
"Tergantung," jawab Alvin.
Eric menarik napas dalam. Ia harus menceritakan dengan cerdas, cermat serta sabar agar Alvin tidak semakin salah paham. Sebab Eric lah yang paling mengenal seperti apa Alvin di usia remaja.
"Dulu kamu memang benci sama Daniza setelah kepergian papa. Kamu jahat dan melakukan apapun untuk membuat Daniza menderita."
Alvin mengangguk setuju. "Aku ingat, beberapa minggu lalu aku sengaja dorong dia sampai jatuh ke kolam renang sekolah. Dia ditolong sama si Ruben!"
"Itu kejadian 10 tahun lalu, Nyet! Bukan beberapa minggu lalu!" pekik Eric.
"Bodo amat! Aku ingatnya beberapa minggu lalu."
"Makanya kamu kena karma, kan? Akhirnya kebencian kamu berubah menjadi cinta dan kamu melakukan apapun hanya untuk mendapatkan perhatian si Daniz, meskipun dengan cara yang salah!"
"Nggak mungkin, lah!" tolak Alvin. Ia merasa tidak mungkin memiliki perasaan lebih terhadap Daniza.
"Kamu bahkan pernah mengikat Ruben di gorong-gorong dan mengurung Daniza di gudang sekolah untuk mencegah mereka jalan bareng. Kamu ancam si Ruben dengan pistol mainan sampai dia pipis di celana dan besoknya ngamuk ke mamanya minta pindah sekolah!"
Lagi-lagi penjelasan Eric membuat Alvin merenung. Benarkah ia sampai segila itu karena Daniza? Padahal dalam hatinya sekarang tidak ada perasaan lain, selain kebencian.
"Aku separah itu?" tanyanya hampir tak percaya.
Eric mengangguk sebagai jawaban. "Sebelum papa pergi, dia minta kamu jaga Daniza di sekolah. Kamu benci sama dia karena berpikir dia penyebab papa kecelakaan."
__ADS_1
Sepasang bola mata Alvin mulai berkaca-kaca. Kenangan kepergian papa adalah sesuatu yang paling tidak ingin diingatnya. "Kenapa papa harus terlibat dengan keluarganya Daniza yang jahat?"
"Daniza juga korban perebutan harta, Vin. Bukan sepenuhnya salah dia. Papa cuma menjalankan kewajiban untuk membantu papanya Daniza untuk memperjuangkan hak Daniza. Setidaknya kamu harus bangga karena papa pengacara yang hebat dan jujur."
Alvin teringat lagi kepada sosok papa. Ia adalah seorang pengacara terkenal yang kerap membantu orang-orang mendapatkan keadilan. Kasus terakhir yang ditangani papa adalah soal perebutan harta di keluarga Daniza.
Tiba-tiba Alvin merasakan denyutan hebat di kepala. Bayangan papanya terjebak di dalam mobil penuh air benar-benar menyayat hati.
"Coba deh, pelan-pelan kamu ingat. Kamu itu sayang sama Daniza. Kamu pernah patah hati karena kehilangan jejak dia."
"Itu nggak mungkin, Ric!" teriak Alvin. "Aku benci Daniza! Dia penyebab papa kecelakaan. Malam itu papa buru-buru keluar dari rumah untuk menolong Daniza tapi akhirnya papa yang jadi korban! Papa pasti ketakutan saat mobilnya jatuh ke sungai. Aku bisa merasakan papa tersedak air dan kesulitan bernapas!" Alvin menjambak rambut. Bola matanya memerah dan basah.
Eric mencoba menenangkan sambil menerawang hal yang menjadi pemicu hilangnya sebagian memori Alvin tentang Daniza.
Mobilnya terjun ke sungai persis seperti kejadian saat papa kecelakaan. Mungkin saja kala itu trauma kehilangan yang begitu besar muncul kembali dengan penyebab orang yang sama, yaitu Daniza. Terlebih, malam itu Alvin keluar untuk mengambil perhiasan yang sudah dipesan secara khusus untuk Daniza?
Alvin tak menyahut. Dadanya semakin sesak sesak.
"Aku hanya bisa mengingatkan kamu supaya memperlakukan Daniza lebih baik. Dia istrimu dan kamu sangat mencintai dia."
Tanpa diketahui Alvin dan Eric, Daniza sedang berdiri di ambang pintu. Wanita itu berdiri terpaku di tempat setelah mendengar percakapan dua orang di dalam sana.
Ingatan Daniza lantas berputar pada kejadian beberapa tahun lalu. Kala itu ia diculik oleh orang tak dikenal sampai akhirnya seorang pria baik yang mengaku sebagai pengacara papanya datang menolong.
__ADS_1
"Jadi secara tidak langsung aku adalah penyebab papanya Mas Alvin kecelakaan?"
*
*
*
Kegelapan masih menyelimuti Bumi saat Alvin tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia baru saja memimpikan sebuah kejadian erotis, di mana pemeran utamanya adalah dirinya dan Daniza.
Dengan tubuh masih lemas, ia menyandarkan punggung di ranjang. Kemudian menatap sebuah sofa melengkung yang tadi sempat menjadi bahan ledekan Eric sebelum tidur.
"Apa benar aku—" Alvin tak dapat melanjutkan ucapannya. Mimpi itu terlalu nyata untuk dibantah. Bahkan bayangan kebersamaan dengan Daniza masih menari-nari di otaknya.
"Tidak mungkin! Aku pasti sudah gila kalau sampai menyukai perempuan seperti dia!" Alvin bergumam. Kepalanya menggeleng, tetapi sudut hatinya terus berkata lain.
Seperti ada sesuatu yang menghangat di relung hati saat membayangkan wajah Daniza di dalam mimpi tadi. Senyum yang menggoda, serta mata yang indah menyatu sempurna dalam wajahnya yang cantik.
"Lupakan Alvin! Kamu masih di bawah umur untuk mimpi orang dewasa seperti tadi!" gumamnya dalam hati.
Saat hendak menjutaikan kakinya ke lantai, ia merasakan sesuatu yang aneh di bawah perut. Ada yang basah dan lengket tapi bukan slime.
Curiga betapa bre*ngsek dirinya di alam mimpi, laki-laki itu menyibak selimut. Seketika matanya membola saat menyadari sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
__ADS_1
"Sialan, kenapa bisa keluar?"
...****...