Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonchap 10- Mau Langsung Atau ....


__ADS_3

Halo, kesayangan aku. Apa kabar semua. Semoga sehat selalu di mana pun berada.


Maafkan aku karena lama ngasih bonchapnya. Beberapa teman pasti tahu kalau si Lepi alias si laptop sedang rusak dan masih dalam tahap perbaikan. Makanya aku sangat terbatas dalam menulis saat ini. Ini juga ngetik pakai hempooong. wkwkwk


Tapi aku insyaa Allah, secepatnya akan menamatkan Bonus Chapternya.


Terima kasih untuk setiap dukungan yang diberikan kepadaku. Aku merasa punya keluarga baru dengan kehadiran kalian semua. Jujur tanpa kalian semua aku bukan siapa-siapa. 🤗🤗


Oke sekian sesi curhat ala alanya. mari kita bantayyy boncapnya.


*


*


*


Sementara di tempat lain, Eric dan Mila memasuki kamar pengantin mereka. Pemandangan kamar tampak begitu indah dengan kehadiran dua angsa buatan lucu di tengah-tengah kasur. Jangan lupakan bunga, benda keramat itu sudah seperti aksen wajib yang bertebaran di mana-mana. Namun, suasana yang seharusnya manis terasa tragis karena Eric terus saja memikirkan hal-hal kotor selama memasuki ruangan.


"Mau langsung apa mandi dulu?"


Seketika Mila terlonjak mendengar pertanyaan frontal lelaki yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu.


"Apanya yang langsung?" Mila berpura-pura polos. Bibir terlipat ke dalam saat melihat pipi Eric mulai memerah.


"Emm, maksudku mau langsung tidur apa mandi dulu?"

__ADS_1


Demi Tuhan, Eric sendiri juga tidak tahu mengapa nyalinya mendadak ciut saat menginjakkan kakinya di tempat ini. Padahal biasanya ia selalu bersikap tenang. Tetapi, untuk malam pertama ini Eric tidak yakin semuanya akan berjalan lancar.


Belum apa-apa saja jantungnya serasa akan meledak. Sulit sekali bagi dirinya untuk mengucapkan kalimat manis layaknya suami romantis di malam pertama.


"Bagusnya sih mandi dulu. Badanku rasanya lengket. Mana sisa makeup di muka aku masih banyak." Mila melirik ke arah cermin besar yang melekat di dinding kamar. Terlihat wajahnya yang belum bersih dari polesan makeup.


"Ya sudah, kamu duluan aja, Mil!"


Mila langsung beranjak ke kamar mandi. Kebetulan ia sudah mengenakan bathrobe dari sejak memasuki kamar. Sebelumnya, ia berada di kamar sebelah yang telah disiapkan untuk melepas gaun dan menghapus makeup.


Eric hanya menatap pintu kamar mandi yang baru tertutup. Kemudian duduk sambil memainkan bunga yang menabur di pembaringan.


"Eric beg"o! Kalau si Alvin pasti sudah ajak Daniza mandi bareng." Entah mengapa pikirannya tertuju kepada sang kakak. Memikirkan apakah Alvin juga segugup dirinya. Tetapi, melihat kepribadian Alvin selama ini, rasanya tidak mungkin. Ia pasti sangat bar-bar.


"Kira-kira aku harus mulai dari mana, nih?"


"Terus kira-kira cewek suka main basa-basi dulu apa yang langsungan, ya?" Eric mendesah bimbang. "Kalau urusan sosor menyosor si Alvin juaranya."


Eric sedang menimbang, apakah dirinya perlu petuah dari sang kakak atau tidak.


"Kalau aku langsung ngajakin ke acara inti kira-kira Mila terganggu tidak, ya? Ah, sialan! Kenapa aku jadi galau begini? Perasaan kemarin-kemarin tidak!" kesal Eric lalu mendengkus. Ia tatap pintu kamar mandi, yang tak lama kemudian terbuka.


Sontak pemandangan yang tersaji membuat Eric tersedak ludah sendiri. Mila keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"Kamu kenapa?" Wanita itu mendekat. Membuat udara di sekeliling terasa mencekik bagi Eric. Napasnya memburu dan itu membuat Mila agak panik. "Kamu demam, ya?"

__ADS_1


Mila menekan dahi Eric dengan punggung tangannya. Eric merasakan tubuhnya seperti disengat laba-laba beracun.


"Badan kamu, panas Ric!"


"Nggak, kok." Eric langsung menarik tangan sang istri. "Nggak usah main dokter-dokteran. Aku begini gara-gara kamu."


"Memang aku kenapa?"


"Ngapain kamu pakai handuk kecil kaya gini? Sengaja mau pamer?" kesal Eric.


"Bukan begitu. Tadi bathrobenya basah."


"Alasan aja kamu!" Eric menarik Mila lalu membantingnya ke tengah ranjang. Membuat Mila mengaduh. Tetapi, anehnya ia tidak merasakan sakit. Tentu saja tidak, karena itu adalah bantingan erotis ala-ala Eric.


Setelah memikirkan berbagai cara untuk memulai malam pertama yang indah, Eric memutuskan untuk tancap gas tanpa embel-embel permulaan. Biarkan semua itu mengalir dengan sendirinya seperti Eric yang tengah mengunci tubuh Mila saat ini.


"K … kamu tidak mandi dulu?" Mila meneguk salivanya gugup. Sebagai manusia normal, ia juga ikut memikirkan berbagai macam hal erotis yang akan terjadi nanti. Baik wanita maupun pria sama-sama punya sisi mes*um tersendiri.


Layaknya pemain profesional, Eric tersenyum menawan. Ia menaruh anak rambut Mila pada balik telinga dan mendekatkan bibirnya perlahan.


"Aku lebih suka mandi keringat bersamamu," bisik lelaki itu.


Mila bergidik mendengar kalimat yang terasa sangat erotis di telinga. Sejak kapan Eric yang polos berubah menjadi sedikit nackal?


Baru saja Eric mendekatkan wajah, sudah terdengar deringan ponsel. Lelaki itu mengumpat kesal dalam hati. Menyesal mengapa tak menonaktifkan ponsel sebelum masuk kamar.

__ADS_1


"Ini yang telepon manusia apa jailangkung, sih!"


...***** ...


__ADS_2