
Perhatian semua orang tertuju kepada wanita culun yang baru saja masuk. Daniza tampak mengedarkan pandangan beberapa saat, lalu menunduk dengan ekspresi takut-takut. Ia berjalan pelan mencari tempat duduk di sudut ruangan yang tidak begitu ramai.
"Vin, bagaimana kalau kita kerjain Daniza?" bisik Sherly. Tanpa menunggu jawaban Alvin, wanita itu sudah lebih dulu berdiri, lalu memberi isyarat kepada tiga orang teman se-gengnya yang dulu kerap menjahili Daniza. "Ayo, kita main-main dulu dengan si culun itu!"
Sementara Alvin hanya duduk diam di tempat melihat Sherly dan teman-temannya mendekati Daniza, sambil menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia masih ingat dulu, Sherly dan geng-nya sering menjadikan Daniza sebagai objek bullyan.
"Hey, apa kabar anak culun?" sapa Sherly, sambil menyandarkan tubuhnya di meja.
"Mau apa kalian ke sini?"
"Aku hanya mau menyapamu. Kamu masih ingat aku, kan? Kalau kamu lupa, aku bisa membantu mengingat." Sherly tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Bagaimana kalau kita kurung dia di toilet seperti waktu itu? Pasti akan sangat menyenangkan," ucap salah satu teman wanita Sherly.
"Ah, ide yang bagus. Dia pasti akan sangat ketakutan."
Daniza hanya menatap wanita di hadapannya tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun. "To-tolong tinggalkan aku sendiri!"
"Kalian sedang apa di sini?" Ruben tiba-tiba datang di antara mereka. Sherly menatapnya dengan ekspresi kesal.
"Jangan ikut campur! Kami hanya menyapa Daniza sebentar!"
Ruben berdecak sinis. "Sepertinya kalian memang kurang kerjaan sampai harus terus mengganggu Daniza. Atau jangan-jangan kalian sebenarnya hanya iri dengan Daniza?"
Sherly mendengkus kesal. "Siapa juga yang iri dengan dia?" Kesal, wanita itu beranjak pergi.
Daniza mendongak untuk menatap sosok yang baru saja datang. Ia langsung membenarkan kacamata tebal yang membingkai matanya "Kak Ruben?"
"Hai Daniz, kamu datang juga? Boleh aku duduk di sini?" tawar lelaki itu. Daniza menjawab dengan anggukan kepala.
Tersenyum lebar, Ruben menarik kursi dan duduk di samping Daniza. "Kamu datang ke sini sendirian?"
"Iya." Daniza masih menunjukkan sikap malu-malu. Persis dengan dirinya di masa remaja dulu.
Sementara di sudut meja lain, Alvin terus menatap ke arah Daniza dan Ruben. Ia baru dapat mengalihkan pandangan ketika merasakan tepukan keras di bahunya.
"Kenapa? Macam lihat setan saja!" tegur Eric.
__ADS_1
"Lihat di sana!" Alvin menunjuk ke arah Daniza dengan menggerakkan mata.
Penasaran, Eric pun ikut melirik ke arah yang sama. Laki-laki itu menyeringai saat melihat Ruben dan Daniza duduk bersama. "Daniza dan Ruben? Wow! Pertemuan yang estetik sekali!"
"Apanya yang estetik?" kesal Alvin.
"Mereka pasti mau mengenang masa lalu. Mereka memang pernah dekat semasa SMA. Ruben itu pahlawannya Daniza saat kamu dorong dia sampai jatuh ke kolam renang."
Eric sengaja mengingatkan dosa-dosa Alvin di masa lalu. Terlebih sekarang alvin sedang menunjukkan gejala cemburu.
"Tapi si Ruben tahu kan, kalau Daniza sudah menikah?" Alvin masih menghujamkan tatapan tajam ke arah Ruben, dengan mulut berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra kutukan
"Tahu lah, dia juga datang ke pernikahan kamu." Eric menerbitkan evil smile. "Tapi kenapa kamu harus peduli? Kamu yang sekarang tidak suka Daniza, kan?"
Eric semakin gencar mengompori dan terkesan sengaja memancing otak kriminal Alvin di masa remaja, sementara Alvin semakin blingsatan. Entah untuk alasan apa, tubuhnya panas bagai dilahap api melihat interaksi antara Daniza dan Ruben.
