
"Bukan, Mah!" Alvin meraih selembar tissue dan mengusap bibirnya yang basah. "Kita memang habis urus tanah kosong di belakang sekolah yang mau dibeli Eric. Iya kan, Ric?"
"Iya, Tante. Habis itu urus paspor buat Alvin keluar angkasa."
Alvin melotot. Kakinya refleks menyenggol Eric di bawah meja. "Keluar negeri, Dodol!"
"Iya, itu maksudnya. Kita urus tanah kosong sama paspor." Sekali lagi Eric membenarkan ucapannya.
Jika kedua anak badung itu mengira Mama Elvira akan percaya, maka salah besar. Karena kini Mama Elvira sedang menatap curiga. Biasanya Eric sangat lancar berbicara saat berkata jujur. Sebaliknya, akan gugup jika sedang berbohong.
"Oh, maksud kamu tanah kosong di belakang sekolah yang pernah tempat Alvin ikat Ruben?"
"Iya, Tante. Kebetulan kemarin si Rub—" Ucapan Eric terpotong karena Alvin kembali menginjak kakinya. "Emh ... maksudnya kemarin kebetulan Alvin ngopi sama Ruben sekalian baikan di sana."
"Oh ... Syukur deh kalau sudah baikan. Mama bisa malu sama Tante Lusy kalau dia tahu Alvin pernah jahatin anaknya. Untung Eric nggak ikut-ikutan. Mau ditaruh di mana muka mama kalau punya dua anak kriminil."
Meneguk saliva, Alvin dan Eric saling melirik sambil saling melempar kode rahasia. Membuat Mama Elvira menatap keduanya secara bergantian. "Terus paspornya bagaimana, beres?"
"Beres, Mah." Alvin menjawab cepat. "Tinggal tunggu berangkat."
"Ya sudah. Daniz, kamu harus bawa pakaian hangat yang tebal. Di sana itu dingin."
"Sedingin apa, Mah? Aku belum pernah ke sana." Daniza tampak antusias. Meskipun terlahir di keluarga kaya, namun Daniza belum pernah berkunjung ke Swiss sebelumnya.
"Nggak sedingin yang kamu pikirkan!" potong Alvin cepat.
"Memang kenapa sih kamu pilih ke Swiss? Kan banyak tempat romantis lain?" tanya Mama Elvira.
Membuat Alvin mendesahkan napas panjang. Padahal ia benar-benar sengaja memilih Swiss agar lebih banyak menghabiskan waktu di kamar bersama Daniza.
"Mama kurang pekanya keterlaluan!"
Pembicaraan selesai. Setidaknya Alvin dan Eric bernapas lega karena mama tidak mengajukan pertanyaan lain seputar tanah kosong di belakang sekolah. Jika tidak, Eric mungkin akan membocorkan sesuatu secara tidak senagaja.
*
*
*
Beberapa hari berlalu ....
Swiss adalah salah satu negara di Benua Eropa yang merupakan negara impian Alvin untuk menghabiskan masa bulan madu.
Menempuh perjalanan puluhan jam dan transit beberapa kali membuat keduanya tampak lelah.
__ADS_1
Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel. Daniza tengah terlelap di pangkuan Alvin akibat kelelahan. Sementara Alvin sedang tersenyum-senyum geli sambil memandangi wajah Daniza.
"Tidur aja sepuasnya, Sayang. Karena malam ini kamu tidak akan bisa tidur!" ucap Alvin dalam hati. Seringai jahatnya muncul tatkala mobil mulai memasuki gapura hotel.
Tanpa disadari Alvin, Daniza sudah membuka mata. Wanita itu mengernyit heran saat mendapati suaminya senyum-senyum sendiri layaknya seseorang yang kehilangan kewarasan.
"Ada apa, Mas?" tanya Daniza tiba-tiba.
Alvin tersentak dan refleks menatap istrinya. "Eh, kamu sudah bangun?"
"Baru saja. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Daniza menggeliat, lalu merubah posisinya menjadi duduk bersandar.
"Tadi kamu ngorok," kilah Alvin sengaja berbohong.
"Ngorok? Masa sih?" Mendengar itu, Daniza tersipu malu.
