Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Fresh From the "Pengadilan"


__ADS_3

Tubuh Alina bergetar hebat ketika membaca kemarahan yang tergambar jelas di wajah Revan. Selama menjalin hubungan, belum pernah ia melihat Revan semarah ini. Alina harus bermain cantik jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


"Te ... tenang dulu, Rev. Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan," bujuk Alina. "Aku bisa jelaskan!"


"Jelaskan apalagi?" teriak Revan sekali lagi, membuat Alina tersentak. "Mau jelaskan kalau kamu yang membunuh anakku?"


Jatuh sudah air mata Alina. Ia kembali merintih kesakitan akibat cengkeraman Revan di lengannya begitu kuat.


"Bu ... bukan begitu." Wajah Alina terlihat mengiba memohon belas kasih, namun Revan tiada peduli. Di mananya sekarang, Alina tidak lebih dari seorang pembunuh.


"Lalu apa?" Sepasang mata Alina terpejam ketika teriakan Revan terasa memekakkan telinga. "Katakan apa yang sudah kamu lakukan kepada Daniza sampai pendarahan?!"


Alina memberanikan diri menatap kekasihnya itu. Tubuhnya sudah mulai basah oleh peluh. Ragu-ragu, wanita itu pun menjawab, "A-aku masukkan obat ke dalam minumannya."


Detik itu juga Revan merasakan dadanya seperti terhimpit bongkahan batu besar. Bahkan udara di sekitar seolah tak cukup baginya untuk bernapas. Diakui olehnya, bahwa memang sempat tidak menginginkan anak dalam kandungan Daniza atas pengaruh Alina. Tetapi, bagaimana pun juga, itu adalah benihnya, darah dagingnya sendiri.


"Tega kamu, Al! Bisa-bisanya kamu lakukan semua ini tanpa sepengetahuanku!"


"Ta ... tapi Rev."


"Tidak ada tapi-tapian! Lebih baik kamu jelaskan semuanya di kantor polisi saja, pembunuh!"


Tanpa belas kasih, Revan menyeret Alina ke luar kamar. Beberapa kali terdengar suara Alina memohon maaf dan ampun. Tiga orang ART yang ada di rumah itu hanya menjadi penonton. Tak ada yang berani mendekat atau sekedar membantu Alina.


"Maafkan aku, Rev. Tapi bukannya waktu itu kamu juga meminta Daniza menggugurkan kandungannya? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!" Ucapan Alina malah semakin melecut amarah Revan. Kali ini tidak ada ampun untuk Alina. Revan akan menyeretnya ke kantor polisi.


Baru saja Revan membuka pintu, sudah terlihat beberapa orang anggota kepolisian turun dari mobil. Alina kembali gemetar melihat beberapa polisi di depan, sambil bertanya dalam hati apakah Alvin yang sudah melaporkan dirinya.

__ADS_1


"Selama sore, kami kemari untuk menjemput Ibu Alina Yasinta untuk menjalani pemeriksaan di kantor." Salah seorang anggota kepolisian menyerahkan selembar surat. Sejenak, Revan melepas tangan Alina dan membaca surat tersebut.


Benar dugaan Alina, bahwa Alvin sudah melaporkan dirinya kepada pihak berwajib. Wanita itu tergugu, tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi harus menghadapi kemarahan Revan, dan di satu sisi pintu jeruji besi sudah terbuka lebar untuknya.


Alina yang panik segera menggenggam lengan Revan memohon perlindungan.


"Tolong aku, Rev! Aku tidak mau ikut mereka! Aku minta maaf ... aku janji akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan aku."


Namun, segala perkataan Alina sama sekali tak mendapat respon dari Revan. Pria itu hanya menarik napas dalam seolah sedang berusaha mengurai kemarahan.


"Bawa saja dia, Pak!" Revan menunjuk Alina.


"Tidak, Rev! Aku tidak sepenuhnya bersalah. Dengar aku dulu!" Alina masih berusaha membela diri. Ingin melangkah pergi, namun seorang polisi wanita sudah menarik tangannya.


Keributan sempat mewarnai selama beberapa saat karena Alina terus memberontak dan menolak digelandang ke kantor polisi. Revan hanya menatap kepergian Alina dengan wajah kecewa. Ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini. Bahkan kini Revan merasa seperti tidak pantas untuk sekedar meminta maaf kepada Daniza.


*


*


*


"Terima kasih bantuannya selama ini, Kak. Aku sudah banyak merepotkan Kak Alvin," ucap Daniza sesaat setelah tiba di apartemen.


Alvin hanya mengulas senyum tipis. "Tidak apa-apa, Daniz. Aku sama sekali tidak repot."


Untuk calon istri, apa sih yang tidak.

__ADS_1


Daniza berdiri kokoh di ambang pintu. Ingin meminta Alvin untuk pulang, namun rasanya tidak enak. Terlebih apartemen ini memang milik laki-laki itu.


"Ngomong-ngomong, aku tidak diajak masuk?" tanya Alvin, membuat Daniza gelagapan.


"Maaf, Kak. Bukannya tidak boleh, tapi aku sedang sendirian di sini. Santi baru kembali malam nanti. Jadi ...."


"Tidak apa-apa," potong Alvin cepat. Setidaknya ia harus menjadi lelaki pengertian jika mau menarik hati Daniza. "Aku juga mau ke kantor, kok."


"Kalau begitu, aku masuk, ya. Sekali lagi terima kasih bantuannya."


"Sama-sama." Baru saja Daniza akan menekan password pintu, Alvin sudah menarik tangannya. "Oh ya, besok ulang tahun mama. Kamu mau temani aku, kan? Sekalian aku kenalkan dengan keluarga besarku."


"Ulang tahun Ibu Elvira?" Daniza tampak ragu. Memikirkan ulang tahun sang nyonya bos yang sudah pasti digelar mewah dan meriah.


"Iya. Mama minta aku ajak kamu. Besok malam aku jemput, ya. Dandan yang cantik!"


Daniza tidak tahu harus menjawab apa. Menolak pun tidak enak, karena Alvin sudah banyak membantu dirinya.


"Baik."


Alvin menatap wajah Daniza yang baginya terasa seribu kali lebih cantik sejak menyandang status baru.


"Gemesin banget sih, masih fresh from the pengadilan."


Jika Alvin sedang berbunga-bunga, maka di sisi lain ada Eric yang harus menjadi tumbal karena kelakuan sang bos. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi Alvin, namun tak kunjung mendapat jawaban. Padahal satu jam lagi mereka ada pertemuan dengan beberapa klien.


"Bagus! Aku mabuk kerja, sementara kamu mabuk janda!" gerutu Eric.

__ADS_1


****


__ADS_2