Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Begitu Syuwlit!


__ADS_3

Setelah dua malam menginap di hotel, akhirnya Alvin dan Daniza memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebenarnya bonus menginap yang diberikan hotel adalah 2 hari 3 tiga malam, tetapi berhubung Daniza sedang kedatangan tamu bulanan, otomatis kamar pengantin indah itu terkesan seperti ruang penyiksaan bagi Alvin.


Selalu saja ada hal-hal yang berbau 21+ di kamar hotel itu, karena memang kamar dikhususkan untuk pasangan pengantin, jadi segala kebutuhan bercocok tanam mereka selalu disediakan oleh pihak hotel.


Alvin yang tak kuat akhirnya mengajak Daniza pulang. Selain itu juga Alvin ingin Daniza lebih banyak beristirahat di rumah sebelum keberangkatan mereka ke Eropa dalam rangka bulan madu.


"Ah, akhirnya sampai juga. Nelangsa dua malam di hotel nggak ngapa-ngapain." Alvin menggandeng tangan Daniza menuju kamarnya. Dua hari tidak melakukan apa-apa membuat tubuhnya terasa lelah. Lebih tepatnya lelah karena harus menahan diri sekuat mungkin saat ada di samping Daniza.


"Ya, sudah! Kamu langsung istirahat saja, Mas, nanti aku pijitin kamu sampai tidur."


"Bener, ya?" Lelaki itu tersenyum girang.


"Iya," jawabnya tersipu. Saat memasuki kamar Alvin, Daniza dibuat takjub oleh suasana kamar yang baru. Padahal tiga hari lalu kamar itu masih tampak biasa saja.


"Ini ...." Daniza ternganga seketika. "Sejak kapan kamar kamu jadi berubah begini?"


Wanita itu berdecak kagum begitu melihat seisi kamar yang sudah berubah signifikan. Terasa hangat karena cat dinding, tirai dan seprai diganti dengan warna kesukaan Daniza. Tempat tidur berubah menjadi ukuran king size. Ada dua buah lemari besar dan juga foto pernikahan mereka yang terpajang rapi di nakas dan juga dinding.


"Ini nuansa kamar baru kita. Kamu suka?" Alvin tersenyum lagi. Diam-diam ia memang meminta orang untuk menyiapkan kejutan ini untuk Daniza.


"Suka banget, Mas! Kamu tahu dari mana kalau aku suka warna lilac?" Daniza menatap penuh haru. Alvin seperti tahu apapun tentang dirinya yang bahkan tidak pernah Daniza beritahu sebelumnya.


"Tahu lah!" jawab Alvin singkat.


"Tahu dari mana? Aku kan tidak pernah bilang."


"Apa sih hal dari kamu yang aku tidak tahu?" Ia merangkul istrinya memasuki kamar. Daniza masih menatap setiap sudut ruangan dengan terkagum-kagum. Kamar ini jauh lebih indah dibanding kamar lamanya. "Memangnya kamu ... kamu tidak tahu apa-apa tentang aku, kan?"


Daniza terdiam. Ia memang tidak tahu apapun tentang Alvin. Bahkan makanan kesukaan Alvin sekalipun ia belum tahu. Sepertinya Daniza harus banyak bertanya kepada Mama Elvira.


"Maaf," ucapnya. Mendadak tak enak hati.


Tetapi Alvin langsung menghibur dengan membelai rambutnya. "Tidak apa-apa, Sayang. Belajar sedikit-sedikit saja. Kita masih punya sisa usia seumur hidup untuk saling mengenal lebih jauh."


Ia membenamkan ciuman di kening. Membuat Daniza melukis senyum di bibirnya.


"Kamu ada yang mau dirubah dari kamar ini?" tanya Alvin kemudian.


"Tidak ada. Aku suka semuanya." Tangan Daniza melingkar erat ke tubuh tinggi menjulang itu. "Terima kasih, Mas. Kamu memang suami budiman seantero galaksi Bima Sakti."


"Mulai deh ketularan mama dan Eric."


*


*

__ADS_1


*


"Mau ke mana, Mas?" tanya Daniza siang itu ketika melihat Alvin berpenampilan casual dengan kemeja lengan pendek, celana jeans dan sepatu sneakers. 


"Mau keluar sebentar. Aku ada janji sama Eric." Alvin mengenakan jaket setelahnya. Kemudian menyisir rambut dan memastikan penampilannya cukup rapi di pantulan cermin. 


"Janji ke mana?" 


"Ketemu di kafe. Eric tiba-tiba telepon ajak ketemu, katanya penting. Kamu tunggu di rumah aja, ya. Istirahat yang banyak." 


"Pulangnya jam berapa?" tanya Daniza lagi. 


"Tidak lama, kok. Setelah urusannya selesai aku langsung pulang." 


