Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Budiman Seantero Galaksi Bimasakti


__ADS_3

Jika Revan dan Alina tengah patah hati, maka tak berbeda jauh dengan Alvin yang sedang uring-uringan. Seharian ini tak satupun pesannya yang dibalas oleh Daniza. Telepon pun sama sekali tidak dijawab. Bukan hanya itu, jika dihubungi ke nomor telepon apartemen, Santi yang menjawab akan memberi alasan tidak masuk akal, "Bu Daniz-nya sedang di kamar mandi." 


Alvin mendengkus kesal. Ponsel di tangan dihempas kasar ke sofa. Beruntung benda persegi panjang berlogo apel habis digigit dengan harga selangit itu tak jatuh membentur lantai. Jika tidak Alvin pasti semakin kesal. 


"Masa iya setiap dihubungi di kamar mandi melulu? Memangnya Daniza lagi diare?" 


Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama tempatnya membanting ponsel, lalu menatap nanar gedung-gedung tinggi di sekitar kantor. Diabaikan Daniza membuatnya kehilangan semangat hidup hari ini. Niat lembur hingga pukul sembilan malam pun berakhir dengan melamun tidak jelas. Bahkan saat Eric masuk ke ruangan Alvin masih larut dalam lamunan. 


"Jam sembilan ini, Vin! Atau jangan-jangan kamu mau nginap di kantor?" 


Alvin hanya menoleh kepada temannya itu. "Sebentar lagi. Mau cari wangsit dulu," jawabnya lemas. 


Eric pun harus menahan kesal karena menjadi tumbal kegalauan sang bos. Malam ini ia terpaksa membatalkan acara kencan dengan seorang gadis. 


Pukul sepuluh malam barulah Alvin memutuskan meninggalkan kantor. Sepanjang jalan menuju pulang tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Alvin dengan pikiran terus mengarah kepada Daniza, sedangkan Eric dengan kekesalan akibat kencan yang gagal. 


"Vin!" panggil Eric pada akhirnya. 


"Jangan bicara, Ric! Aku sedang tidak mood untuk mendengar berita buruk!" potong Alvin. 


Eric melirik sekilas, kemudian kembali terfokus dengan jalan di depan. "Padahal aku mau kasih tahu berita gembira." 


"Apaan?" sahutnya ketus. 


"Rival-mu sudah menerima surat panggilan sidang gugatan cerai dari pengadilan." 

__ADS_1


Raut wajah Alvin berubah saat itu juga. Senyum lebar terlukis di bibirnya. "Tumben kamu kasih berita yang benar-benar bagus." 


Eric menyeringai. "Ada orang cerai kok senang? Dasar iblis kamu!"


"Kalau perlu aku yang akan jadi hakim ketok palunya!" ujarnya cepat.


Eric hampir menyemburkan tawa saat itu. Temannya yang satu memang aneh bin ajaib. "Tapi jangan senang dulu. Sepertinya si Revan akan datang ke persidangan dan minta mediasi. Bagaimana kalau si Daniz luluh?" 


Mendadak senyum di bibir Alvin meredup. Tak dapat dipungkiri kemungkinan itu memang ada, sebab Daniza memang pernah mencintai Revan dan mungkin masih. Ah, sepertinya kali ini Eric berhasil berkamuflase menjadi kompor. Terbukti, ucapannya beberapa detik lalu membuat Alvin mulai gelisah. 


"Ya kamu halangi lah si Revan untuk datang ke persidangan," perintah Alvin seenaknya.


"Caranya bagaimana, Bos?" 


Atau menyelundupkannya ke ujung selatan Bumi dan berbaur dengan bakteri, alga, lumut dan beberapa spesies serangga lainnya.


Tetapi, jika Alvin pikir, mengapa harus ke tempat yang jauh dan memakan banyak uang hanya untuk lelaki modal burung seperti Revan? Bukankah tempat andalan semasa sekolah bisa menjadi alternatif saat sedang kepepet?


"Oh ya, Ric ... Gorong-gorong besar dekat sekolah dulu masih ada tidak, ya?" 


Pertanyaan konyol Alvin membuat Eric mendesahkan napas panjang. Niatnya membahas Revan semata untuk membuat Alvin kesal, sebagai balasan atas gagalnya kencan malam ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Senjata makan tuan.


Benar-benar perlu diruqiyah anak Nyonya Elvira ini. 


"Jangan ngadi-ngadi, Vin! Kamu bukan anak sekolah lagi yang suka tawuran!"

__ADS_1


"Kamu ini lama-lama bawel kayak mama!" Alvin mencibir. "Cepat putar arah ke apartemen Daniz!"


"Ngapain ke sana malam-malam? Kalau berduaan itu, yang ketiga pasti setan, Vin!" Eric mencoba mengingatkan.


Ia jelas tahu bahwa Daniza sedang sendirian di apartemen. Karena tadi, Santi sempat meminta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya dan baru kembali besok pagi.


"Mau ngancam si Daniz! Awas aja kalau dia sampai luluh sama si Revan!"


"Mengancamnya bagaimana?" tanya Eric, memasang tatap curiga.


Alvin menyeringai penuh makna, membuat Eric menebak sendiri dalam hati. Berbagai pikiran negatif sudah memenuhi otaknya.


Jangan sampai ini anak bikin malu mamanya! gerutu Eric dalam hati.


"Putar arah, Ric!" perintah Alvin sekali lagi.


Mendengkus kesal, Eric terpaksa memutar arah ke apartemen. Padahal mereka sudah ada di depan gerbang masuk kompleks perumahan tempat Alvin tinggal.


Setibanya di bangunan tinggi menjulang itu, Alvin turun dari mobil tanpa permisi. Eric pun hanya menatap sang bos dengan penuh curiga. Satu-satunya hal yang terpikir olehnya hanyalah menghubungi Mama Elvira.


Laki-laki itu merogoh saku blazer dan mengeluarkan ponsel. Cukup lama ia menunggu hingga panggilan terhubung.


"Halo, Tante. Anak Tante yang budiman seantero galaksi Bimasakti lagi ke apartemen Daniza. Cuma berdua!" 


**** 

__ADS_1


__ADS_2