Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Resah Dan Gelisah


__ADS_3

"Bulu babi kepalamu!" Alvin menyambar tak terima. Dari intonasinya, Eric dapat membaca bahwa Alvin sangat kesal melihat sang mama bersama laki-laki lain. Tetapi, bukan hanya Alvin yang merasa udara sekitar seperti berkurang, karena Eric pun merasakan hal yang sama.


"Mungkin itu teman lama Mama, Mas." Daniza mengelus pundak suaminya. Sebab karena sedari tadi ia terus melihat ke arah sana. Posisi duduk Mama Elvira membelakangi meja mereka, sehingga sama sekali tak menyadari ada apa di belakang sana.


"Kalau teman lama ngapain makan berdua-duaan. Mereka tidak tahu kalau berduaan itu yang ketiga pasti setan?" Alvin menggerutu sambil mencengkram sendok hingga bengkok.


"Benar, kita harus melindungi mama dari om-om durian seperti dia!" Eric menambahkan.


"Kalian tenang dulu! Jangan sampai kalian membuat masalah dan malah bikin Tante Elvira malu!" Mila mencoba mengingatkan. Sebab belum jelas apakah makhluk nyentrik yang kata Eric memiliki rambut jabrik bulu babi itu memang sedang mendekati mama mereka.


Baru saja Alvin dan Eric merasa sedikit tenang, tiba-tiba si om-om sialan ini mengusap sudut bibir Mama Elvira menggunakan tissue. Semua yang melihat dibuat membelalak seketika. Terutama Alvin dan Eric yang sudah seperti gunung berapi yang siap mengeluarkan magma panas.


Tangan pria itu terkepal. Napasnya naik turun seperti tukang becak nanjak jembatan.


"Oow!" Daniza terpaku di tempat. Bola matanya memindai Alvin dan Eric bergantian.


"Sepertinya bukan sekedar teman lama. Memang ada teman lama sampai main elap-elapan bibir segala?" Suara Eric mewakili pikiran Alvin. Kejadian barusan membuat keduanya merasa semakin sesak. Seolah udara dalam restoran tak cukup untuk bernapas.


"Bawa tabung oksigen nggak, Mil? Kok rasanya sesak?" celetuk Eric sambil mengusap dada Alvin. Padahal dirinya pun merasakan sesak yang sama.


"Aku cuma bawa stetoskop di dalam tas."


"Ya udah sana, periksa si om-om itu. Kalau perlu bikin jantungnya berhenti."


Mila hanya menghembuskan napas panjang mendengar ucapan Eric.


Alvin kemudian menyandarkan punggung sambil menatap Eric. "Kamu tahu 'kan, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Tahu."


Mendengar itu, Daniza menatap cemas. Dari gelagat keduanya, pasti akan ada hal buruk yang akan mereka lakukan. "Kalian mau ngapain?"


"Tenang saja Daniza, ini urusan anak laki-laki!" sahut Eric.


"Kalian mending belanja! Nikmati waktu kalian yang berharga, dan biarkan urusan ini menjadi urusan kami."


"Tapi Mas—"


"Sttt!" Alvin meletakkan jari telunjuk di depan hidung Daniza. "Percaya sama aku, aku cuma mau melindungi Mama dari om-om hidung belalang itu.


"Belang kali, Mas!" sahut Daniza.


"Iya, hidung belalang berkepala landak laut!" Alvin menambahkan julukan pemberian Eric tadi.


Akhirnya Alvin dan Eric mengintai dari jarak aman setelah berhasil memaksa Daniza dan Milla pergi berbelanja. Daniza sempat mencegah sang suami, karena bagaimanapun juga itu adalah privasi Mama Elvira. Namun, tak ada yang dapat mencegah dua anak yang sejatinya sangat posesif terhadap sang mama itu.


"Cepat sedikit bisa tidak!" Alvin menggerutu kesal. Entah mengapa ia merasa mobil itu berjalan seperti kelomang anak SD. Lemot dan sebentar-bentar berhenti.


"Sabar Oncom! Tadi 'kan kena lampu merah," gerutu Eric tidak terima.


"Gas full, Ric! Takut mereka tidak terkejar!"


"Makannya diam! Jangan ganggu konsentrasiku." Eric mulai menaikkan laju mobilnya. Setelah melakukan adegan salip-menyalip hingga nyaris terserempet truk pengangkut ayam, perlahan mereka mulai mendekat, dan kini mobil Eric berada tepat di belakang mobil mewah si om itu.


"Ah, sia! Kenapa mobil itu menggunakan kaca hitam. Aku 'kan jadi tidak bisa lihat apa yang terjadi di dalam. Bagaimana kalau mama kita sampai diapa-apain?" gerutu Eric cemas.

__ADS_1


Alvin menoleh sekilas. "Berani macam-macam sama mama aku jadiin kutang itu om-om!"


"Kuyang, Vin!" maki Eric gemas.


Menarik napas dalam-dalam, Alvin melirik mobil di depan sambil membaca mantra. "Kira-kira mengurung orang tua macam si om di gorong-gorong, dosa nggak ya?"


"Selama itu untuk melindungi mama, kayaknya bukan dosa, Vin!"


"Ya sudah, ikuti terus saja! Kita lihat mau ke mana dia membawa mama!" perintah Alvin. Lelaki itu melempar botol air mineral kosong di tangannya ke kursi belakang. Ia semakin merasa udara di dalam mobil itu sepanas hatinya saat ini.


"Vin, kok mereka belok ke hotel?"


Di titik ini Eric semakin gusar. Jangan tanya ekspresi Alvin sekarang seperti apa. Jika yang menyetir adalah dirinya, sudah dipastikan mobil yang ada di depannya akan hancur ditabrak olehnya.


Mobil di depan sudah terparkir. Seorang sopir turun lebih dulu dan membukakan pintu. Sementara Alvin dan Eric masih mengawasi dari jarak aman. Mama Elvira dan si om tampak menuju lobi.


"Sesak dadaku, Ric!" ucap Alvin sambil menarik napas menahan amarah.


Eric yang melihat sang kakak kesulitan bernapas lantas mencoba sedikit menenangkan.


"Tenang, Vin. Tarik napas dalam, hembuskan. Awas ketubannya pecah!"


Alvin mengikuti arahan Eric. Namun, ia semakin merasakan sesak ketika melihat Mama Elvira begitu mudahnya masuk ke hotel dengan om tadi.


"Masih susah napas, Ric."


"Ya sudah, sini aku tuntun dua kalimat syahadat saja, biar kamu bisa istirahat dengan tenang."

__ADS_1


Ucapan Eric malah membuat Alvin semakin berang.


...****...


__ADS_2