Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonchap 13 - Bebas Bakteri


__ADS_3

"Permisi, Pak, bayinya akan segera kami bawa ke ruang bayi. Kalau keluarga ingin melihat, kami beri waktu sepuluh menit," kata sang perawat wanita.


Alvin mengangguk. Dengan dibantu perawat ia membaringkan kembali bayi perempuannya ke dalam box bayi. Kemudian keluar dari ruangan.


"Vin, bagaimana Daniza dan anak-anak?" Mama Elvira segera menyambar setelah Alvin membuka pintu.


"Daniza belum sadar, Mah. Untuk sekarang mungkin akan dipindahkan ke ruang ICU."


Mama Elvira kembali memeluk Alvin dengan berurai air mata.


"Daniza wanita yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja."


"Iya, Mah." Alvin melirik Om Jabrik yang masih setia menemani mereka. "Makasih bantuannya, Om. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau Om tidak ada malam ini."


"Sama-sama, Vin. Jangan sungkan."


Setelahnya Alvin menatap sepasang pengantin baru yang berdiri tepat di sisinya. Rasa bersalah timbul di hati Alvin, mengingat malam ini seharusnya dilewati Eric dan Mila dengan penuh kebahagiaan.


"Ric, Mila, maaf ya, kejadian ini mengganggu hari bahagia kalian."


Eric menepuk bahu kakaknya itu. "Jangan bicara begitu. Kita semua keluarga. Daniza dan anak-anak yang terpenting sekarang. Jangan pikirkan kami dulu, waktu masih panjang."

__ADS_1


"Oh ya, bagaimana keadaan si kembar?" sambung Mila.


"Tadi kata suster anak-anak akan dipindahkan ke ruang bayi. Kita dikasih waktu sepuluh menit untuk lihat mereka."


Mama Elvira dan Mila menyeka air mata. Mereka kemudian masuk untuk melihat dua malaikat kecil yang baru saja dikeluarkan dari ruang operasi. Mama Elvira, Eric dan Mila saling berebut untuk melihat bayi mungil itu. Membuat ruangan itu seketika penuh dengan suasana haru.


Kedua bayi itu tampak sehat dan menggemaskan. Ada perpaduan wajah Daniza dan Alvin di sana, tetapi jika dilihat sekilas, raut wajah bayi perempuannya sangat mirip dengan Mama Elvira.


"Uh, lucunya cucu oma. Yang sehat ya, Sayang. Trus kita pulang ke rumah," ucap Mama Elvira sambil menciumi pipi cucunya.


...****...


"Mama sama Mila pulang saja, ya. Biar aku sama Alvin yang jaga Daniza di sini. Kalian pasti capek malam ini," ucap Eric.


"Eric benar, Mah. Kalian pulang dulu dan istirahat. Kalau mau ke sini besok pagi saja."


"Ya sudah, Nak. Jaga Daniza, ya. Kalau ada apa-apa cepat kabari mama."


"Iya, Mah," jawab Eric. Lalu melirik Om Jabrik. "Om, boleh ngerepotin sekali lagi? Tolong antar mama sama Mila pulang."


"Sama sekali tidak repot, kok. Nanti biar om yang antar mereka pulang."

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih bantuannya, Om," tambah Alvin.


Entah dorongan dari mana, ia memeluk Om Agung. Malam ini pandangannya tentang Om Agung berubah 180 derajat. Ia dapat melihat ketulusan Om Agung terhadap Mama Elvira.


Beberapa menit kemudian, Om Agung, Mama Elvira dan Mila berpamitan. Meninggalkan Alvin berdua dengan Eric.


Keduanya lantas duduk saling bersisian di depan ruang ICU. Alvin menyandarkan punggungnya di kursi. Menghela napas panjang. Setidaknya sekarang ia merasa lebih baik.


"Ric ...."


"Hemm."


"Apa kita setuju aja dengan hubungan mama dan Om Jabrik, ya? Kayaknya Om Jabrik itu beneran sayang sama mama."


Eric melirik kakaknya itu. Ia tersenyum tipis. "Aku sudah ngasih lampu hijau sejak lama, loh. Kamu yang ngasih lampu merah. Kalau aku lihat, si om itu serius sama mama."


"Tapi aku takut mama sakit hati lagi."


"Kamu tenang saja, Vin. Om Jabrik itu sudah terbukti secara klinis bebas bakteri jahat. Mama pasti aman." Eric menjeda ucapannya dengan tarikan napas. "Lagian kalau dia berani macam-macam sama mama, kita angkut dia ke gorong-gorong."


Secara spontan tawa menyembur begitu saja dari bibir Alvin. Membayangkan mengikat Om Jabrik ke gorong-gorong. Ia baru menyadari betapa bandel dirinya di masa lalu.

__ADS_1


"Ketahuan mama bisa log out nyawa kita. Auto pindah alam."


...*****...


__ADS_2