Setahunya, ia sama sekali tidak pernah ngorok di kala tidur. Wanita itu lantas memeriksa ujung bibirnya dan memastikan tidak ada cairan di sana.
"Mungkin kamu kecapean selama perjalanan, makanya ngorok."
"Tapi perasaan aku tidak pernah ngorok kalau tidur."
"Mana kamu tahu? Kamu kan tidur," tambah Alvin.
"Dingin ya, Mas?" lirihnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Padahal tadi sebelum turun dari pesawat Alvin sudah memakaikan jaket tebal. Laki-laki itu sangat tahu bahwa istrinya tidak tahan dengan udara dingin.
"Swiss memang salah satu negara terdingin di dunia. Nanti aku ajak kamu berenang di Sungai Aare."
"Tidak mau! Dingin!"
Mobil berhenti tepat di lobi. Seorang pria langsung membukakan pintu mobil dan menyambut dengan ramah.
Daniza menatap kagum suaminya yang ternyata sangat fasih berbahasa Jerman yang merupakan bahasa resmi di negara itu.
Seorang karyawan hotel pun mengantar menuju kamar. Daniza lagi-lagi terpesona melihat keindahan kamar yang akan mereka tempati.
"Wah kamarnya bagus sekali, Mas." Ia menggerakkan tubuhnya menuju jendela besar. Pemandangan gunung es di kejauhan terasa memanjakan mata.
Setelah Alvin memberi tips kepada karyawan hotel dan menutup pintu kamar, ia berjalan mendekati Daniza dan memeluknya dari belakang.
"Kamu suka kamarnya?"
"Suka sekali. Makasih, Mas." Daniza membalikkan tubuhnya dan membenamkan diri di pelukan sang suami. "Tapi kenapa dingin sekali, ya. Padahal sudah di kamar."
__ADS_1
"Kalau kamu kedinginan tidak usah ke mana-mana. Mending kita di kamar saja seharian."
Alvin menyeringai. Sepertinya perjuangan besarnya tidak akan sia-sia malam ini.
"Tamu bulanan kamu sudah pulang ke negara asalnya, kan?" bisik Alvin.
Mendadak wajah Daniza merona setelah mampu menebak arah pembicaraan suaminya. Tak sanggup menjawab dengan lisan, ia hanya mengangguk malu-malu.
"Kalau begitu kamu harus siap-siap mulai dari sekarang."
Semakin merah saja pipi Daniza. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Alvin.
Padahal ini bukan yang pertama kali, tetapi entah mengapa dengan Alvin terasa sangat berbeda. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat jika berdekatan dengan laki-laki itu.
*
*
*
Tak terasa waktu bergerak sangat cepat. Setelah membicarakan banyak hal berbau 21+ yang membuat Daniza merinding oleh kadar kemesuman suaminya, keduanya malah tertidur pulas hingga menjelang sore.
Daniza baru membuka mata setelah dikejutkan oleh suara bel pintu. Dalam keadaan masih setelah mengantuk, ia hanya menatap suaminya yang beranjak keluar membuka pintu dan dalam hitungan beberapa menit sudah kembali dengan full senyum di bibirnya, serta membawa sebuah paper bag.
"Saatnya mandi," ucap Alvin penuh semangat.
"Mandi? Memang jam berapa sekarang?"
"Sudah sore, Sayang. Bangun, yuk! Terus kita mandi." Alvin memberikan paper bag ke tangan Daniza. Menciptakan kerutan tipis di dahi sang istri.
"Apa ini, Mas?"
"Buka saja. Kamu pasti suka."
Tanpa banyak bertanya, Daniza mengeluarkan isi paper bag tersebut. Sepasang matanya yang sayu pun membulat seketika. Betapa tidak, Alvin baru saja memberikan sebuah bikini se ksi berwarna merah menyala.
"Untuk apa ini?" Suara Daniza terdengar gugup ketika memandangi pakaian terbuka di tangannya.
Hey, apakah Alvin ingin ia mengenakan pakaian terkutuk itu saat mandi?
Seringai tipis terbit di sudut bibir Alvin. Pakaian itu adalah bagian rencana ngerez-nya malam ini.
"Habis kamu malam ini, Daniza Amaria!"
...*****...
__ADS_1