginian." 


Ia lalu bangkit meninggalkan kursi menuju meja tempatnya meletakkan ponsel. Tugas mulia membelikan pembalut wing akan dibebankan kepada Eric. 

__ADS_1


"Apes, malam pertama malah tetap perjaka!" gerutunya dalam hati. 


...***...


__ADS_2