
**
**
**
Pagi harinya
Revan sedang mempersiapkan diri untuk menghadiri sidang perceraian dengan Daniza. Hari ini ia berencana akan meminta mediasi agar bisa rujuk dengan wanita yang secara hukum masih berstatus istrinya itu.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, ia segera beranjak keluar kamar. Baru saja membuka pintu, sudah terlihat Alina berdiri dengan memasang wajah cemberut.
"Mau ke mana kamu, Rev?" tanya Alina penuh sandiwara. Padahal ia tahu benar ke mana kekasihnya itu akan pergi.
"Mau ke pengadilan. Hari ini sidang putusan," jawab Revan tanpa basa-basi.
Hanya dengan mendengar jawaban singkat itu Alina sudah dikuasai amarah. Dengan kekuatan penuh, kedua tangannya sontak mendorong dada bidang Revan, hingga lelaki itu mundur beberapa langkah.
"Kamu tidak boleh pergi ke sana!" pekik wanita itu geram.
"Apaan sih kamu, Al! Aku harus ke sana. Minggir!" Revan hendak menerobos keluar, namun Alina menahan dengan cara merentangkan kedua tangan.
"Aku tidak akan biarkan kamu ke sana! Ingat janji kamu kepadaku dulu untuk menceraikan Daniza!" Alina mencoba mengingatkan tentang janji Revan beberapa bulan lalu.
"Itu kesalahan terbesarku, Al! Aku menyesal melakukan itu kepada Daniza. Seharusnya sejak awal aku tidak menipu dia!"
Revan kembali melangkah, namun sekuat tenaga Alina mencoba menghalangi. Tetapi apa daya, tenaganya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Revan. Lelaki itu balas mendorong Alina hingga tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Jangan menghalangiku! Aku sudah lelah menuruti semua keinginanmu. Sekarang aku tidak mau kehilangan Daniza karena kamu lagi!"
"Kamu ini kenapa sebenarnya? Sadar tidak kalau semua yang kamu lakukan ini di luar rencana kita sejak awal?" Wanita itu berteriak saking kesalnya. Bagaimana pun juga mereka sudah melangkah jauh dan pantang untuk mundur.
"Tidak ada rencana kita sejak awal, Al. Semua rencana diatur olehmu, dan aku hanyalah boneka yang selalu diwajibkan menuruti keinginanmu."
"Jadi kamu benar-benar mau rujuk dengan Daniza?"
"Iya. Aku akan menebus semua kesalahanku pada Daniza, kalau perlu mengembalikan semua miliknya yang telah kurebut asal dia mau rujuk," lanjut Revan kemudian.
Ucapan Revan layaknya sebuah pukulan menyakitkan bagi Alina. Tak tahan, wanita itu maju beberapa langkah dan memukul-mukul dada Revan hingga kemejanya sedikit kusut.
"Kamu jahat, Rev! Hanya karena Daniza jadi cantik seperti sekarang kamu mau kembali ke dia dan membuang aku!" lirih Alina. Revan hanya dapat menahan serangan yang diberikan wanita itu.
"Sudahlah, Al! Jangan nge-drama! Lebih baik hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku akan mempertahankan Daniz dan minta maaf untuk semua kesalahanku."
Tinggallah Alina yang masih terduduk di lantai dengan memegangi kakinya yang terasa nyeri. Ia hanya dapat memandangi punggung Revan yang menghilang di balik pintu lift.
"Aku harus segera menghubungi Alvin," gumam Alina sambil merogoh tas miliknya dan mengeluarkan ponsel. Ia harus segera memberi laporan kepada Alvin. Selain tidak rela jika Revan sampai rujuk dengan Daniza, Alina juga takut terhadap ancaman Alvin kemarin, yang akan mengirimnya ke penjara.
"Alvin, ini gawat!" ucap Alina sesaat setelah panggilan terhubung.
Alvin yang sedang menikmati sarapan pagi bersama Erik dan mama Elvira itu refleks menjauhkan ponsel dari telinga.
"Ada apa? Bicara yang benar!" Suara Alina yang terdengar sangat panik membuat Alvin
ikut panik.
__ADS_1
"Revan sedang dalam perjalanan ke pengadilan agama! Aku sudah berusaha mencegah. Tapi dia malah mendorongku sampai jatuh." Ucapan Alina membuat Alvin menghembuskan napas panjang. Benar kata Eric kemarin bahwa Alina sama sekali tidak bisa diandalkan untuk melakukan tugas penting.
Tanpa permisi, Alvin memutus panggilan dan meletakkan ponsel dengan kasar ke meja.
"Eric, siapkan rencana B!"
Eric yang sedang menyeruput kopi dengan nikmat itu langsung tersedak hingga menyembur ke lantai.
"Maksud kamu siapin gorong-gorong?" tanya Eric setelah batuk-batuk akibat tersedak kopi.
"Iyalah, memangnya apa lagi?" jawab Alvin cepat.
Mama Elvira yang mendengar pembicaraan dua lelaki itu hanya mengerutkan dahi dengan tatapan penuh tanya.
"Mau buat apa gorong-gorong?" tanya sang mama sedikit curiga.
"Itu Tante ... si Alvin mau ...." Ucapan Eric terpotong karena langsung dibungkam Alvin dengan telapak tangan.
"Eric mau bikin sumur, Mah!" jawab Alvin. "Ia kan, Ric?"
Alvin mengulas senyum cerah, tetapi kedua bola matanya melotot tajam penuh intimidasi. Akal sehat Eric pun memaksanya untuk menganggukkan kepala. Barulah Alvin melepas tangannya.
"Memang sumurnya buat apa?"
"Buat shooting film Beranak Dalam Sumur!"
Alvin lagi-lagi menjawab, sebelum mulut jujur Eric membocorkan misi rahasia mereka.
__ADS_1
******