Alvin mengulas senyum. Sebelum keluar kamar, ia menyempatkan diri mengambil jatah premanisme dengan membombardir ciuman di pipi dan bibir Daniza. 


"I love you." 


*


*



Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, Alvin tiba di sebuah kafe tempat janjian dengan Eric. Ada sedikit tanda tanya di benaknya mengapa Eric tiba-tiba menghubungi dan memaksa untuk bertemu. Padahal setahu Alvin, ini bukan kafe tempat mereka sering nongkrong. 


"Jangan-jangan ditipu sama Eric, nih," gumam alvin. 


Baru akan merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel, sudah terdengar panggilan setengah berbisik. 


"Vin, di sini, woy!" panggil Eric. 


Dahi Alvin berkerut menatap Eric yang siang itu tampil sok misterius dengan kacamata hitam dan masker. Lengkap dengan koran terbalik yang digunakan untuk menutupi wajahnya. 


"Kamu kenapa? Lagi jadi James Bond?" 


"Diam! Duduk!" perintah Eric. 


Dalam keadaan masih bingung, Alvin terpaksa menuruti perintah sang asisten. Ia masih sempat menoleh ke kanan dan kiri untuk memperhatikan pengunjung lain. "Apa sih?" 


Eric membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya, masih dengan mengangkat koran terbalik dan pura-pura membaca. 


"Lihat di sana ada si cecunguk Ruben!" Eric menunjuk ke arah salah satu meja. Pandangan Alvin pun mengikuti ke mana arah yang ditunjuk Eric. 


Benar saja, di sana ada Ruben si manusia korban gorong-gorong sedang duduk bersama .... 

__ADS_1


"Mila?" Alvin berseru saking terkejutnya, membuat Eric seketika menutup mulutnya dengan tangan. 


"Sssstt! Jangan kencang-kencang, kamu mau kita ketahuan!" Eric baru melepas tangan setelah Alvin menganggukkan kepala. 


"Ngapain itu warga Bikini Bottom yang terkutuk ketemuan sama Mila di sini?" Alvin refleks merebut masker milik Eric demi menyamarkan wajahnya. 


"Balikin maskernya, Dodol!" maki Eric dalam bisikan.


"Kamu kan ada kacamata!" Keduanya malah saling berebut dan baru berhenti setelah beberapa pengunjung menatap mereka. "Kok si Mila bisa sama Ruben?" 


"Itu juga yang mau aku cari tahu, Vin. Makanya aku ajak kamu ke sini," jawab Eric. Pandangannya tak pernah lepas dari dokter cantik itu. 


"Kamu cemburu sama Mila dan Ruben?" Dengan santainya Alvin bertanya tanpa mengindahkan ekspresi sahabat kentalnya itu. 


"Bukan cemburu. Aku cuma takut si Mila dicolek sama spons laut itu. Bisa gatal-gatal si Mila," jawabnya tak mau mengakui. 


Eric membuang sedotan pada gelas jus miliknya, kemudian menyeruput minuman dingin itu demi mendinginkan jiwanya yang terbakar. 


"Dia pegang tangan si Mila, Ric." Alvin sengaja mengompori setelah menyadari Eric sedang cemburu. 


"Aku sumpahin tangannya kudisan!" 


"Tatapannya ke Mila dalam banget lagi." 


"Mudahan-mudahan matanya belekan!" 


"Eh, Ric. Dia mau cium tangannya si Mila." Alvin semakin gencar mengompori, sedangkan Eric semakin blingsatan. 


"Aku kutuk bibirnya dower nggak bisa balik!" 


Sementara di sudut sana, Ruben dan Mila terlihat mengobrol dengan serius. Eric menyesalkan kejadian di malam pernikahan Alvin dan Daniza. Ia gagal membujuk Mila hingga wanita itu meninggalkannya. 


"Mil, apa kamu setuju dengan perjodohan yang ditetapkan untuk kita?" tanya Ruben. 


"Aku belum bisa kasih jawaban, Ben. Aku harus memikirkan semuanya. Pernikahan itu kan nggak bisa main-main," jawab Mila.  


"Oke, nggak masalah. Tapi jangan lama-lama mikirnya." 


Eric menarik napas dalam-dalam mendengar pembicaraan Mila dan Ruben. Mendadak hatinya seperti diremas kuat mengetahui fakta baru bahwa Ruben dan Mila telah dijodohkan.


"Ternyata mereka dijodohkan, Ric," bisik Alvin. "Bagaimana sekarang!"


 


"Bangs4t! Laki-laki berinisial 'R' itu memang meresahkan! Nggak si Revan, nggak si Ruben!" gerutu Eric. 

__ADS_1


"Hooh. Cuma Rehan yang baik!" 


...****...


__ADS_2