
Alvin langsung turun dari mobil. Sorot matanya tertuju kepada Om Agung yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Katanya Daniza suka, Mah. Aku hanya test drive untuk dia dan memastikan mobil ini aman untuk ibu hamil."
"Kalau kamu sendiri bagaimana?" Lagi, pertanyaan Mama Elvira membuat Alvin tak berkutik.
"Itu aku ...." Ia menggaruk kepala. Ingin menjawab jujur, tentu saja gengsi di hadapan calon papa sultan.
Melihat reaksi putranya, Mama Elvira hanya menyembunyikan senyum. Apa lagi setelah menyadari pipi Alvin yang sedikit merona dan berusaha ia tutupi dengan sikap acuh tak acuh seperti biasanya.
"Oh ya, Mas Agung, terima kasih sudah mengantarku pulang. Maaf kalau ada yang kurang berkenan. Dan terima kasih juga untuk hadiah-hadiah ini," ucap Mama Elvira kepada Om Jabrik.
"Sama-sama, El. Kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai jumpa lain kali."
Alvin kembali melirik pria paruh baya itu. Jika dilihat dari tutur kata dan sikapnya, om satu ini memang terkesan sopan dan sangat menghargai Mama Elvira. Entah mengapa separuh hati Alvin masih ragu untuk melepas mama di tangan om hidung belalang itu.
"Terima kasih hadiahnya, Om. Daniza suka," ucap Alvin. Padahal di sini terlihat jelas siapa sebenarnya yang menyukai hadiah tersebut.
"Sama-sama, Alvin." Si Jabrik hanya tersenyum tanpa berani menjawab lebih ucapan Alvin. Baginya kata terima kasih itu sudah cukup karena bagaimanapun juga benteng kecanggungan di antara mereka masih berdiri tinggi.
Sementara itu dari jendela kamar, Daniza sejak tadi mengintip suaminya yang tampak sedang mengobrol dengan Om Agung. Sedikit rasa khawatir terlintas di hatinya.
"Bagaimana kalau nanti Mas Alvin mengatakan sesuatu ke Om Agung dan buat mama tidak enak?"
Daniza yang sudah menggunakan setelan piyama itu tergesa-gesa keluar kamar. Ukuran perut yang sudah membesar cukup membatasi ruang geraknya.
Menuruni tangga, Daniza hampir terpeleset hingga kehilangan keseimbangan. Hal yang mengakibatkan tubuhnya terguling di anak tangga dengan posisi perut mendarat lebih dulu dan juga kepala membentur anak tangga terakhir.
"Aaa!" jerit Daniza. Detik itu juga ia merasakan nyeri luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
Santi yang kala itu sedang membersihkan dapur bergegas ke arah sumber suara dan mendapati Daniza sudah tergeletak di anak tangga terakhir dalam keadaan tak sadarkan diri. Lengkap dengan cairan merah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya.
"Mbak Daniz!" teriak Santi.
__ADS_1
Jeritan Daniza pun terdengar sampai keluar meskipun tersamar. Alvin dan Mama Elvira seketika menoleh ke dalam rumah saat mendengar teriakan minta tolong yang berasal dari Santi.
"Mah, itu ada apa di dalam?" Alvin tiba-tiba panik.
Kontan semuanya langsung berlari menuju sumber suara. Om Agung bahkan meninggalkan mobil dengan keadaan pintu terbuka.
"Ya Tuhan Daniz!" Tanpa sadar Alvin berteriak. Terkejut dan takut di saat yang bersamaan melihat istrinya sudah tergeletak dan bersimbah darah dengan posisi tubuh miring ke arah kiri. Pakaian Santi pun ikut terkena bercak darah karena memangku tubuh tak Daniza.
"Tolong, Den! Mbak Daniz jatuh dari tangga!"
Sedangkan Alvin meraih tubuh Daniza dan memeluknya. Cairan bening lolos begitu saja tatkala melihat seluruh tubuh Daniza mengeluarkan keringat dan wajahnya memucat.
"Bagun, Daniz!" teriak Alvin seraya mengeratkan pelukan.
