Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Mengapa Dia Memuji Dokter Mila?


__ADS_3

Sontak Alvin terperangah. "Memangnya sakit perutmu separah itu sampai harus menghubungi rumah sakit?"


Sebenarnya rumah sakit hanyalah alasan Daniza semata demi mendapatkan sedikit perhatian. Hatinya belum rela jika Alvin pergi secepat ini setelah berminggu-minggu tidak bertemu. Karena itulah ia sengaja menyimpulkan kemungkinan terburuk dengan menyebut rumah sakit.


"Aku tidak tahu, Kak. Tapi kadang perutku sakit sekali seperti ada yang melilit." Daniza mengelus perut bagian kiri. Hatinya menjerit berharap Alvin mendekat lalu mengelus bagian perutnya seperti yang dilakukan Dokter Mila tadi. Namun, bukannya melakukan apa yang diharapkan Daniza, Alvin malah beranjak menuju meja.


"Kalau begitu minum obat dulu saja." Alvin memberikan beberapa obat yang diresepkan Dokter Mila. "Tapi ini cuma pereda demam sama sakit kepala. Mila tidak resepkan obat sakit perut karena tadi katanya tidak begitu parah."


"Tadinya memang tidak terlalu sakit. Tapi sekarang sakit!"


"Ya sudah, aku akan hubungi Mila biar dia ke sini lagi memeriksamu."


"Tidak usah!" Daniza menolak cepat. Meminta Dokter Mila datang sama saja dengan mengulang kejadian tadi di mana dirinya kepanasan melihat kedekatan Alvin dengan wanita itu. "Memangnya Kak Alvin punya hubungan apa dengan Dokter Mila? Aku lihat cukup dekat."


"Kami memang cukup dekat. Mila itu teman lamaku, dulu kuliah di tempat yang sama. Kalau Mama sakit, aku juga minta dia yang datang."


"Sedekat itu, ya?" lirih Daniza.


"Lumayan. Dia wanita yang sangat baik, sopan, dan ramah. Mama juga suka," puji Alvin.


Kepercayaan diri Daniza semakin luntur mendengar berbagai pujian itu. Jika dibandingkan, dirinya memang kalah jauh dari Dokter Mila. Apalagi Mama Elvira juga menyukainya. Daniza yakin Dokter Mila adalah menantu idaman Mama Elvira.


"Oh ya, sekarang minum obat, ya. Aku juga mau pulang."


"Aku tidak mau minum obatnya!" pekik Daniza. Hampir menangis sebab hatinya seperti ditusuk ribuan jarum. "Lebih baik Kak Alvin pulang saja!"


Alvin menyeringai. Sepertinya apa yang diucapkan Mila memang benar adanya. Daniza sedang melakukan drama pura-pura sakit demi mendapat perhatian. Alvin pasti sudah bersorak kegirangan jika tidak ingat sedang memainkan peran sebagai lelaki tidak peka.

__ADS_1


"Terus kamu maunya bagaimana? Kalau tidak minum obat lama sembuhnya."


"Biar saja. Kak Alvin juga tidak peduli, kan?" Daniza menutupi kepalanya dengan bantal. Entah mengapa tingkahnya malah terlihat menggemaskan di mata Alvin.


Kenapa dia lucu sekali saat sedang ingin diperhatikan? ucap Alvin dalam hati.


"Ya sudah, aku akan pulang. Kamu istirahat, ya. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku."


Semakin teriris saja hati Daniza. Ingin rasanya memukul Alvin dengan bantal.


Tanpa menunggu lagi Alvin beranjak keluar kamar meninggalkan Daniza yang masih meringkuk di bawah selimut.


Daniza pun memilih duduk bersandar di tempat tidur. Otaknya seketika bekerja mencari alasan agar Alvin jangan sampai pergi.


"Kenapa hatiku sakit sekali," lirih Daniza, sembari menutup pintu yang tertutup rapat.


"Kenapa belum pulang?" tanya wanita itu kikuk.


"Aku haus," jawab Alvin datar.


"Oh!" Daniza membalas tak kalah singkat. Ia berjalan merambat menuju kamar mandi. Langkahnya yang lunglai sukses membuat Alvin khawatir.


"Bisa jalan sendiri, tidak?" Pertahanan Alvin untuk menjadi manusia dingin hancur berantakan karena dirinya sekarang justru mendekat ke arah Daniza dan menopang tubuh lemahnya.


"Aku bisa jalan sendiri kalau cuma untuk ke kamar mandi."


"Bukannya di dalam ada kamar mandi, ya? Kenapa harus keluar kalau cuma mau ke kamar mandi?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Daniza kehilangan akal. Tetapi, otaknya cepat-cepat memikirkan alasan. "Terserah aku mau ke kamar mandi yang mana!"


Alvin hanya mengangguk. Sepertinya Daniza masih dalam mode kesal.


"Sini aku bantu!" Akhirnya, Alvin menyerah. Ia membantu Daniza berjalan ke kamar mandi. Persetan Daniza pura-pura atau tidak, yang jelas Alvin tidak tega melihat Daniza berjalan lunglai seperti itu. "Sekalian mau ditemani, tidak?"


"Tidak! Kak Alvin langsung pulang saja!"


Daniza langsung menutup pintu kamar mandi dan duduk di atas closet tanpa mau mendengar jawaban Alvin. Bahkan ia sempat berencana berlama-lama di dalam toilet agar Alvin semakin khawatir terhadapnya.


"Kamu benar-benar memalukan, Daniza! Untuk apa melakukan semua ini?"


"Kak Alvin pasti sudah bosan denganku sampai secuek ini sekarang."


Bukankah ada Dokter Mila yang cantik dan sempurna? Dia punya pekerjaan yang bagus. Ibu Elvira dan keluarga yang lain pasti mendukung kalau Kak Alvin menikah dengannya. Kenapa memikirkan itu saja rasanya sakit begini?"


Selama beberapa saat ia merenung seorang diri. Daniza tidak tahu ada apa dengan hatinya. Mengapa sampai rela mempermalukan diri sendiri dengan mendramatisir sakitnya demi mendapatkan perhatian Alvin.


Mengapa ada rasa tidak rela jika Alvin meninggalkannya malam ini?


Mengapa hatinya terasa panas melihat Alvin dekat dengan wanita lain?


Dan mengapa hatinya seperti teriris mendengar Alvin memuji wanita lain?


Daniza baru menyadari ada perasaan berbeda yang dimilikinya untuk Alvin. Tanpa terasa air mata meleleh di pipi.


"Aku mencintai Kak Alvin?"

__ADS_1


****


__ADS_2