Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonus Yang Banyak!


__ADS_3

Mobil mewah milik Alvin berhenti di depan kantor. Pria itu berjalan dengan gagah menuju pintu masuk. Tiga orang petugas keamanan langsung menyambut sang bos penuh hormat.


"Selamat sore, Pak!"


"Sore," jawab Alvin singkat diiringi senyum tipis. Tampak sangat berwibawa dan berkuasa tentunya.


Pria dengan tinggi badan 180 cm itu segera menuju lift khusus yang akan membawanya ke ruang teratas kantor. Baru memasuki ruangan, tatapan menghujam Eric menjadi sambutan pertama bagi Alvin.


"Maaf, agak telat!" ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Agak telat?" balas Eric sambil menatap jam.


"Di jalan macet, Ric."


Alvin melirik beberapa berkas yang menjadi bahan rapat yang sudah tersusun rapi di meja. Ah, asisten pribadi satu ini memang selalu dapat diandalkan. Alvin memang tidak salah memilih teman, tetapi mungkin Eric lah yang salah dalam memilih teman dan bos.


"Oh ya ... Bagaimana shooting film beranak dalam sumurnya?" Alvin terkekeh setelah mengajukan pertanyaan menyebalkan itu.


"Sialan bener ini bos satu!" maki Eric dalam hati. Ia menarik napas dalam-dalam sambil membenarkan posisi dasi yang sudah miring. Lihat saja, ia akan membalas Alvin dengan telak.


"Lancar tanpa hambatan. Lumayan buat bahan laporan ke Baginda Ratu."


Mendadak tawa Alvin menghilang saat itu. juga. Suasana kantor pun terasa horor baginya. Sadar sedang berada di bawah ancaman, pria itu mengulas senyum ramah.

__ADS_1


"Sabar, Ric. Orang sabar jodohnya dekat. Nanti aku transfer bonus ke rekening kamu buat modal kencan. Kamu tinggal sebut nominal yang kamu inginkan." Bonus adalah jalan pintas bagi Alvin saat sedang kepepet. Eric sedikit menyesal mengapa tidak sejak dulu memanfaatkan titik kelemahan sang bos.


"Yakin tinggal sebut nominal?" tanya Eric, disusul anggukan mantap oleh Alvin.


"Karena kamu sudah bekerja keras hari ini, jadi kamu boleh minta bonus berapapun."


Tentu saja mendengar kata bonus membuat mata Eric hijau. Obsesi lamanya mungkin dapat segera terwujud dengan memanfaatkan keadaan ini. Saat dalam keadaan terjepit, Alvin akan sanggup melakukan apapun tanpa pikir panjang.


"Vin, harga tanah kosong di belakang sekolah kita itu berapaan, ya?"


Lupakan harga diri Eric yang setinggi Himalaya itu. Ia sudah tidak tahan dengan gorong-gorong sialan yang selalu membuatnya repot.


*


*


*


Menjadi wanita ternyata tak semudah yang Daniza bayangkan. Semenjak memutuskan untuk glowing, sekarang Daniza harus ekstra belajar memilih fashion yang pas dengan wajah serta postur tubuhnya. Ia juga mulai bisa berdandan tipis-tipis, tapi untuk acara-acara penting, Daniza masih harus pergi ke salon.


Pukul lima sore dia sudah harus datang untuk melakukan reservasi. Setelah berdandan sekitar dua jam lebih, akhirnya Daniza bisa melihat perubahan dirinya yang semakin hari semakin sempurna.


Mulai sekarang Daniza akan menjadi wanita yang percaya diri. Ia tidak mau dianggap Daniza yang culun dan kampungan seperti dulu.

__ADS_1


Lace dress berwarna navy menjadi pilihan Daniza malam ini. Warna gelap menyerupai langit pada malam hari itu memancarkan kecantikan sempurna yang terbalut kulit putih mulus.


Daniza memandangi pantulan dirinya di cermin. Make up natural membuat wajahnya semakin cantik memesona layaknya gadis remaja. Jika melihat ke masa lalu dan membandingkan dengan Daniza yang sekarang, mungkin tidak akan ada yang percaya bahwa Daniza dulu adalah gadis culun yang kerap menjadi korban pembullyan dari orang-orang. Bahkan hanya karena penampilan fisik yang tak menarik sampai Revan tega mengkhianati dirinya dengan Alina.


"Sudah siap?" Sapaan Alvin membuyarkan lamunan Daniza. Wanita itu menoleh seketika. Alvin tampak rapi dengan kemeja berwarna senada dengan dress yang digunakan Daniza.


Untuk beberapa saat, Alvin terpaku memandangi sosok di hadapannya. Janda yang kata Alvin fresh from the pengadilan itu tampak memesona. Tidak salah kalau Alvin jatuh hati sejak lama


"Sangat cantik, kayak bidadari yang fresh from the sky," batin Alvin memuji.


Menyadari Alvin menatapnya tanpa berkedip, Daniza menundukkan pandangan, malu. Dan diakui Daniza dalam hati, tatapan Alvin yang hangat membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Sudah, Kak."


"Kita jalan sekarang, yuk! Sebelum sapu Mamamia flying to the sky."


Daniza mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi tak menyemburkan tawa. Mulut Alvin yang seperti mobil rem blong itu selalu saja mengeluarkan kalimat aneh nan menggemaskan.


Alvin menggandeng tangan Daniza tanpa ragu. Membuatnya merasakan kehangatan yang terasa meledakkan hati. Sebuah genggaman yang seolah sanggup menjelaskan bahwa Daniza adalah miliknya seorang.


"Have a nice day, Mpin!" ucap seluruh reader tanpa terkecuali.


...****...

__ADS_1


__ADS_2