Mama Elvira menjerit ketakutan seraya bersimpuh di samping menantunya. Ia mengusap beberapa bagian tubuh Daniza.
"Kamu kenapa, Daniz? Bangun, Sayang!" pekik Mama Elvira tak dapat lagi menahan air mata.
"Alvin, tenang!" Om Agung menepuk bahu Alvin. "Jangan panik, sekarang kita harus segera membawa Daniza ke rumah sakit!"
Detik itu juga Alvin tersadar. Om Agung sudah menelusupkan tangan di bawah lutut Daniza.
"Alvin, jangan diam saja! Cepat kita bawa Daniza ke mobil!"
Alvin malah terpaku di tempat, nyaris tak bertenaga. Melihat tubuh Alvin yang gemetar, Om Agung takut jika ia tidak akan kuat mengangkat tubuh Daniza.
"Kamu di bagian kaki saja!"
"I-iya, Om!" jawab Alvin terbata.
Dengan dibantu Pak Udin, mereka mengangkat tubuh Daniza menuju mobil Om Agung yang ada di depan gerbang. Sementara Mama Elvira membukakan pintu mobil belakang.
Secepat kilat mobil mewah itu melesat meninggalkan pelataran megah milik Mama Elvira. Sesekali Om Agung tidak tega melihat Mama Elvira dan Alvin menangis di belakang sana.
__ADS_1
Sebisa mungkin Om Agung berusaha tetap tenang dan fokus dalam berkendara di tengah desakan Alvin untuk menambah kecepatan. Sebab tadi ia hampir saja menabrak sebuah sepeda motor. Beruntung Om Agung memiliki pengendalian diri yang baik.
"Bangun, Daniz! Kamu dengar aku, kan?" Berulang-ulang Alvin menciumi wajah Daniza. Memeluk tubuhnya semakin erat. Mama Elvira hanya dapat menangis memangku kaki menantunya.
"Tenang, Alvin. Daniza pasti baik-baik saja!" ucap Mama Elvira, berusaha menenangkan putranya di tengah kepanikan.
"Mama kamu benar, Vin. Kita semua harus tenang dan tidak panik."
Kurang dari 20 menit mereka telah tiba di rumah sakit, Daniza langsung dijemput oleh beberapa perawat yang membawa brankar dan segera dilarikan ke ruang operasi.
Tadi saat di perjalanan, Om Agung sempat menghubungi salah satu kerabat dekatnya yang merupakan kepala rumah sakit tempat mereka akan membawa Daniza, sehingga ruang operasi dan segalanya sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Beberapa dokter ahli juga sudah ditunjuk secara khusus untuk menangani Daniza.
"Biarkan saya ikut masuk, Dok!" desak Alvin yang mencoba menerobos ruangan berpintu kaca itu. Tetapi, dua orang dokter berusaha mencegah.
Salah satu di antara nya hanya melirik Om Agung dan Mama Elvira, seolah sedang meminta bantuan untuk menenangkan Alvin. Alvin tidak mungkin diizinkan masuk dalam keadaan sepanik ini, sebab dapat mengganggu konsentrasi para dokter dalam menangani kondisi darurat seperti sekarang.
Om Agung menepuk bahu Alvin.
"Vin, dokter benar. Sebaiknya kita menunggu di luar saja. Serahkan semuanya kepada tim dokter. Mereka pasti melakukan yang terbaik untuk Daniza dan anak-anak kamu."
"Tapi, Om—"
"Saya tahu kamu takut, tapi kamu akan semakin panik kalau ikut ke dalam dan bisa mengganggu dokter."
Dalam keadaan kalut, Alvin menimbang ucapan Om Agung yang memang ada benarnya.
Akhirnya Alvin mengalah. Menyerahkan keselamatan Daniza dan anak-anak sepenuhnya ke tangan tim dokter. Ia menjatuhkan diri di kursi sambil menjambak rambut dengan frustrasi.
Rasa takut kehilangan membekuk hatinya begitu kuat. Beruntung malam ini ada Om Agung yang tetap tenang di tengah kepanikan. Jika tidak, Alvin tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Terima kasih, Om."
...*****...
__ADS_1