
Mobil melaju dengan kecepatan sedang pagi itu. Sejak meninggalkan rumah beberapa menit lalu, belum ada pembicaraan antara Alvin dan Eric. Melirik lelaki galau di sebelah, Eric berdecak dalam hati melihat betapa menyedihkan kisah cinta Alvin. Mungkin ia harus memberi sedikit wejangan kepada sahabatnya itu.
"Vin ...," panggil Eric singkat, tanpa menoleh.
"Hem ...," balas Alvin tak kalah singkat.
"Aku rasa ucapan Tante Elvira tadi itu ada benarnya loh."
"Yang mana?" tanya Alvin, berpura-pura amnesia. Padahal ia tahu betul ke mana arah pembicaraan Eric.
"Yang minta kamu menjauh dulu dari Daniza. Itu saran yang bagus sebenarnya. Terkadang, sesuatu itu baru berharga saat sudah kehilangan."
Pandangan Alvin langsung mengarah kepada Eric. "Tidak usah drama kayak lagu dangdut."
"Tapi memang benar kan. Kalau sudah tiada baru terasa."
Pengucapan Eric yang setengah bernyanyi ala raja dangdut membuat Alvin kesal setengah mati. Mungkin Eric akan berakhir di gorong-gorong jika tidak ingat lelaki itu sudah dianggapnya saudara sendiri. Eric dan mama selalu saja memberinya pilihan sulit. Mana sanggup Alvin menjauhi Daniza. Beberapa hari belakangan ini saja ia hampir gila. Masih untung ada rekaman CCTV di apartemen, sehingga kerinduan Alvin dapat sedikit diminimalisir. Tapi jika dipikir lebih jauh, ucapan Eric dan mama memang ada benarnya.
"Kamu benar juga sih." Alvin menyandarkan kepala, sambil menatap nanar jalan di depan.
"Lagi pula jodoh tidak akan ke mana. Kamu pernah terpisah dari Daniza selama bertahun-tahun dan bertemu lagi dalam keadaan yang tepat. Anggap saja ini sinyal jodoh dari Dewa Cupid."
Kening Alvin berkerut mendengar nama asing yang disebut Eric.
"Dewa Cupid itu siapa, Bro?"
"Nama lain Dewa Amor, Vin. Gitu aja nggak tahu!"
Alvin mengangguk mengerti. "Terus apa buktinya kalau ini sinyal dari Dewa Cupid?"
"Bukti paling kongkrit Daniz sudah menikah dengan Revan saja bisa kamu bikin cerai." Eric merapatkan rahangnya saat menjawab. Tingkah Alvin benar-benar di luar akal sehat manusia normal.
__ADS_1
"Sialan kamu!"
Alvin kembali bersandar. Memandangi jalan-jalan yang dilewati dengan pikiran dipenuhi bayangan Daniza. Sepertinya ia akan menjalankan ide Eric dan mama.
*
*
*
Dua minggu berlalu.
Ternyata menyuruh Alvin menjauhinya bukan hal yang tepat untuk dilakukan.
Bukannya lega, sekarang Daniza malah merasa dirundung perasaan bersalah yang semakin berat. Ia merasa terbebani oleh perbuatannya sendiri.
Daniza selalu mengingat bagaimana pertengkarannya dengan Alvin kala itu. Bahkan ciuman kasar yang dilakukan Alvin, rasanya seperti baru saja dilakukan beberapa jam lalu.
"Kenapa rasanya sakit begini?" Daniza bergumam sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.
Di jendela besar apartemen inilah Daniza kerap mengusir sepi. Sebelum beranjak tidur menikmati pemandangan kota yang tampak indah dengan lampu-lampu, ditambah dengan kendaraan berlalu lalang. Tetapi anehnya, Daniza malah merasakan kehampaan dalam hatinya.
"Apa Kak Alvin benar-benar marah?" Ia bermonolog.
Entah sudah berapa kali dalam seharian ini ia melirik ponsel miliknya. Tetapi kosong, tak ada pesan masuk atau sekedar panggilan tak terjawab. Daniza tidak tahu mengapa rasa bersalah ini menyergap begitu kuat.
"Mbak Daniza, ini susunya?" Panggilan Santi membuat Daniza menoleh sekilas. Kemudian membalikkan kembali tubuhnya ke jendela.
"Terima kasih, Santi. Kamu boleh istirahat."
Santi meletakkan segelas susu ke meja. Ia hanya menatap punggung majikannya dengan raut wajah sedih. Sejak kedatangan Mama Elvira, Daniza banyak melamun dan kehilangan selera makan. Sekarang tubuhnya menjadi lebih kurus dengan pipi tirus.
__ADS_1
Selama dua minggu ini, jarak membentang di antara mereka. Mungkin saja Alvin sudah lelah dan jenuh. Perlahan tapi pasti, rasa bersalah menyusup semakin dalam ke hati Daniza. Ia benar-benar telah melukai perasaan laki-laki yang mencintainya dengan setulus hati itu.
"Kalau begitu, Mbak Daniz cepat tidur, ya. Nanti bisa tambah sakit. Mbak Daniz kan lagi demam," ucap Santi khawatir. Apalagi setelah melihat wajah Daniza yang pucat bak mayat hidup.
Tiadanya jawaban dari Daniza membuat wanita itu memilih keluar kamar. Ia harus melaporkan ini kepada Alvin.
Tetapi baru akan menutup pintu, sudah terdengar suara benda seperti terjatuh dari dalam kamar. Santi buru-buru membuka pintu lebar. Jantungnya berdentum cepat tatkala melihat Daniza sudah terkapar di lantai.
"Mbak Daniza!" teriak Santi. Tubuhnya melesat cepat menghampiri Daniza yang sudah tergeletak di lantai. "Mbak, bangun, Mbak!"
Santi semakin panik. Namun, akal sehatnya menuntun untuk mengambil minyak kayu putih untuk merangsang indra penciuman Daniza. Dengan telaten Santi mengoleskan cairan pekat itu ke bagian hidung. Tetapi sayang, tak ada respon apapun.
Untuk memindahkan Daniza ke tempat tidur pun, ia tak akan mampu. Satu-satunya yang dapat Santi lakukan adalah segera menghubungi Alvin untuk mendapat pertolongan.
"Den Alvin!" pekik Santi sesaat setelah panggilan terhubung.
"Iya, ada apa, Santi?" jawab Alvin cepat. Suara Santi yang terdengar panik membuatnya ikut panik. Ia telah menebak telah terjadi sesuatu terhadap Daniza.
"Anu ... Ini, Den! Mbak Daniz ... Mbak Daniz ...."
"Daniza kenapa? Bicara yang jelas!" Tanpa sadar Alvin membentak. Pikirannya sudah diisi dengan hal negatif. Salah satunya kemungkinan Daniza kabur dari apartemen.
"Mbak Daniz pingsan, Den. Saya sudah coba oles minyak kayu putih ke hidungnya, tapi Mbak Daniz belum sadar jug—"
Tut ... Tut ...
Belum selesai ucapan Santi, sudah terdengar nada panggilan terputus.
Alvin yang malam itu hanya mengenakan setelah piyama, bergegas memakai sandal rumahan. Lalu berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Mendengar Daniza demam saja bisa membuatnya kalang kabut, apalagi jika sampai pingsan. Rasanya Alvin kehilangan separuh tenaganya.
"Mau ke mana kamu, Vin?" Suara mama yang tiba-tiba muncul dalam keheningan membuat langkah Alvin terhenti.
__ADS_1
*****