Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Kejutan Untuk Kamu!


__ADS_3

Daniza masih terpaku di tempat dengan jantung berdegup cepat. Bikini merah menyala yang baru saja ia kenakan sengaja disembunyikan di balik jubah mandi. Malu rasanya, seumur hidup Daniza baru pertama kali mengenakan pakaian terbuka seperti ini. 


"Sayang, kamu di mana?" Alvin yang sudah masuk ke kamar mandi sejak lima menit lalu memanggil. 


"Iya, tunggu." 


Menarik napas dalam, Daniza mencoba mengurai rasa canggung dan malu yang memenuhi hati. Bukankah Alvin sudah menjadi suaminya? Rasanya tidak masalah jika Daniza mencoba untuk sedikit agresif untuk menyenangkan suaminya. 


Agresif? 


"Aaa!" Rasanya Daniza ingin berteriak saking malunya. 


"Daniz, Sayang! Ke mana, sih? Jangan bilang kamu tidur!" panggil Alvin sekali lagi. 


"Iya, Mas. Tunggu sebentar!" Dengan tubuh yang masih gemetar, Daniza melangkah menuju kamar mandi. 


Baru saja membuka pintu, ia sudah dikejutkan dengan pemandangan di luar sana. Kamar mandi luas nan mewah berdinding kaca transparan itu menawarkan pemandangan gunung es yang sangat indah. 


"Bagus, ya?" Suara Alvin membuyarkan lamunan Daniza. Laki-laki itu tampak sudah duduk manis di dalam kolam air hangat dengan taburan kelopak bunga mawar merah. 


"Ba—gus." Daniza mengulas senyum tipis. Masih dengan memeluk jubah mandi di dadanya. Ia tampak sangat takjub dengan kejutan yang dipersembahkan Alvin untuknya.


"Sini, yuk!" Alvin mengulurkan tangan meminta Daniza mendekat. 


"Iya." 


Baru saja wanita itu akan menjuntaikan kaki ke dalam kolam, Alvin sudah tertawa gemas. "Dibuka dulu jubah mandinya, Sayang." 


Daniza yang masih gugup itu refleks memandangi tubuhnya yang masih terbalut jubah mandi. Hal yang menciptakan semburat merah di pipi. 

__ADS_1


"Hehe ... lupa." Ia mengulas senyum tipis. Kemudian melepas tali jubah mandi dengan gugup. 


Alvin bahkan tak kuasa berkedip memandangi keindahan yang tersaji tepat di depan mata. Lekukan tubuh Daniza yang terbalut kulit putih bersih itu tampak sangat sempurna baginya. 


Kembali mengulurkan tangan, Alvin menarik sang istri untuk duduk tepat di sisinya. "Tidak dingin lagi, kan?" bisik lelaki itu dengan mesra. 


Malu-malu Daniza menjawab dengan gelengan kepala. Mendadak hawa panas terasa merambat ke seluruh tubuh. Terlebih, tangan nakal Alvin mulai menjelajah ke mana-mana. 


"Mas, tangannya tolong kondisikan." 


"Tangannya nggak punya mata sama rem. Jadi nggak bisa berhenti." Sambil menciumi bahu dan punggung. "Balas aja pake sentuh balik di tempat yang sama. Aku nggak akan keberatan." 


Hati Daniza seperti akan melayang saat itu juga. Sekarang laki-laki itu malah meningkatkan keintiman mereka dengan menggerakkan bibir di leher. 


"Kamu nggak punya panu, kan?" 


Alvin menyeringai setelah membisikkan kalimat itu. Suasana romantis yang tercipta seketika membuyar. Daniza pun melayangkan cubitan di dada suaminya itu. 


"Mana buktinya kalau nggak punya panu?" tanya Alvin sedikit curiga, sambil memandangi bagian dada istrinya yang terbalut benda menyerupai kacamata. 


"Lihat, ya. Aku nggak pernah punya panu." Daniza hendak membuka pengait bagian belakang, namun seketika tersadar saat itu juga. "Kamu sengaja mau modus, ya?" 


"Aku kan memang belum pernah lihat bagian itu. Mana kutahu ada panu atau tidak." 


"Dasar kang modus!" 


Alvin terbahak. Dengan cepat menangkap tubuh Daniza yang ingin menghindar. Kemudian menggerakkan jemarinya di perut dan membuat Daniza meledakkan tawa akibat sensasi geli. 


*

__ADS_1


*



Kebahagiaan sepertinya sedang menjadi milik Daniza seorang. Alvin memberinya banyak kejutan indah dan tak terduga hari ini. Berendam di air hangat bersama, makan malam romantis dengan pemandangan malam Kota Bern, dan juga beberapa kejutan lain—yang membuat Daniza merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. 


Daniza tidak pernah menyangka bahwa di balik sosok suaminya yang badung sejak lahir itu, ternyata adalah suami yang sangat romantis dan penyayang. Alvin seolah ingin menunjukkan seberapa berharganya seorang Daniza Amaria baginya. 


Cahaya kembang api menghiasi langit berbintang Kota Bern malam itu sebagai penutup rangkaian kejutan yang dipersiapkan Alvin untuk sang istri. Keduanya sedang berada di rooftop hotel yang malam itu sengaja dipesan khusus oleh Alvin. 


"Kamu suka kejutannya?" 


"Suka sekali," jawab Daniza penuh semangat, lalu membenamkan tubuhnya dalam pelukan sang suami. "Makasih, Mas. Aku sangat bahagia malam ini." 


"Sama-sama, Sayang. Aku senang kalau kamu suka kejutannya." 


Keduanya saling memeluk satu sama lain. Daniza lantas mendongak demi menatap wajah sang suami. "Boleh aku tanya sesuatu?" 


"Apa sih yang tidak untuk istriku ini?" balas Alvin mengeratkan pelukan.


Daniza meresapi hangatnya sentuhan Alvin. Butuh beberapa saat baginya untuk melanjutkan ucapannya. "Di sekeliling kamu ada banyak perempuan yang lebih dari aku. Tapi, kenapa kamu memilih aku?" 


Alvin terkekeh mendengar pertanyaan yang terdengar polos itu. Cukup aneh memang bagi Daniza. Alvin yang sejak dulu merupakan rebutan para gadis justru memilih Daniza yang merupakan gadis culun dan kampungan di mata semua orang. Terlebih, Daniza yang pernah menyandang status janda.


"Karena kamu segalanya bagiku dan aku hanya mencintai kamu. Tidak ada alasan lain." 


Bola mata Daniza tergenang cairan bening. Ia melelehkan air mata saat Alvin membenamkan ciuman di keningnya.


"Kita ke kamar sekarang, yuk!" 

__ADS_1


...****...


__ADS_2