Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Mencegah Revan Ke Persidangan?


__ADS_3

Kehidupan sangat tidak adil bagi seorang wanita bernama Alina Yasinta. Sejak kecil ia merasa hidup dalam bayang-bayang sepupunya sendiri. Jika Daniza termanjakan dengan kehidupan mewah, maka berbeda dengan Alina yang terbiasa dengan kehidupannya serba pas-pasan dan membosankan.


Segala fasilitas yang dimiliki Daniza itulah yang akhirnya menumbuhkan rasa iri di hati Alina, hingga timbul keinginan dalam hati untuk merebut apa yang dimiliki sepupunya itu, dan Revan adalah jembatan untuk meraih kehidupan sempurna yang diimpikannya.


Namun, bukannya bahagia setelah berhasil merebut semua milik Daniza, kehidupan Alina malah semakin dipenuhi masalah. Salah satunya, pertengkaran dengan Revan.


Sekarang wanita cantik itu tengah berada di sebuah salon kecantikan. Hari ini ia akan menemui Revan lagi di kantor untuk meminta kartu kreditnya di aktifkan. Tidak berbelanja membuat hari-harinya terasa hampa.


Setelah memastikan penampilannya sempurna, wanita itu melenggang dengan penuh percaya diri. Setidaknya ia harus tampil cantik di hadapan Revan agar tidak kalah dari Daniza. Beberapa waktu belakangan ini, Revan kerap mengabaikan dirinya karena sibuk mengejar Daniza.


Setibanya di parkiran, Alina hendak membuka pintu mobilnya. Namun, seorang pria tiba-tiba datang menghadang dan merebut kunci mobilnya.


"Kalian siapa?" pekik Alina. Melotot marah kepada seorang pria berbadan besar di hadapannya.


"Jangan banyak tanya, ikut saja kalau mau selamat!"


Alina merasa separuh nyawanya terbang saat itu juga. Sebilah pisau telah berada tepat di sisi kiri perut. Tubuh wanita itu gemetar, ingin berteriak meminta tolong, tetapi ketakutan mengalahkan segalanya. Terlebih lokasi tempatnya berada sedang dalam keadaan sepi.


"Ba-baik, saya akan ikut!" jawabnya terpaksa.


Alina pun dituntun menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Ia yakin yang melakukan ini bukanlah orang sembarangan, melihat dari mobil super mewah yang sekarang mereka tumpangi. Sepanjang perjalanan, ia tak dapat berbuat apa-apa, karena dua pria yang berada satu mobil dengannya tampak sangat menyeramkan.

__ADS_1


Hanya dalam lima belas menit mobil sudah tiba di sebuah restoran mewah. Alina kemudian dibawa ke sebuah ruangan privat. Wanita itu cukup terkejut melihat siapa yang sedang duduk manis dengan bonus tatapan tajam menghujam.


"Alvin?"


Seringai tipis terbit di sudut bibir Alvin yang sialnya terasa sangat menyeramkan bagi Alina. Dalam hatinya seketika bertanya-tanya, mau apa laki-laki itu menjemput paksa dirinya dan membawa ke sebuah restoran.


"Duduk!" perintah Alvin, masih dengan nada dingin.


Alina memberanikan diri melangkah, meskipun keraguan menyergap ke hati. Bagaimana jika pria mengerikan itu ingin mencelakai, atau paling buruk membunuhnya?


"Kenapa kamu bawa saya ke sini?" tanya Alina ragu-ragu sesaat setelah duduk di kursi.


"Itu adalah salah satu bukti bahwa kamu adalah dalang dibalik pendarahan yang dialami Daniza," ungkap Alvin.


Spontan sepasang mata Alina membulat penuh saat melihat video singkat berdurasi 20 detik yang memperlihatkan dirinya baru saja keluar dengan tergesa-gesa dari kontrakan Daniza. Sepertinya video itu diambil dari CCTV salah satu tetangga Daniza. Dengan gerakan sangat cepat, Alina menghapus video tersebut.


Membuat Alvin terkekeh. "Itu hanya salinan. Kamu hapus pun tidak akan bisa menyelamatkan kamu dari jeratan hukum. Lagi pula, sidik jari di gelas minuman Daniza pasti milik kamu, kan?"


Tubuh Alina semakin gemetar. Untuk sekedar menatap mata Alvin pun tak berani. Sekarang ia harus memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan dirinya. Satu hal yang ia sesali, mengapa begitu ceroboh dan mengira tidak akan ada yang tahu tentang perbuatannya.


"Apa yang kamu inginkan dari saya?" Alina pikir, Alvin pasti menginginkan sesuatu darinya. Jika tidak, pria itu pasti sudah menjebloskannya ke penjara.

__ADS_1


"Saya mau membuat kesepakatan dengan kamu," jawab Alvin singkat.


"Kesepakatan? Kesepakatan apa?"


Sudut bibir Alvin kembali membentuk senyuman tipis. Tidak ada sikap ramah atau sekedar basa-basi meskipun sosok yang duduk di hadapannya adalah seorang wanita.


"Besok sidang putusan perceraian Daniza dengan Revan. Saya mau kamu cegah Revan untuk datang ke persidangan itu dengan cara apapun. Kalau tidak, saya pastikan kamu akan mendekam dalam waktu yang lama di penjara," ancam Alvin.


"Hanya itu?" tanya Alina ragu-ragu.


"Untuk sekarang saya hanya butuh itu dari kamu. Lakukan apapun untuk mencegah Revan ke persidangan, atau kamu akan tahu akibatnya."


Alina tergugu. Tanpa dapat dikendalikan, buruknya kehidupan di balik jeruji besi terbayang di benaknya. Demi apapun ia tak akan pernah sudi jika harus menghuni tempat yang menyerupai neraka itu, meskipun hanya untuk satu menit.


"Ba-baik, saya akan berusaha mencegah Revan untuk ke sana. Tapi apa ada jaminan kalau kamu tidak akan melaporkan saya?" jawab Alina setelah beberapa saat berpikir. Setidaknya ia harus punya pegangan untuk memastikan posisinya aman.


"Masih berani meminta rupanya." Tatapan menghujam kembali diarahkan Alvin kepada Alina. "Saya bisa saja menjebloskan kamu ke penjara sekarang juga. Tapi tidak saya lakukan karena saya masih butuh tenaga kamu."


Bibir Alina terkatup rapat. Tangannya saling meremas di bawah meja. Pria di hadapannya itu terlampau mengerikan untuk sekelas CEO. Bukankah ia lebih terlihat seperti mafia berdarah dingin?


...*****...

__ADS_1


__ADS_2