Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Haruskah Aku Menjadi


__ADS_3

Senyum mengembang sempurna di bibir Daniza setelah berhasil membuat Alina malu di depan umum. Ia berjalan dengan anggun meninggalkan wanita jahat itu. Sementara empat orang karyawati toko yang tadi dihadiahi belanjaan mahal menundukkan kepala hormat dengan wajah berseri-seri. Siapa yang tidak senang diberi tas dan sepatu dengan harga jutaan.


Melihat itu, amarah terasa menembus ke ubun-ubun Alina. Tak hanya di depan umum, Daniza juga berhasil membuatnya kehilangan muka di hadapan teman-temannya.


"Kalau mau ajak belanja pastikan dulu kamu punya uang. Bisa-bisanya ajak kita-kita belanja dengan kartu kredit yang terblokir!" gerutu salah satu teman Alina. Sekarang wajah ketiganya bak kanebo kering yang kusut dan kaku.


Malu? Tentu saja.


"Aku minta maaf! Aku sama sekali tidak tahu kalau kartu itu diblokir Revan. Kemarin aku masih bisa menggunakannya."


"Alah, jangan banyak alasan! Kamu cuma mau pamer, kan? Tapi sayang kamu malah bikin kita semua malu!" Ketiga wanita itu tiada peduli dengan penjelasan apapun yang diberikan Alina. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Alina.


"Sialan sekali hari ini. Aku harus temui Revan dan menanyakan kenapa kartuku diblokir!" Alina bersungut-sungut dengan kaki menghentak lantai. Sesampainya di lobi, penglihatannya menangkap Daniza tengah berjalan menuju sebuah mobil mewah. Tampak pula seorang sopir membukakan pintu.


Tanpa dapat dikendalikan, rasa iri semakin menjalar ke hati Alina. Karena Alvin benar-benar memberi Daniza kehidupan serba mewah layaknya seorang ratu.


Daniza yang akan naik ke mobil pun urung kala menyadari kehadiran Alina di pintu masuk. Dengan mengulas senyum, ia kembali mendekati sepupunya itu.


"Aku lupa memberitahumu tentang sesuatu."


Alina terdiam. Kekesalan membuat lidahnya terasa kaku. Bahkan untuk menjawab ucapan Daniza saja seakan tak sanggup.


"Apa kamu tahu, kepolisian sedang menyelidiki tentang pendarahan yang terjadi padaku beberapa waktu lalu."


Perkataan Daniza layaknya sambaran petir bagi Alina. Tubuh wanita itu meremang. Wajahnya pun kembali memucat.


"Apa hubungannya denganku?" balas Alina sedikit ragu.


Daniza menerbitkan smirk. Ia sangat yakin Alina adalah dalang di balik kejadian itu.

__ADS_1


"Seseorang sudah mencampur obat ke dalam minumanku dan membuatku mengalami keguguran. Meskipun tidak ada saksi yang melihat, tapi sidik jari pelaku pasti ada di cup minuman itu dan aku yakin pelakunya adalah orang terdekat."


Alina kembali membeku. Bola matanya berputar kesana-kemari. Tetapi sebisa mungkin berusaha untuk bersikap tenang. "Apa kamu sedang menuduhku?" ucapnya tak terima.


Sudut mata Daniza berkerut curiga. "Kenapa kamu segugup itu? Aku tidak pernah bilang sedang mencurigaimu. Atau jangan-jangan kamu memang terlibat."


"Jangan sembarangan menuduh!" pekik Alina. Sudah tidak tahan berlama-lama dekat dengan Daniza, karena mulut wanita itu terlalu pedas bak cabe level setan.


Tak ingin Daniza semakin curiga, Alina pun berlalu dengan tergesa-gesa. Daniza menarik napas panjang menatap Alina yang mulai menjauh.


*


*


*


Daniza terdiam memandangi jalan-jalan yang dilewati di siang hari yang padat itu. Entah mengapa pikirannya dipenuhi dengan kepingan rasa bersalah. Memanfaatkan Alvin adalah sesuatu yang tak pernah ada dalam rencana. Tetapi baru saja ia telah menggunakan kebaikan laki-laki itu untuk kepentingannya sendiri.


"Ya ampun, kenapa kepalaku langsung pusing melihat jumlahnya?"


Daniza semakin gelisah. Memikirkan harus berkata apa jika Alvin tahu ia menghabiskan banyak uang. Meskipun sebelumnya, Alvin si pemilik kartu sudah memberinya kebebasan untuk membeli apapun.


"Kalau Kak Alvin tanya, aku harus bilang apa?"


Sang sopir yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik sosok cantik di belakang. Sebab sejak meninggalkan pusat perbelanjaan tadi, wanita di belakangnya itu tidak tenang.


"Kenapa, Bu?"


Daniza tersenyum getir. Terlihat sangat ragu. "Tidak apa-apa, Pak! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

__ADS_1


Wanita dengan rambut hitam sepunggung itu kembali membisu. Kukunya yang terawat harus menjadi korban gigitannya.


"Apa Kak Alvin akan marah kalau tahu?"


"Tidak-tidak! Kak Alvin tidak akan marah. Dia bilang sendiri aku boleh pakai kartu ini sesukaku."


Tetapi sepasang mata cokelatnya kembali mengarah pada struk belanjaan sialan dengan angka fantastis itu.


"Tapi ini kan uang yang banyak sekali!"


Jika Daniza sedang gelisah dengan jantung berdebar-debar, maka berbeda dengan Alvin yang masih menyibukkan diri di kantor. Sepanjang hari ini waktunya tersita oleh pekerjaan. Alvin bahkan telah melewatkan jam makan siang karena padatnya pekerjaan.


Tak lama berselang, ponsel berdering tanda pesan masuk. Entah sudah beberapa kali, tetapi ia mengabaikan. Sekarang laki-laki itu meraih ponselnya demi melihat deretan pesan baru yang masuk. Namun, dalam daftar nama pengirim pesan itu, tak satu pun yang berasal dari Daniza.


"Keterlaluan! Ditanya sudah makan saja tidak!"


Baru saja Alvin akan mengirimkan pesan lebih dulu, perhatiannya sudah teralihkan pada salah satu pesan pemberitahuan. Spontan saja bola mata Alvin melebar saat membuka dan melihat angka yang tertera pada layar.


"Daniza pakai uang sebanyak ini untuk apa?"


Sebenarnya, Alvin sama sekali tak peduli seberapa banyak uang yang dihabiskan Daniza. Karena semakin banyak yang digunakan, semakin menguntungkan bagi Alvin.


Sekarang laki-laki itu malah memikirkan cara licik untuk mendapatkan hati Daniza atau menjeratnya semakin dalam. Namun, tidak pekanya Daniza lagi-lagi menjadi halangan.


"Nasibmu, Vin! Dari tahun 1 dicuekin melulu, sampai sekarang sudah tahun 2022 masih dicuekin."


Ia menghembus napas kasar. Menatap nanar benda sialan berbentuk persegi panjang dengan logo apel habis digigit itu.


"Daniz ... Daniz ... haruskah aku jadi Indomie dulu biar bisa jadi seleramu?"

__ADS_1


*****


__ADS_2