
Halo, teman-teman sekalian ....Sebelum lanjut, jangan lupa favoritin karya oke satu ini dulu yaaa.
Dijamin keren
Judul : Married To Stranger
Author : Sensen
Jangan lupa masukin favorit biar ada Notif kalau up.
lanjut ke kisah Bang Mpin
Scroll ke bawah 👇👇👇👇
*
*
Daniza merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia dengan memiliki Alvin di dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, Alvin menjadikan Daniza seperti ratu. Apapun yang diinginkan Daniza akan dipenuhi tanpa berpikir panjang. Semua perlakuan istimewa itu membuat Daniza luluh. Telah habis rasa cinta yang ia miliki untuk hal lain, karena semua sudah menjadi milik Alvin seorang. Terlebih, kejadian beberapa hari lalu di festival balon udara, membuat Daniza menyadari seberapa berharga Alvin baginya.
Empat belas hari masa bulan madu dinikmati Alvin dan Daniza dengan berkunjung ke beberapa kota di Eropa. Selama beberapa hari itu, Alvin mengisi hari-hari Daniza dengan penuh bahagia.
Menikmati keindahan sungai Aare di Kota Bern, mengunjungi Kota Venice dan naik Gondola menyusuri kanal-kanal sempit di antara gedung-gedung tinggi, dan juga menikmati makan malam yang romantis di Kota Praha. Alvin ingin memberikan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan oleh Daniza seumur hidupnya.
Paris adalah kota terakhir yang mereka kunjungi sebelum kembali ke negara asalnya. Keduanya menginap di sebuah hotel mewah dengan fasilitas pemandangan kota paris yang indah. Dari sini, Menara Eiffel terlihat sangat dekat dan indah.
"Kamu ngapain sih, Sayang?" Suara Alvin yang tiba-tiba muncul dari belakang mengejutkan Daniza yang tengah asyik dengan pena dan kertas putih.
__ADS_1
"Jangan lihat, aku malu!" Daniza memeluk buku gambar demi menyembunyikan agar Alvin tak melihat. Ia sedang duduk menghadap jendela dan menikmati pemandangan Kota Paris di malam hari.
"Memang itu apa, sih? Sampai aku nggak boleh lihat? Jangan-jangan kamu lagi selingkuh, ya?" tuduh Alvin, dengan bonus tatapan curiga.
"Sembarangan selingkuh! Aku istri setia, tahu," balas Daniza tak terima.
"Terus itu di tangan kamu apa? Kamu nggak lagi nulis diary tentang laki-laki lain, kan?"
Ingin sekali Daniza menggigit bibir suaminya itu. "Ya ampun, punya suami posesif amat."
"Cemburu kan tandanya sayang." Ia menengadahkan tangan, meminta Daniza menunjukkan buku yang berusaha disembunyikannya.
"Aku kasih lihat tapi jangan diketawain!" ucap Daniza memberi syarat.
Alvin pun menjawab dengan menaikkan dua jari, membuat Daniza membuka buku dan menunjukkan kepada suaminya. Laki-laki itu sempat terkagum melihat sketsa menara Eiffel yang dibuat oleh Daniza.
"Sayang, ini kamu yang buat?" tanya Alvin. "Kamu punya bakat menggambar, ya?"
"Kata siapa? Bagus ini." Alvin meraih buku gambar milik Daniza, kemudian membuka lembar demi lembar. Ada beberapa sketsa wajah dirinya pada buku tersebut.
Sepertinya Alvin salah dengan mengira mengetahui segalanya tentang Daniza. Karena sekarang, ia malah baru tahu bahwa Daniza memiliki hobi menggambar sketsa. "Kenapa nggak jadi pelukis aja?"
"Malu! Itu kan masih jelek," lirih Daniza.
"Bagus, Sayang. Coretan tangan kamu halus untuk orang yang belum pernah ikut kelas seni rupa. Kalau bakat kamu diasah lagi pasti keren."
Mengulas senyum, Daniza berpindah dan duduk di pangkuan suaminya. Kedua tangannya melingkar di leher sang suami. Belakangan ini Daniza lebih agresif saat dekat dengan suaminya. Bahkan kadang meminta jatah duluan.
"Aku mau jadi istri solehot aja untuk kamu." Sambil membenamkan ciuman di bibir.
__ADS_1
Tak menyia-nyiakan kesempatan bagus, Alvin membalas pagutan. "Kalau itu kan wajib, biar aku nggak melirik yang lain."
Sebelah tangan Alvin sudah menyelinap di balik baju. Baru saja keduanya akan memulai adegan pemersatu bangsa, Daniza sudah teringat akan sesuatu.
"Ah, lupa! Aku belum bereskan barang buat berangkat besok." Daniza segera berpindah dari posisinya yang duduk di pangkuan Alvin.
Alvin yang tersadar, ikut bangkit dari duduknya. Menatap Daniza yang sudah merapikan beberapa koper, kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Ia juga baru ingat telah memesan satu set perhiasan untuk dijadikan kejutan bagi Daniza.
"Sayang, aku mau keluar sebentar. Kamu mau ikut?"
"Aku di sini aja, Mas. Mau bereskan barang." Daniza melirik beberapa paper bag belanjaan yang belum dimasukkan ke dalam koper. Ia membeli banyak hadiah untuk Mama Elvira.
"Ya sudah, aku keluar dulu. Pulang nanti aku bantu kamu bereskan semua."
"Iya suamiku, Sayang."
Alvin tertawa kecil mendengar kalimat rayuan manis tersebut. Sekarang Daniza lebih bebas berekspresi dan menunjukkan cintanya. Dan Alvin sangat menyukai Daniza yang agresif seperti ini.
Ketika Alvin melangkah menuju pintu, Daniza menatap punggung suaminya. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh.
"Mas!" panggil Daniza, lalu mendekat dan memeluk suaminya. Sangat erat. Ia bahkan menciumi wajah Alvin berulang-ulang. "Pulangnya jangan lama-lama, ya. Aku merasa aneh kalau jauh dari kamu," bisiknya dengan manja.
"Iya, Sayang. Paling 25 menit doang."
Alvin menyatukan bibir mereka dan segera mengenakan jaket setelahnya. Sementara Daniza terpaku memandangi punggung tegap suaminya yang kemudian menghilang di balik pintu.
"Kenapa tiba-tiba badanku jadi dingin begini?" Daniza memeluk tubuhnya sendiri. Dalam sekejap waktu ia merasa atmosfer udara di kamarnya agak berubah.
Kekosongan dalam hatinya pun semakin terasa nyata.
__ADS_1
...***** ...