Sekarang laki-laki itu sedang memikirkan cara untuk memisahkan mereka berdua. "Ric, kira-kira mengikat orang di gorong-gorong itu tindakan kriminal, bukan?"
"Kalau ketahuan polisi bisa jadi tindakan kriminal, Vin. Tapi kalau yang tahu cuma kita berdua, kayaknya nggak termasuk kriminal, deh," jawab Eric mantap. "Asal, jangan sampai Tante Elvira tahu."
"Yakin, Boss!"
Dengan tatapan yang masih sama, Alvin bangkit dan berjalan ke arah meja sudut. Eric pun mengikuti Alvin dari belakang untuk tetap menjaga agar Alvin tidak melakukan kekacauan di reuni sekolah mereka.
"Wah, pertunjukan semakin menarik. Berasa lagi nonton Teater Broadway!" gumam Eric, selaku sutradara dalam pertunjukan ini.
"Ehem!" Suara dehaman berat itu membuat Daniza terlonjak. Seketika, ia menundukkan kepala saat melihat sosok yang berdiri tepat di sisinya.
"Ka-Kak Alvin?" ucap Daniza dengan suara gemetar dan cukup panik.
"Enak ya, berduaan duduk di sini," sindir Alvin.
Daniza membenarkan posisi duduknya. Mendadak sikapnya seperti baru saja melihat hantu paling menyeramkan. Bahkan kini Alvin dapat melihat ketakutan dalam tatapan Daniza.
"Kak Ruben, aku mau pindah ke meja lain, aku takut sama Kak Alvin!" pinta Daniza setengah berbisik. Tetapi, Alvin dapat mendengar dengan baik. Ia semakin tak mengerti dengan sikap Daniza yang benar-benar mirip seperti Daniza yang dulu.
Culun, penakut dan cengeng.
__ADS_1
"Bisa tidak, jangan mengganggu Daniza lagi? Apa salah Daniza sama kamu? Kenapa kamu selalu jahat sama dia?" Ruben bangkit dari duduknya, sementara Daniza berlindung di belakang punggung Ruben.
"Kamu lupa dia istri siapa?"
Ruben terkekeh. "Yang punya istri aja lupa!" sambar Ruben.
Eric mengatupkan bibir rapat-rapat mendengar ucapan ruben. Ia pasti sudah meledakkan tawa jika tidak ingat Alvin sedang dalam keadaan marah. Sepertinya rencana malam ini akan berjalan dengan baik. Kemarin, ia memang sengaja meminta bantuan Ruben untuk memanasi Alvin di acara ini.
"Daniz, apa benar dia ini suami kamu?" tanya Ruben.
"Bu-bukan, Kak! A-ku hanya tahu dia kakak kelas yang sering jahatin aku di sekolah?"
Mulut Alvin terbuka lebar mendengar ucapan Daniza. "Sebenarnya yang amnesia di sini siapa?" tanya Alvin dalam hati.
Ia lantas menarik tangan Daniza, tetapi dihalangi oleh Ruben. "Jangan maksa, Bro! Daniza tidak mau sama kamu!"
"Siapa yang minta pendapatmu!" Kehilangan kesabaran, Alvin mendorong dada lelaki di hadapannya hingga mundur satu langkah.
Hal tak terduga pun terjadi. Kaki Daniza tersandung di antara kursi, sehingga menyebabkan tubuhnya terhuyung ke belakang. Wanita itu pun harus terjatuh dengan posisi perut mendarat lebih dulu.
"Argh!" Daniza meraung kesakitan sambil menyentuh perut.
Alvin langsung mendekat dan meraih tubuh wanita itu. Panik membuatnya tidak dapat berpikir jernih. "Daniza, mana yang sakit?"
"Perutku sakit sekali!" keluh Daniza. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat.
Suasana tegang pun semakin menjadi saat Alvin melihat cairan merah yang merembes di pakaian bagian belakang Daniza.
"Da-darah?" pekik Alvin.
"Kenapa aku merasa pernah melihat Daniza dalam keadaan seperti ini? Tapi di mana?"
Wajahnya seketika pucat. Detik itu juga kepalanya berdenyut hebat, disusul dengan bayang-bayang masa lalu yang menghantam pikirannya secara bertubi-tubi.
Perlahan sekeliling terasa gelap. Alvin tak sadarkan diri lagi.
...****...
__ADS_1