Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Memecat Secara Mendadak


__ADS_3

Kata orang, ketika sedang jatuh cinta, seseorang dapat kehilangan akal sehatnya. Inilah yang dialami Alvin Alexander. Mencintai dengan gilanya tanpa peduli apapun. Hidupnya seolah berada dalam rotasi yang berporos hanya pada dunia Daniza.


Daniza adalah satu-satunya wanita yang pernah mencuri hatinya tanpa sisa. Maka jangan berani mengusik sedikitpun, karena Alvin dapat menjadi badai yang siap menghantam apa saja tanpa ampun. 


Kantor pusat Alamjaya Grup beberapa hari ini dihebohkan dengan pemecatan beberapa karyawan. Tak hanya yang menduduki staf biasa, suami Tante Keshia yang menduduki posisi manager pun tak luput dari pemecatan. 


Eric harus geleng-geleng kepala menyaksikan ulah bosnya itu. Tetapi, ia tak dapat berbuat banyak, sebab tahu seperti apa sepak terjang sang bos. Saat dalam keadaan serius, Alvin tidak suka dibantah. Jangankan dirinya, Mama Elvira pun tak akan sanggup merubah keputusan Alvin.


"Yakin mereka semua benar-benar dipecat?" tanya Eric sekali lagi. Alvin hanya menatap sekilas, kemudian kembali terfokus dengan layar laptop. 


"Kenapa memang?" 


"Kalau dipecat tanpa alasan, artinya kamu menyalahi aturan kontrak kerja. Kamu harus bayar pesangon dalam jumlah sangat besar." Eric mencoba melunakkan hati sang bos dengan alasan yang cukup masuk akal. Setidaknya, pesangon yang akan dibayarkan sebagai kompensasi PHK itu cukup untuk membeli sebidang tanah kosong di belakang sekolah mereka.


"Bodo amat!" balas Alvin acuh tak acuh. Ia tak akan peduli sebanyak apa uang yang akan dikeluarkan, yang penting rasa kesal akibat kejadian di malam ulang tahun Mama Elvira terbayarkan. Selain itu, ini juga dapat menjadi sebuah peringatan kepada siapapun yang ingin menghina Daniza agar lebih berhati-hati. 


"Tapi mereka itu kerabat kamu sendiri, Vin!" 


"Aku sudah bilang tidak peduli!" 

__ADS_1


Eric menyerah. Keputusan Alvin bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. "Baiklah, terserah kamu."


Obrolan tentang pemecatan karyawan pun berakhir begitu saja dengan diamnya Alvin.


Sekarang laki-laki itu malah memandangi foto Daniza dalam versi gadis remaja. Tiba-tiba kerinduan mulai menyusup ke dalam hati. Sudah beberapa hari belakangan ini keduanya terpisah oleh jarak. Karena Alvin telah berjanji tidak akan menemuinya sebelum Daniza memberi izin.


"Apes!"


Alvin meraih ponsel dan terdiam beberapa saat sambil memandangi video yang menayangkan rekaman CCTV di apartemen dari berbagai sudut. Namun, tak terlihat Daniza di sana. Hanya Santi yang sesekali terlihat melintas. Alvin agak menyesal mengapa dulu tak memasang CCTV di kamar. 


"Pasti mendekam di kamar," keluhnya. Beberapa hari ini, itulah yang dikerjakan Alvin. Mengawasi Daniza melalui rekaman CCTV. Meletakkan kembali ponsel ke meja, Alvin mendesahkan napas panjang.


"Daniz ... apa aku harus pura-pura salah kirim dulu biar bisa chat sama kamu?" 


Punggung tegapnya bersandar di kursi. Melamun seraya mengasah otak demi mendapatkan sebuah ide untuk menemui Daniza tanpa harus melanggar janji.


"Eric ...." panggil Alvin.


"Apa?" Pandangan Eric terfokus kepada lelaki galau di hadapannya. Kedua alisnya saling bertaut karena Alvin malah terdiam setelahnya. "Apa sih, tidak jelas!"

__ADS_1


"Enaknya pakai alasan apa buat ke apartemen Daniza, ya?"


Kerutan di dahi Eric tampak semakin dalam. Ia tidak tahu saja apa yang membuat Daniza marah dan enggan bertemu Alvin. "Tumben mau ke sana harus cari alasan dulu. Biasanya kamu nyosor kayak soang."


"Daniza masih marah soal kejadian di ulang tahun mama."


"Ya sudah, jangan ke sana. Takut kamu malah diusir. Mau ditaruh di mana itu muka?" Jawaban santai Eric malah membuat Alvin semakin gelisah.


"Menurut kamu, apa Daniza akan mengusir aku kalau ke sana?"


Eric hanya menjawab dengan bahu terangkat. Jika ditanya demikian, dirinya pun tak tahu harus memberi jawaban apa. Satu hal yang pasti, Eric dapat melihat wajah Alvin yang begitu frustrasi selama beberapa hari belakangan ini tak bertemu Daniza. Mungkin jika terus berlanjut, Alvin akan gila. Eric harus melapor secepatnya kepada sang baginda ratu.


"Sepertinya Tante Elvira harus cepat-cepat menyiapkan perangkat untuk anaknya. Aku mulai melihat sinyal bahaya," ucap Eric mengkhawatirkan situasi yang dialami Alvin.


"Menyiapkan perangkat? Memang mama punya perangkat apa selain sapu flying in the sky?"


Pertanyaan cenderung konyol itu membuat kesabaran Eric terkikis sampai hampir habis. Ingin sekali mengikat sang bos dan memasukkannya ke gorong-gorong.


"Seperangkat alat shalat dan cincin yang dibayar tunai, bodoh!"

__ADS_1


****


__ADS_2